Vatikan Bangun Pembangkit Listrik Agrovoltaik Rp2,05 Triliun untuk Kemandirian Energi

Vatikan berencana membangun pembangkit energi terbarukan dengan nilai investasi sekitar 100 juta euro atau setara Rp2,05 triliun. Proyek tersebut menggunakan sistem agrovoltaik, yakni pemanfaatan lahan pertanian untuk memasang panel surya tanpa menghambat pertumbuhan tanaman.

Pembangunan pembangkit listrik ini menjadi langkah Vatikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan listrik dari Italia. Melalui kesepakatan antara Takhta Suci atau Holy See dan pemerintah Italia, kedua pihak sepakat mengembangkan pembangkit listrik agrivoltaik Santa Maria di Galeria.

Proyek Agrovoltaik Vatikan Berkapasitas 90 Megawatt

Dilansir Reuters, pembangkit listrik di kawasan Santa Maria di Galeria diperkirakan memiliki kapasitas hingga 90 megawatt. Dengan kapasitas tersebut, proyek ini berpotensi menjadi salah satu instalasi agrivoltaik terbesar di Italia.

Jumlah energi yang dihasilkan dinilai dapat mencukupi kebutuhan listrik seluruh Vatikan. Negara terkecil di dunia itu memiliki populasi tidak lebih dari seribu jiwa. Selain memenuhi kebutuhan domestik, listrik berlebih dari proyek tersebut rencananya akan dialirkan ke Italia.

Skema ini dinilai memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Vatikan dapat memperoleh sumber energi yang lebih mandiri, sedangkan Italia berpeluang mendapatkan tambahan pasokan listrik dari energi terbarukan.

Panel Surya Dipasang di Atas Lahan Pertanian

Sistem agrovoltaik memungkinkan panel surya dipasang beberapa meter di atas permukaan tanah. Dengan posisi tersebut, lahan di bawah panel tetap dapat digunakan untuk bercocok tanam.

Bayangan Panel Membantu Melindungi Tanaman

Panel surya yang berada di atas lahan tidak hanya berfungsi menghasilkan listrik. Bayangan yang dihasilkan panel juga disebut dapat membantu mengurangi penguapan air serta melindungi tanaman dari kondisi cuaca ekstrem.

Konsep ini membuat lahan Santa Maria di Galeria dapat dimanfaatkan untuk dua kepentingan sekaligus, yaitu produksi energi dan kegiatan pertanian. Vatikan menyatakan panel surya tidak akan mengganggu pertumbuhan tanaman di kawasan tersebut.

Perjanjian Vatikan dan Italia

Perwakilan Italia dan Vatikan bertemu untuk meluncurkan proyek tersebut pada awal Agustus. Pertemuan itu berlangsung setelah Italia secara resmi meratifikasi perjanjian bilateral mengenai pengembangan kawasan Santa Maria di Galeria.

Perjanjian tersebut menjadi dasar kerja sama bagi pengembangan sumber energi baru di wilayah yang sebelumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik Vatikan dari pasokan Italia.

Rincian Proyek Masih Menunggu Kepastian

Meski nilai investasi proyek diperkirakan mencapai 100 juta euro dan kapasitasnya disebut sekitar 90 megawatt, belum ada angka pasti mengenai rincian biaya, kapasitas akhir, maupun durasi pengerjaannya setelah pertemuan tersebut.

Sejumlah sumber memperkirakan proses perizinan, prosedur administratif, dan pembangunan dapat berlangsung selama 18 hingga 24 bulan. Namun, hingga kini Vatikan belum memberikan tanggapan resmi terkait detail proyek tersebut.

Menjadi Prioritas Paus Fransiskus

Pembangunan pembangkit agrovoltaik Santa Maria di Galeria disebut sebagai salah satu prioritas mendiang Paus Fransiskus. Ia dikenal sebagai paus pertama yang secara resmi mendukung pandangan ilmiah mengenai perubahan iklim.

Proyek ini juga memperoleh dukungan dari Paus Leo XIV. Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan energi terbarukan tetap menjadi bagian penting dari agenda Vatikan.

Tren Energi Terbarukan di Berbagai Negara

Upaya Vatikan untuk mengembangkan energi surya sejalan dengan tren penggunaan energi terbarukan di berbagai wilayah dunia. Berdasarkan laporan BGR, sejumlah negara bagian di Amerika Serikat telah menghasilkan listrik dari tenaga surya dalam jumlah lebih besar dibandingkan listrik dari batu bara atau gas alam.

Kota Babcock Ranch di Florida bahkan telah menggunakan tenaga surya sepenuhnya sejak 2016. Kota tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu kota paling berkelanjutan di dunia.

Di Eropa, Uni Eropa pada 2025 dilaporkan telah menghasilkan 30 persen listriknya dari sumber energi angin dan matahari. Perkembangan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik.

Kesimpulan

Proyek pembangkit listrik agrovoltaik Santa Maria di Galeria menjadi langkah penting Vatikan menuju kemandirian energi. Dengan perkiraan kapasitas 90 megawatt, pembangkit ini dinilai mampu memenuhi kebutuhan listrik negara tersebut sekaligus menghasilkan surplus untuk Italia.

Penggunaan panel surya di atas lahan pertanian juga memungkinkan produksi energi berjalan berdampingan dengan kegiatan bercocok tanam. Meski rincian biaya, kapasitas final, dan jadwal pembangunan masih menunggu kepastian, proyek ini berpotensi menjadi contoh pemanfaatan energi terbarukan yang menggabungkan kebutuhan listrik dan pertanian.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment