Korban Dugaan Keracunan Massal MBG di Sidoarjo Bertambah Menjadi 746 Orang
Sidoarjo – Jumlah pasien yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan sejumlah sekolah di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, bertambah menjadi 746 orang.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr Lakhsmita Herawati. Menurutnya, angka itu mencakup pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit serta warga yang melaporkan diri dan mendapatkan pengobatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Fasilitas kesehatan yang menerima pasien antara lain rumah sakit, dokter praktik swasta, bidan, dan pusat kesehatan masyarakat atau Puskesmas. Dengan demikian, jumlah 746 orang merupakan data yang berhasil dihimpun berdasarkan laporan pasien yang merasakan keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Rincian Pasien Dugaan Keracunan di Sidoarjo
Lakhsmita mengatakan, dari total 746 pasien tersebut, sebanyak 23 orang masih menjalani rawat inap. Sementara itu, 723 pasien lainnya telah mendapatkan perawatan dan berada dalam status rawat jalan.
“Update korban keracunan makanan Ponpes Manbaul Hikam yang merasakan keluhan dan mendapatkan perawatan medis di fasyankes, total ada 746 pasien,” kata Lakhsmita saat dikonfirmasi pada Jumat (4/9).
Ia kemudian menjelaskan bahwa pasien yang masih menjalani rawat inap berjumlah 23 orang. Adapun sebagian besar pasien lainnya telah diperbolehkan menjalani perawatan lanjutan secara rawat jalan setelah mendapatkan penanganan medis.
Melibatkan Santri dan Pelajar di 19 Sekolah
Dugaan keracunan massal ini tidak hanya dialami oleh santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Sejumlah pelajar dari 19 sekolah yang berada di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, juga dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.
Peristiwa tersebut terjadi setelah para santri dan pelajar mengonsumsi menu makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin. Menu tersebut dibagikan pada Selasa (1/9) siang.
Adapun makanan yang dikonsumsi terdiri atas nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu Bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel. Setelah menyantap hidangan tersebut, sejumlah penerima makanan dilaporkan mengalami berbagai keluhan.
Gejala yang Dirasakan Pasien
Keluhan yang muncul di antaranya mual, muntah, dan pusing. Gejala tersebut membuat para santri dan pelajar mendapatkan pemeriksaan serta perawatan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Sidoarjo.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo kemudian menghimpun data pasien dari berbagai tempat layanan medis. Pendataan tersebut mencakup pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun mereka yang memilih atau mendapatkan penanganan di dokter praktik swasta, bidan, dan Puskesmas.
Dengan jumlah pasien yang telah mencapai 746 orang, kasus ini menjadi perhatian karena melibatkan penerima makanan MBG dari lingkungan pesantren dan sekolah. Status perawatan pasien juga masih terbagi menjadi rawat inap dan rawat jalan.
Penanganan Pasien Masih Berlangsung
Berdasarkan data terakhir yang disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, 23 pasien masih menjalani rawat inap, sedangkan 723 pasien telah berstatus rawat jalan. Data tersebut menjadi gambaran sementara mengenai jumlah warga yang mengalami keluhan dan telah memperoleh perawatan medis.
Penanganan terhadap pasien dilakukan melalui berbagai fasilitas kesehatan yang menerima laporan maupun kunjungan berobat. Dinas Kesehatan juga terus mencatat pasien yang mendapatkan layanan agar perkembangan kasus dapat dipantau berdasarkan data yang tersedia.
Kesimpulan
Jumlah korban dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan program MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan 19 sekolah di Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, mencapai 746 orang. Sebanyak 23 pasien masih menjalani rawat inap, sementara 723 lainnya telah mendapatkan perawatan rawat jalan.
Para pasien sebelumnya mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi menu MBG yang diproduksi SPPG Kalitengah Tanggulangin. Ke depan, perkembangan kondisi pasien dan pembaruan data dari fasilitas pelayanan kesehatan akan menjadi hal penting dalam melihat penanganan kasus tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment