Letusan Krakatau 1883, Bencana Pertama yang Menjadi Berita Dunia Berkat Telegraf

Letusan Gunung Krakatau pada 1883 tidak hanya dikenang sebagai salah satu bencana besar dalam sejarah, tetapi juga sebagai peristiwa yang untuk pertama kalinya menyebar ke berbagai penjuru dunia melalui media modern. Berkat jaringan telegraf, kabar mengenai letusan, tsunami, kerusakan, dan jumlah korban dapat diketahui di luar wilayah Indonesia hanya beberapa jam setelah peristiwa terjadi.

Kecepatan penyebaran informasi tersebut membuat Krakatau menjadi lebih dari sekadar bencana lokal. Letusannya berkembang menjadi peristiwa global yang diikuti oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Ahli geologi dan mantan kontributor Forbes, David Bressan, menyebut Krakatau sebagai berita pertama yang secara harfiah menyebar ke seluruh dunia berkat perkembangan komunikasi modern.

Telegraf Mempercepat Kabar Letusan Krakatau

Pada saat letusan Krakatau terjadi, jaringan telegraf global baru saja dipasang. Perangkat komunikasi ini memungkinkan informasi dikirimkan dengan cepat dari satu wilayah ke wilayah lain. Dalam hitungan jam setelah letusan, kabar mengenai bencana tersebut telah menyebar melalui jaringan telegraf dan dikutip oleh media di luar wilayah Indonesia.

Richard Hamblyn, sebagaimana dikutip dari bukunya Kisah-Kisah Bumi: Empat Peristiwa yang Mengubah Dunia, menjelaskan bahwa kecepatan laporan melalui telegraf menciptakan kategori bencana yang baru. Krakatau menjadi contoh dari “peristiwa berita universal”, yakni sebuah bencana yang diikuti oleh masyarakat dalam jumlah sangat besar. Dalam kasus Krakatau, kabarnya disebut telah diketahui oleh lebih dari setengah populasi dunia.

Telegram-telegram yang dikirimkan pada masa itu juga menunjukkan cara penyampaian informasi yang singkat, padat, dan langsung menggambarkan situasi di lokasi bencana. Pesan-pesan tersebut menjadi laporan awal mengenai dampak letusan sebelum berita lebih lengkap diterbitkan oleh berbagai surat kabar.

Telegram dari Batavia Menggambarkan Situasi Darurat

Salah satu telegram penting dikirim dari Batavia ke Singapura pada 27 Agustus 1883, tepat pada hari letusan Krakatau. Pesan tersebut menggambarkan kondisi mencekam yang terjadi setelah bencana.

“Siang hari. Serang kegelapan total sepanjang pagi, batu-batu berjatuhan. Desa di dekat Anyer hanyut tersapu banjir.

Batavia kini hampir sepenuhnya gelap—lampu gas padam di malam hari—tidak dapat berkomunikasi dengan Anyer, khawatir akan terjadi malapetaka di sana, beberapa jembatan hancur, sungai meluap melalui laut lepas ke pedalaman.”

Isi telegram tersebut memperlihatkan bagaimana informasi tentang kegelapan, hujan batu, banjir, rusaknya jembatan, serta terputusnya komunikasi disampaikan secara ringkas. Laporan semacam ini menjadi sumber awal yang membantu dunia memahami skala bencana Krakatau.

Media Internasional Mengangkat Tragedi Krakatau

Berita mengenai letusan dan tsunami yang menyertainya kemudian menyebar dengan cepat melalui jaringan komunikasi global. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 36.000 orang. Jurnal pertama yang memberitakan letusan itu adalah Java Bode dari Belanda, yang menerbitkan kabar tersebut pada hari yang sama.

Media internasional kemudian segera mengikuti. Salah satunya adalah jurnal Inggris The Illustrated London News. Media tersebut menerbitkan laporan bencana Krakatau disertai sejumlah gambar imajinatif mengenai wilayah yang terdampak.

Artikel-artikel tentang letusan serta kisah tragis para penyintas membantu membentuk gambaran Krakatau di benak masyarakat dunia. Pemberitaan yang luas menjadikan letusan tersebut sebagai salah satu letusan gunung berapi paling terkenal di Bumi. Dengan demikian, media bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memperluas ingatan kolektif mengenai tragedi tersebut.

Perbedaan dengan Letusan Gunung Tambora

Letusan Gunung Tambora pada 1815 disebut lebih dahsyat dibandingkan Krakatau. Namun, penyebaran informasi mengenai Tambora tidak berlangsung dengan cepat. Pada masa itu, hanya beberapa pedagang dan diplomat Barat setempat yang mencatat peristiwa tersebut.

Catatan mengenai bencana Tambora bahkan baru diterbitkan setahun kemudian dalam buku Sejarah Jawa. Buku tersebut merupakan karya gubernur Inggris di Indonesia sekaligus naturalis, Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Perbedaan ini memperlihatkan betapa besar pengaruh teknologi komunikasi terhadap cara dunia mengetahui sebuah bencana.

Kesimpulan

Letusan Krakatau 1883 menjadi tonggak penting dalam sejarah pemberitaan bencana. Melalui jaringan telegraf, kabar mengenai letusan dan tsunami dapat menyebar lintas wilayah hanya dalam beberapa jam. Telegram dari Batavia, laporan Java Bode, serta pemberitaan media internasional membuat tragedi tersebut dikenal luas di dunia.

Peristiwa Krakatau menunjukkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi dapat mengubah sebuah bencana lokal menjadi berita global. Ke depan, pelajaran dari sejarah ini tetap relevan: kecepatan, ketepatan, dan kemampuan menyebarkan informasi memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami suatu peristiwa besar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment