Prabowo Serukan “Jas Hijau” dan Penghormatan terhadap Jasa Ulama dalam Sejarah Kemerdekaan
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengingatkan seluruh pihak agar tidak melupakan jasa para ulama dalam perjalanan sejarah bangsa. Menurut Prabowo, peran ulama tidak hanya penting dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Prabowo menegaskan, apabila Indonesia ingin berkembang menjadi negara maju, pemerintah perlu menjaga hubungan yang dekat dengan para ulama. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8).
Dalam kesempatan itu, Prabowo memperkenalkan istilah “Jas Hijau” sebagai pesan agar masyarakat dan pemerintah senantiasa mengingat jasa ulama. Ungkapan tersebut ia kaitkan dengan semboyan “Jas Merah” yang dikenal sebagai pesan untuk tidak melupakan sejarah.
Prabowo Sampaikan Pesan “Jas Hijau”
Prabowo mengatakan bahwa bangsa Indonesia perlu memberikan penghormatan yang layak kepada para ulama yang telah berkontribusi dalam perjuangan nasional. Ia menilai, hubungan antara pemerintah dan ulama harus tetap terjaga karena keduanya memiliki peran penting dalam membangun kehidupan bangsa.
“Karena itu saya ingin, kalau pernah, kalau tidak salah Bung Karno mengatakan ‘Jas Merah’: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Saya ingin menyampaikan ‘Jas Hijau’: Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama,” ujar Prabowo.
Pesan tersebut menekankan pentingnya melihat sejarah Indonesia secara utuh. Kemerdekaan tidak hanya lahir dari momentum proklamasi, tetapi juga melalui perjuangan panjang berbagai kelompok masyarakat, termasuk para kiai, santri, ulama, dan pesantren.
Peran Ulama dalam Pertempuran Surabaya
Salah satu contoh kontribusi ulama yang disampaikan Prabowo adalah keterlibatan ulama Nahdlatul Ulama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada Pertempuran Surabaya, 10 November 1945.
Prabowo menyebut, Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut mewajibkan umat Islam, khususnya para kiai dan santri, untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman tentara Sekutu dan Belanda atau Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
Menurut Prabowo, peran ulama dan pesantren dalam pertempuran tersebut sangat besar. Ia menyampaikan penghormatan kepada para kiai serta ulama yang turut menggerakkan semangat perjuangan di tengah ancaman terhadap kemerdekaan yang baru diproklamasikan.
“Kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dalam Pertempuran Surabaya, Oktober-November tahun 1945, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar,” kata Prabowo.
Sejarah Perjuangan Tidak Terlepas dari Pesantren
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pesantren dan lingkungan ulama memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Para kiai dan santri tidak hanya menjalankan peran dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga ikut membangun kesadaran kebangsaan serta mempertahankan kemerdekaan.
Prabowo menilai, kontribusi tersebut perlu terus diingat oleh generasi sekarang. Penghormatan terhadap jasa ulama menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah sekaligus memahami akar perjuangan bangsa Indonesia.
Prabowo Puji Jiwa Patriotik Nahdlatul Ulama
Selain menyoroti peran ulama dalam pertempuran, Prabowo juga memuji Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang memiliki jiwa patriotik tinggi. Menurutnya, semangat nasionalisme NU dapat dilihat melalui berbagai karya dan sikap para tokohnya.
Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah lagu “Ya Lal Wathon” ciptaan Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang tokoh pendiri NU. Lagu tersebut dikenal memiliki nuansa nasionalisme dan patriotisme yang kuat.
Prabowo menilai, penciptaan lagu itu menjadi gambaran keberanian para pemimpin religius dalam menumbuhkan semangat kebangsaan sejak sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
“Yang menarik adalah bahwa lagu ini diciptakan oleh Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Pada waktu itu kita juga belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas, tapi pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan demikian nasionalis,” ujarnya.
Menjaga Penghormatan terhadap Ulama
Pesan Prabowo dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU menempatkan jasa ulama sebagai bagian penting dari sejarah nasional. Ia mengingatkan agar kontribusi para ulama tidak dipisahkan dari perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan.
Ke depan, pesan “Jas Hijau” diharapkan menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus menghargai peran ulama, kiai, santri, serta pesantren. Dengan memahami sejarah dan menghormati para tokoh yang telah berjuang, bangsa Indonesia dapat menjaga nilai-nilai kebangsaan sekaligus merawat hubungan antara pemerintah dan ulama.
Kesimpulan
Presiden Prabowo Subianto menyerukan agar seluruh pihak tidak melupakan jasa para ulama dalam sejarah Indonesia. Ia menekankan pentingnya hubungan dekat antara pemerintah dan ulama apabila Indonesia ingin menjadi negara maju.
Melalui istilah “Jas Hijau”, Prabowo mengajak masyarakat mengingat kontribusi ulama, terutama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada Pertempuran Surabaya. Ia juga menyoroti Resolusi Jihad Hasyim Asy’ari serta jiwa patriotik NU yang tercermin melalui lagu “Ya Lal Wathon” karya Abdul Wahab Chasbullah. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia juga dibangun oleh peran besar para ulama, kiai, santri, dan pesantren.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment