Mutiny, Film Terbaru Jason Statham, Raih Skor 57 Persen di Rotten Tomatoes
Mutiny, film laga terbaru yang dibintangi Jason Statham, mendapat respons beragam dari para kritikus film. Film arahan Jean-François Richet ini tetap menghadirkan aksi fisik yang menjadi ciri khas Statham. Namun, daya tarik tersebut dinilai belum cukup untuk menutupi sejumlah kelemahan dalam alur cerita, penokohan, dan tempo penceritaan.
Film kedua Jason Statham pada 2026 ini hanya memperoleh skor 57 persen di Rotten Tomatoes berdasarkan 87 ulasan kritikus yang tercatat hingga Senin (24/8). Sejumlah kritikus menganggap Mutiny masih mampu memberikan hiburan melalui koreografi pertarungan yang intens, tetapi film tersebut kehilangan tenaga ketika cerita bergerak di luar adegan laga.
Kritik terhadap alur dan struktur cerita Mutiny
William Bibbiani dari The Wrap menilai penonton sebenarnya tidak datang untuk menyaksikan film Jason Statham dengan cerita yang terlalu rumit. Meski demikian, menurutnya, Mutiny justru mengalami masalah karena struktur narasinya terasa janggal.
Film tersebut dinilai menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memperkenalkan konspirasi spionase korporat sebelum akhirnya berpindah ke latar utama. Perpindahan tersebut membuat alur terasa kurang mengalir dan berpengaruh terhadap kekuatan cerita secara keseluruhan.
Bibbiani juga menyoroti karakter penjahat utama yang diperankan Roland Møller. Ia menilai tokoh tersebut tampil hambar karena tidak mendapatkan pendalaman yang memadai. Minimnya pengembangan karakter membuat konflik utama terasa kurang meyakinkan.
“Hal itu sampai-sampai membuat tidak masuk akal ketika Statham naik ke atas kapal. Saya tegaskan lagi, bagian kapal adalah hal paling tidak meyakinkan dari adegan ‘Jason Statham di atas kapal’,” ujar Bibbiani.
Adegan laga dipuji, tetapi tempo film tersendat
Keluhan mengenai ritme penceritaan juga disampaikan Jamie Graham dari Empire Online. Ia mengapresiasi koreografi laga yang keras dan intens, terutama ketika Statham terlibat dalam pertarungan jarak dekat.
Namun, Graham menilai jeda di antara adegan-adegan perkelahian terasa membosankan. Bagian tersebut seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat konflik dan membangun ketegangan, tetapi justru dianggap gagal menjaga perhatian penonton.
Menurut Graham, benang merah konspirasi dalam Mutiny tidak cukup kuat untuk mengikat keseluruhan cerita. Deretan penjahat pendukung juga dinilai tidak mampu membangkitkan keterlibatan emosional penonton. Akibatnya, film lebih terasa menonjol ketika menampilkan aksi daripada saat mengembangkan kisah balas dendam dan upaya pemulihan nama baik tokoh utamanya.
Jason Statham dinilai terlalu nyaman dengan formula lama
Kritik yang lebih tajam datang dari Amy Nicholson dari LA Times. Ia menilai Statham terlalu nyaman memainkan sosok tangguh yang monoton, minim dialog, dan tidak banyak mengeksplorasi sisi emosional karakter.
Penilaian tersebut berkaitan dengan karakter Cole Reed yang menjadi pusat cerita. Dalam film ini, Statham kembali tampil sebagai figur keras yang mengandalkan kemampuan fisik untuk menghadapi berbagai ancaman. Bagi Nicholson, pendekatan tersebut membuat peran Statham terasa seperti pengulangan dari formula yang sudah sering digunakan.
Nicholson juga menyayangkan potensi cerita yang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Ia menilai skenario yang ditulis J.P. Davis dan Lindsay Michel masih mengandalkan kiasan-kiasan klise untuk memicu drama. Padahal, menurutnya, film ini memiliki sejumlah ide yang sebenarnya menarik.
“Hal paling mengesalkan dari Mutiny adalah film ini sebenarnya memiliki ide-ide yang cukup bagus, tetapi kemudian diombang-ambingkan dan diterlantarkan begitu saja,” tulis Nicholson.
Mutiny tetap dianggap menghibur oleh sebagian kritikus
Di tengah berbagai kritik tersebut, Alison Willmore dari Vulture memberikan penilaian yang lebih lunak. Ia melihat pengulangan formula laga Statham sebagai bagian dari daya tarik film aksi kelas B yang masih mampu menghibur.
Willmore menilai Mutiny tetap cocok ditonton untuk melepas penat. Alasannya, adegan pertarungan jarak dekat yang dilakukan Statham masih dieksekusi secara profesional. Kekuatan fisik dan koreografi laga menjadi elemen yang menjaga film tetap memiliki nilai hiburan, meskipun aspek cerita dinilai belum solid.
Ia juga menyoroti usia Statham yang kini hampir mencapai 60 tahun. Menurut Willmore, fakta bahwa sang aktor terus membuat variasi dari film laga dengan formula serupa menghadirkan sedikit rasa haru. Pada saat yang sama, hal itu memunculkan kesadaran bahwa suatu hari nanti Statham mungkin harus berhenti dari pola tersebut.
Sinopsis Mutiny
Mutiny mengisahkan Cole Reed, karakter yang diperankan Jason Statham. Ia menjalankan misi seorang diri setelah menyaksikan bos miliardernya dibunuh. Tidak berhenti di situ, Cole juga dijebak sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.
Situasi itu mendorong Cole menaiki sebuah kapal kargo. Ia berusaha membalas kematian sang bos sekaligus memulihkan nama baiknya. Misi tersebut menjadi dasar bagi rangkaian konflik dan aksi yang ditawarkan film arahan Jean-François Richet ini.
Kesimpulan
Mutiny masih mengandalkan kekuatan utama Jason Statham: aksi fisik, pertarungan jarak dekat, dan sosok protagonis tangguh. Namun, film ini menghadapi kritik karena alurnya dinilai kurang rapi, karakter-karakternya dangkal, serta tempo cerita kerap melambat di luar adegan laga.
Skor 57 persen di Rotten Tomatoes menunjukkan bahwa film ini belum sepenuhnya berhasil meyakinkan kritikus. Meski begitu, apresiasi terhadap koreografi pertarungan membuat Mutiny tetap berpotensi menjadi tontonan ringan bagi penggemar aksi Jason Statham. Pada akhirnya, daya tarik film ini akan sangat bergantung pada sejauh mana penonton dapat menerima formula laga yang kembali digunakan sang aktor.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment