INKA Percepat Transformasi Usai BP BUMN Soroti Kerugian dan Utang Rp4,7 Triliun

PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA merespons sorotan Badan Pengaturan (BP) BUMN terkait kondisi keuangan perusahaan yang dinilai tidak baik-baik saja. Manajemen INKA menyatakan akan mempercepat proses transformasi dan pembenahan untuk memperkuat fundamental, memperbaiki kinerja, serta menjaga keberlanjutan perusahaan.

Langkah tersebut dilakukan setelah Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkap sejumlah persoalan keuangan yang dihadapi INKA. Dony menyebut perusahaan mencatat kerugian Rp677 miliar, memiliki ekuitas negatif, dan menanggung pinjaman yang dinilai tidak berkelanjutan atau unsustainable loan sekitar Rp4,7 triliun.

INKA Percepat Pembenahan Internal dan Proyek

General Manager Corporate Secretary PT INKA (Persero) Bambang Sutrisno mengatakan arahan BP BUMN menjadi momentum bagi perusahaan untuk memperkuat perbaikan secara menyeluruh. Pembenahan tidak hanya menyasar aspek keuangan, tetapi juga proses internal serta efektivitas pelaksanaan proyek.

Menurut Bambang, INKA saat ini mempercepat transformasi yang telah berjalan. Fokus utama perusahaan adalah membangun fundamental yang lebih sehat, meningkatkan efektivitas proses bisnis, serta memperkuat kemampuan dalam menjalankan dan menyelesaikan setiap proyek.

“INKA menindaklanjuti arahan BP BUMN dengan mempercepat transformasi yang saat ini terus berjalan. Fokus kami adalah membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat, proses bisnis yang semakin efektif, serta kemampuan yang semakin kuat dalam menjalankan dan menyelesaikan setiap proyek,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9).

Proses pembenahan dilakukan dengan memperkuat keterkaitan antara perencanaan, pengelolaan kontrak, pelaksanaan proyek, proses produksi, hingga penyelesaian pekerjaan kepada pelanggan. Keterhubungan setiap tahapan dinilai penting agar pelaksanaan proyek dapat berjalan lebih terukur dan memberikan hasil yang lebih baik bagi perusahaan.

Perbaikan Likuiditas dan Struktur Keuangan

Selain membenahi proses bisnis, INKA menyatakan terus mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi likuiditas dan struktur keuangan perusahaan. Upaya tersebut menjadi bagian dari transformasi yang diarahkan untuk memperkuat fundamental perusahaan dalam jangka panjang.

Bambang menekankan pentingnya disiplin dalam pengelolaan proyek. Pengendalian jadwal, biaya, risiko, serta pemenuhan komitmen kepada pelanggan menjadi bagian penting dalam memperkuat kinerja perusahaan.

“Setiap proyek harus dikelola secara disiplin sejak awal, baik dari aspek teknis, kontraktual maupun finansial. Dengan pengelolaan yang semakin baik, setiap pekerjaan harus mampu memberikan nilai bagi pelanggan sekaligus memperkuat kondisi perusahaan,” kata Bambang.

Dengan pengelolaan yang lebih disiplin, INKA berharap setiap proyek dapat memberikan kontribusi yang lebih baik. Perusahaan juga berupaya memastikan pekerjaan yang dijalankan tetap memenuhi aspek teknis, kontraktual, dan finansial sejak tahap awal hingga selesai.

Penguatan Produksi dan Sistem Kualitas

INKA juga memperkuat proses produksi dan sistem kualitas. Langkah ini dilakukan untuk memastikan sarana perkeretaapian yang dihasilkan memenuhi aspek keselamatan, keandalan, serta standar yang dipersyaratkan.

Penguatan kualitas tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan profesionalisme dan daya saing. INKA ingin memastikan kemampuan produksi tetap berjalan seiring dengan pembenahan fundamental dan perbaikan pengelolaan proyek.

Menjaga Kapabilitas Industri Perkeretaapian Nasional

Transformasi INKA tidak hanya diarahkan untuk menjaga keberlanjutan perusahaan. Langkah tersebut juga ditujukan untuk mempertahankan dan mengembangkan kapabilitas industri perkeretaapian nasional.

Kapabilitas yang ingin diperkuat mencakup kemampuan engineering dan manufaktur, ketersediaan tenaga kerja terampil, penguasaan teknologi, serta pengembangan ekosistem industri pendukung. Perusahaan menilai seluruh unsur tersebut penting bagi keberlangsungan industri perkeretaapian Indonesia.

“Yang ingin kami bangun bukan hanya keberlanjutan perusahaan, tetapi juga kemampuan industri perkeretaapian Indonesia. Untuk itu, INKA harus semakin sehat, profesional, berkualitas, dan kompetitif dengan melibatkan seluruh stakeholder perkeretaapian,” tutur Bambang.

BP BUMN Soroti Kerugian dan Pinjaman INKA

Sebelumnya, Dony Oskaria mengungkapkan bahwa kondisi keuangan INKA tidak dalam keadaan baik. Ia menyebut perusahaan mengalami kerugian Rp677 miliar, memiliki ekuitas negatif, serta menanggung unsustainable loan sekitar Rp4,7 triliun.

Dony juga mempertanyakan kondisi tersebut karena INKA merupakan perusahaan manufaktur yang memiliki pasar yang jelas. Menurutnya, kondisi kerugian dan besarnya pinjaman perlu menjadi perhatian serius dalam proses pembenahan perusahaan.

“INKA ini tidak baik-baik saja, saya tahu persis. Equity negatif, unsustainable loan-nya empat koma sekian triliun, jadi menurut saya INKA ini tidak dalam kondisi yang baik-baik saja,” ujar Dony dalam keterangan resmi, Selasa (15/9).

Danantara, lanjut Dony, mendorong proses pembenahan dan pemulihan atau turnaround kinerja INKA. Proses tersebut membutuhkan komitmen bersama serta penerapan tata kelola yang benar agar perusahaan dapat kembali menjadi lebih baik.

Kesimpulan

Respons INKA menunjukkan bahwa perusahaan akan menindaklanjuti sorotan BP BUMN melalui percepatan transformasi, pembenahan keuangan, penguatan disiplin proyek, serta peningkatan proses produksi dan kualitas. Di sisi lain, persoalan kerugian, ekuitas negatif, dan pinjaman sekitar Rp4,7 triliun menjadi tantangan utama yang harus diselesaikan.

Ke depan, keberhasilan pemulihan INKA akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan perbaikan, penguatan tata kelola, serta kemampuan perusahaan mengelola proyek secara lebih efektif. INKA juga diharapkan mampu menjaga kapabilitas industri perkeretaapian nasional sembari membangun kondisi perusahaan yang lebih sehat, profesional, dan kompetitif.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment