Polri Perkuat Penanganan Karhutla di Kalteng dengan Teknologi dan Rekayasa Tata Air Gambut
Palangka Raya – Polri memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dengan mengandalkan teknologi deteksi dini, kendaraan khusus, peralatan pemadaman, serta rekayasa tata air gambut. Penguatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan personel dalam menjangkau titik api dan mengendalikan kebakaran di berbagai kondisi medan.
Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menyampaikan hal itu saat mengecek kesiapan personel beserta sarana dan prasarana penanganan karhutla di sejumlah pos di Kalimantan Tengah. Pemeriksaan tersebut mencakup kesiapan kendaraan operasional, perangkat pemantauan, peralatan pemadaman, hingga infrastruktur mitigasi yang digunakan untuk menjaga kondisi lahan gambut.
Polri Kerahkan Kendaraan Khusus untuk Menjangkau Titik Api
Dalam operasi penanganan karhutla, Polri mengerahkan berbagai jenis kendaraan yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Armada tersebut meliputi kendaraan double cabin, kendaraan AWC, kendaraan pemadam kebakaran, kendaraan tactical karhutla, kendaraan Komodo, sepeda motor yang telah dimodifikasi, hingga kendaraan ATV.
Keberadaan kendaraan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas personel dan distribusi peralatan menuju lokasi kebakaran. Medan yang sulit dijangkau, terutama di area yang terdampak asap atau memiliki kondisi lahan tertentu, membutuhkan dukungan kendaraan dengan kemampuan operasional yang beragam.
Drone Thermal untuk Memperkuat Deteksi Dini
Selain mengandalkan pemantauan secara langsung, Polri memperkuat deteksi titik panas dengan menggunakan drone thermal. Teknologi ini digunakan untuk membantu menemukan sumber panas yang sulit terlihat secara kasatmata, terutama ketika lokasi tertutup asap atau berada di wilayah dengan kondisi medan yang menyulitkan pemantauan.
Penggunaan drone thermal diharapkan dapat mendukung proses pemantauan sehingga sumber panas dapat diketahui secara lebih terarah. Dengan demikian, personel memiliki informasi tambahan dalam menentukan langkah penanganan terhadap titik api yang terdeteksi.
Peralatan Pemadaman Disiapkan di Sejumlah Pos
Untuk mendukung proses pemadaman, Polri menyiapkan puluhan pompa serta ratusan perlengkapan pendukung. Peralatan tersebut mencakup selang, konektor, fire beater, dan folding water tank.
Berbagai peralatan itu disiapkan untuk menunjang kebutuhan pemadaman di lapangan. Pompa digunakan untuk membantu penyediaan dan penyaluran air, sedangkan selang dan konektor mendukung proses distribusi air menuju area yang terbakar. Fire beater serta folding water tank juga menjadi bagian dari perlengkapan yang dipersiapkan untuk menghadapi titik api.
Rekayasa Tata Air Gambut Menjadi Bagian Mitigasi
Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api muncul. Polri juga mendorong langkah mitigasi melalui penyekatan kanal, pengisian kembali air, pembangunan sumur bor, serta embung. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga muka air gambut agar tetap dalam kondisi yang mendukung pencegahan kebakaran.
Berdasarkan pernyataan Polri dalam rilis yang disampaikan Jumat (11/9), saat ini terdapat 220 sumur bor dan 104 embung yang menjadi bagian dari infrastruktur mitigasi karhutla di Kalimantan Tengah. Infrastruktur tersebut dipersiapkan untuk mendukung pengelolaan tata air di kawasan gambut.
Data Kebakaran dan Kondisi Udara di Kalteng
Data terbaru mencatat terdapat 107.309 hotspot, 2.819 firespot, dan 9.228,04 hektare lahan terbakar di Kalimantan Tengah. Konsentrasi kebakaran tertinggi berada di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Sementara itu, kondisi udara di Palangka Raya dilaporkan mencapai AQI 3.242 atau berada dalam kategori sangat berbahaya. Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla berdampak pada kondisi lingkungan dan kualitas udara di wilayah yang terdampak.
Kesimpulan
Polri memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Tengah melalui kombinasi teknologi deteksi dini, kendaraan operasional, perlengkapan pemadaman, serta rekayasa tata air gambut. Penggunaan drone thermal, kendaraan khusus, pompa, dan berbagai perlengkapan pemadaman disiapkan untuk meningkatkan kemampuan personel dalam menghadapi titik api.
Di sisi lain, keberadaan 220 sumur bor dan 104 embung menjadi bagian dari upaya mitigasi untuk menjaga muka air gambut. Dengan dukungan sarana tersebut, penanganan karhutla ke depan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah, baik melalui pemantauan sumber panas maupun pengendalian kondisi lahan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment