BNPB Percepat Distribusi Logistik untuk Pengungsi Gempa M7,7 di NTT

Jakarta – Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang mengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan di lapangan, terutama berkaitan dengan ketersediaan air bersih dan listrik di beberapa posko pengungsian.

Penanganan dampak bencana di NTT masih menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat koordinasi dan mempercepat distribusi bantuan agar kebutuhan warga terdampak dapat dipenuhi, termasuk mereka yang berada di wilayah terisolasi.

BNPB Akui Masih Ada Kekurangan di Posko Pengungsian

Suharyanto mengatakan BNPB bersama unsur terkait terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tempat pengungsian. Ia juga menyampaikan bahwa perbaikan dilakukan terhadap sejumlah kendala yang ditemukan selama proses penanganan bencana.

“Kami terus bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lapangan,” kata Suharyanto dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8).

Menurut dia, keluhan warga mengenai krisis air bersih dan listrik masih muncul di sejumlah lokasi. Salah satu posko yang menghadapi persoalan tersebut adalah Posko Pengungsian Reo, Kabupaten Manggarai.

Suharyanto menyatakan pemerintah memahami kesulitan yang dihadapi para pengungsi. Ia menyebut bantuan logistik Presiden telah dikirimkan secara bertahap, dengan total bantuan yang didistribusikan mencapai 411 ton selama periode 15 hingga 19 Agustus 2026.

Distribusi Bantuan Dilakukan melalui Jalur Udara dan Laut

Upaya pemenuhan kebutuhan logistik warga terdampak terus digencarkan. BNPB mencatat, pada 19 Agustus, bantuan yang dikirim melalui jalur udara mencapai 72,77 ton.

Pengiriman tersebut mencakup sejumlah bantuan prioritas. Sebanyak 5.000 paket sembako dikirim ke Posko Maumere, sedangkan 2.900 paket sembako lainnya diarahkan ke Posko Labuan Bajo.

Selain menggunakan jalur udara, pemerintah mengerahkan armada laut untuk menjangkau wilayah terdampak. Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai.

Kapal tersebut membawa paket bantuan Presiden Republik Indonesia, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta donasi masyarakat. Bantuan itu akan didistribusikan ke wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

KRI dr. Soeharso Dukung Pelayanan Kesehatan

TNI Angkatan Laut juga mengerahkan KRI dr. Soeharso untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak gempa. Selain layanan medis, dukungan yang disiapkan mencakup berbagai kebutuhan dasar dan perlengkapan penunjang di lokasi pengungsian.

Logistik yang dikirim antara lain beras, sembako, air mineral, obat-obatan, matras, selimut, tenda, hygiene kit, bahan bakar minyak (BBM), genset, serta kebutuhan lainnya.

BNPB juga telah menyiapkan 882 unit tenda. Jumlah tersebut terdiri atas 215 tenda pengungsi berukuran 6 x 12 meter dan 667 tenda keluarga berukuran 4 x 4 meter. Selain itu, dua unit rumah sakit lapangan turut disiapkan untuk mendukung penanganan kesehatan di wilayah terdampak.

“Kami memastikan distribusi terus berjalan ke wilayah terisolasi, termasuk melalui jalur laut dan udara, agar kebutuhan dasar warga di pengungsian dan daerah terdampak terpenuhi,” ujar Suharyanto.

Korban Meninggal Dunia Mencapai 75 Orang

Di tengah upaya pemenuhan kebutuhan pengungsi, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT juga dilaporkan bertambah. Hingga Kamis (20/8) sore, BNPB mencatat 75 orang meninggal dunia.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan jumlah tersebut bertambah empat orang dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat 71 korban meninggal.

Penambahan korban dilaporkan terjadi di sejumlah kabupaten. Kabupaten Sikka mencatat tambahan dua korban, sementara Kabupaten Manggarai dan Nagekeo masing-masing bertambah satu korban.

Selain korban meninggal dunia, BNPB mencatat sebanyak 907 orang mengalami luka-luka akibat gempa. Jumlah pengungsi juga meningkat seiring terjadinya gempa susulan di sejumlah wilayah NTT.

BNPB mencatat jumlah pengungsi kini mencapai 92.735 jiwa. Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan data sebelumnya yang mencatat 59.647 jiwa.

Penanganan Pengungsi Masih Menjadi Prioritas

Pemerintah masih memprioritaskan distribusi logistik, pelayanan kesehatan, serta penyediaan tempat tinggal sementara bagi masyarakat terdampak. Pengiriman melalui jalur udara dan laut dilakukan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah yang sulit diakses.

Ke depan, BNPB menyatakan distribusi bantuan akan terus dilakukan sambil memperbaiki sejumlah kekurangan di lapangan. Pemenuhan air bersih, listrik, makanan, perlengkapan pengungsian, dan layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam penanganan warga yang terdampak gempa di NTT.

Dengan dukungan berbagai unsur, pemerintah berupaya menjaga agar kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi. Percepatan distribusi diharapkan dapat membantu masyarakat melewati masa tanggap darurat sekaligus mendukung proses penanganan bencana di wilayah yang terdampak.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment