Korea Utara Bangun Fasilitas Pengayaan Uranium Baru di Yongbyon, IAEA Sampaikan Keprihatinan Serius

Korea Utara dilaporkan telah membangun fasilitas baru yang mampu memperkaya uranium hingga tingkat yang dapat digunakan untuk memperkuat persenjataan nuklir. Informasi tersebut terungkap dalam laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional atau IAEA yang dirilis pada pekan ini.

IAEA menyatakan keprihatinan serius atas keberadaan fasilitas tersebut serta perkembangan aktivitas pengayaan uranium di Korea Utara. Lembaga pengawas nuklir itu menilai perluasan fasilitas di Yongbyon dan Kangson menunjukkan bahwa Pyongyang masih melanjutkan pengembangan program nuklirnya, meski aktivitas tersebut bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Fasilitas Baru di Kompleks Nuklir Yongbyon

Menurut laporan IAEA, bangunan baru yang berada di kompleks nuklir utama Yongbyon dirancang untuk menampung hingga 28 kaskade sentrifugal. Sentrifugal merupakan mesin yang digunakan dalam proses pengayaan uranium, termasuk untuk menghasilkan material nuklir dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi.

Identifikasi terhadap bangunan tersebut dilakukan melalui analisis citra satelit dan berbagai materi sumber terbuka. IAEA juga membandingkan gambar yang diambil selama proses pembangunan dengan foto-foto yang diterbitkan media pemerintah Korea Utara, termasuk dokumentasi kunjungan pemimpin negara itu, Kim Jong-un, ke Yongbyon pada awal Juni lalu.

Berdasarkan perbandingan tersebut, IAEA menyimpulkan bahwa bangunan baru itu merupakan fasilitas pengayaan uranium kedua di kompleks Yongbyon. Temuan ini memperkuat indikasi bahwa Korea Utara terus menambah kapasitas produksi material nuklir tingkat senjata.

Operasi Pengayaan Uranium di Kangson Ikut Diperluas

Selain pembangunan fasilitas baru di Yongbyon, laporan IAEA juga menyebut adanya perluasan operasi di lokasi pengayaan uranium Kangson. Fasilitas tersebut berada di dekat Pyongyang, ibu kota Korea Utara.

Perkembangan di Kangson dan Yongbyon menjadi perhatian karena kedua lokasi tersebut disebut masih menjalankan aktivitas pengayaan. IAEA menilai pengoperasian fasilitas-fasilitas itu, ditambah laporan mengenai perluasan produksi material nuklir, merupakan perkembangan yang sangat mengkhawatirkan.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan bahwa kelanjutan dan pengembangan lebih lanjut program nuklir Korea Utara merupakan pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan. Ia juga menyayangkan berlanjutnya aktivitas tersebut di tengah perhatian masyarakat internasional terhadap program nuklir Pyongyang.

IAEA Tidak Lagi Memiliki Inspektur di Korea Utara

IAEA saat ini tidak dapat melakukan pengawasan langsung di Korea Utara. Para inspektur badan tersebut diusir dari negara itu pada 2009. Karena itu, pemantauan terhadap aktivitas nuklir Korea Utara dilakukan melalui analisis citra satelit serta informasi dari sumber-sumber terbuka.

Metode tersebut digunakan untuk mengamati perubahan bangunan, aktivitas di sekitar fasilitas nuklir, dan perkembangan infrastruktur yang berkaitan dengan pengayaan uranium. Foto-foto yang dipublikasikan oleh media pemerintah Korea Utara juga menjadi salah satu bahan yang dianalisis untuk mengidentifikasi fungsi bangunan di Yongbyon.

Potensi Produksi Uranium Tingkat Senjata

Mengutip analisis James Martin Center for Nonproliferation Studies di Amerika Serikat pada 2025, Chosun Daily Korea Selatan melaporkan bahwa 28 rangkaian di fasilitas Yongbyon berpotensi terdiri atas 4.592 sentrifugal.

Jika seluruh rangkaian tersebut beroperasi sesuai perkiraan, fasilitas itu disebut dapat menghasilkan sekitar 85 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat senjata setiap tahun. Jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk membuat tiga atau empat hulu ledak nuklir tambahan.

Namun, angka tersebut merupakan hasil analisis dan perkiraan, bukan data yang dikonfirmasi secara langsung oleh inspektur di lapangan. Keterbatasan akses IAEA ke Korea Utara membuat penilaian terhadap kapasitas sebenarnya tetap bergantung pada pengamatan tidak langsung.

Perkiraan Jumlah Hulu Ledak Nuklir Korea Utara

Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back pada Agustus lalu menyebut Korea Utara diperkirakan memiliki antara 80 dan 120 hulu ledak nuklir. Perkiraan itu lebih tinggi dibandingkan angka 57 hulu ledak yang disebut Donald Trump pada bulan yang sama.

Ahn menjelaskan kepada anggota parlemen bahwa perkiraan Korea Selatan tersebut bersumber dari organisasi penelitian swasta. Ia juga menegaskan bahwa militer Korea Selatan belum dapat mengonfirmasi jumlah tersebut secara independen.

Program Nuklir Korea Utara Terus Berkembang

Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara disebut mengalami kemajuan pesat dalam pengembangan rudal balistik dan persenjataan nuklir. Pyongyang juga terus berupaya memperoleh pengakuan internasional sebagai negara nuklir yang sah.

Kim Jong-un sebelumnya mengklaim bahwa kemampuan Korea Utara dalam memproduksi material nuklir tingkat senjata telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Ia juga menjanjikan rencana besar untuk memperkuat kekuatan nuklir negaranya secara eksponensial.

Kesimpulan

Laporan IAEA menunjukkan bahwa Korea Utara masih memperluas infrastruktur pengayaan uraniumnya, terutama melalui pembangunan fasilitas baru di Yongbyon dan peningkatan aktivitas di Kangson. Kapasitas yang diperkirakan dapat menghasilkan uranium tingkat senjata berpotensi menambah kemampuan Pyongyang dalam mengembangkan hulu ledak nuklir.

Tanpa akses langsung bagi inspektur IAEA, informasi mengenai kapasitas dan jumlah persenjataan nuklir Korea Utara masih mengandung unsur perkiraan. Meski demikian, temuan mengenai perluasan fasilitas tersebut dipandang sebagai indikasi kuat bahwa program nuklir Pyongyang akan terus menjadi perhatian serius bagi IAEA dan komunitas internasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment