Survei Reuters-Ipsos: Persetujuan Publik terhadap Kinerja Donald Trump Turun ke 33 Persen
WASHINGTON, AS – Tingkat persetujuan publik terhadap kinerja Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengalami penurunan. Survei terbaru yang dilakukan Reuters dan Ipsos menunjukkan hanya 33 persen warga AS yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump, sementara 64 persen lainnya tidak menyetujuinya.
Survei tersebut digelar sejak Jumat hingga Senin dan melibatkan 1.166 responden. Dengan margin kesalahan sebesar tiga poin persentase, hasil jajak pendapat ini memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Trump turun dua poin dibandingkan survei sebelumnya.
Penurunan tersebut menjadi salah satu catatan terburuk bagi Trump sejak kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025. Rendahnya tingkat persetujuan publik dinilai berkaitan dengan berbagai persoalan yang dihadapi pemerintahannya, termasuk konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap kondisi ekonomi masyarakat Amerika.
Tingkat Persetujuan Trump Capai Titik Terendah
Angka persetujuan sebesar 33 persen menjadi yang terendah selama masa jabatan kedua Trump. Persentase tersebut juga menyamai titik terendah yang pernah dicatat Trump pada masa jabatan pertamanya, yakni pada Desember 2017.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi ketika Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Saat itu, tingkat persetujuan terhadap kinerjanya mencapai 47 persen, sedangkan 41 persen responden menyatakan tidak menyetujui kinerjanya.
Namun, tingkat ketidaksetujuan terhadap Trump meningkat hingga melewati 50 persen kurang dari sebulan setelah ia kembali menjabat. Sejak saat itu, angka ketidaksetujuan tersebut tidak pernah kembali turun di bawah batas 50 persen.
Ketidaksetujuan Meningkat di Tengah Konflik Iran
Beberapa hari sebelum Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan perang dengan Iran, tingkat ketidaksetujuan publik terhadap Trump telah mencapai 58 persen.
Sebelumnya, Trump mengindikasikan bahwa Amerika Serikat membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mencapai seluruh tujuan militernya di Iran. Akan tetapi, konflik tersebut terus berlangsung sepanjang musim semi dan sebagian besar musim panas. Hingga survei dilakukan, belum ada kesepakatan antara kedua pihak terkait pembatasan program nuklir Iran.
Perpanjangan konflik juga menimbulkan persoalan ekonomi bagi Amerika Serikat. Salah satu dampaknya berkaitan dengan pembatasan pengiriman barang melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut kemudian mengganggu perdagangan minyak global dan berpengaruh terhadap harga bahan bakar di Amerika.
Harga Energi Menambah Beban Ekonomi
Harga rata-rata bensin di Amerika Serikat berada di atas 4 dolar AS sepanjang musim panas. Padahal, menurut laporan AAA, harga bensin masih berada di bawah 3 dolar AS hanya dua hari sebelum perang dimulai.
Data indeks harga konsumen juga menunjukkan bahwa harga energi meningkat 14,7 persen secara tahunan pada bulan lalu. Sementara itu, inflasi tahunan harga energi sempat mencapai puncak sebesar 23,5 persen pada Mei.
Trump mengakui bahwa konflik tersebut dapat membuat warga AS harus membayar lebih mahal untuk bensin. Namun, ia menilai kenaikan biaya tersebut sepadan jika langkah itu dapat mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
“Jadi ingatlah itu, ketika Anda harus membayar sedikit lebih banyak, misalnya 4 dolar, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf, saya melakukan hal yang benar,” ujar Trump di Garden City, New York.
Mayoritas Responden Prediksi Konflik Berlangsung Lama
Survei Reuters dan Ipsos juga menggambarkan kekhawatiran publik terhadap durasi konflik di Timur Tengah. Sebanyak delapan dari 10 responden memperkirakan konflik tersebut akan berlangsung lama.
Persepsi tersebut muncul di berbagai kelompok politik. Sebanyak 71 persen responden dari Partai Republik, 80 persen responden independen, dan 87 persen responden dari Partai Demokrat memperkirakan konflik akan berlanjut dalam waktu panjang.
Dampak ekonomi akibat konflik turut menjadi tantangan bagi para kandidat Partai Republik di berbagai wilayah Amerika Serikat. Mereka harus menghadapi konsekuensi politik dari meningkatnya harga energi dan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Dampak Politik bagi Partai Republik dan Demokrat
Partai Republik berupaya mengubah situasi tersebut dengan menyerang Partai Demokrat. Mereka berargumen bahwa kemenangan kandidat sayap kiri dalam sejumlah pemilihan pendahuluan terbaru menunjukkan bahwa Partai Demokrat telah menganut paham “sosialisme”.
Di sisi lain, Decision Desk HQ memperkirakan Partai Demokrat memiliki peluang 66 persen untuk kembali menguasai DPR. Lembaga tersebut juga memperkirakan peluang Demokrat merebut kendali Senat mencapai 45 persen. Perkiraan terakhir itu meningkat tiga poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Kesimpulan
Hasil survei Reuters dan Ipsos menunjukkan bahwa tingkat persetujuan terhadap Donald Trump terus melemah dan kini berada di angka 33 persen. Penurunan dukungan tersebut berlangsung di tengah konflik berkepanjangan dengan Iran, kenaikan harga energi, serta kekhawatiran publik terhadap dampak ekonomi dan durasi perang di Timur Tengah.
Dengan tingkat ketidaksetujuan mencapai 64 persen dan mayoritas responden memperkirakan konflik berlangsung lama, tantangan politik Trump dan Partai Republik diperkirakan tetap berat. Perkembangan konflik, kondisi harga energi, serta kemampuan pemerintah merespons tekanan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi publik selanjutnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment