Bocah 11 Tahun Meninggal Setelah Sesak Napas di Tengah Kabut Asap Puruk Cahu, Dinkes Beri Penjelasan
Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan menjalani perawatan di RSUD Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Peristiwa tersebut terjadi ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti wilayah Kota Puruk Cahu.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena kabut asap dapat memperburuk gangguan pernapasan. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Murung Raya menegaskan bahwa penyebab kematian korban belum dapat dikaitkan secara langsung dengan paparan asap atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Bocah Mengalami Sesak Napas Saat Kabut Asap Menyelimuti Puruk Cahu
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga sekitar, korban mulai mengalami sesak napas sebelum mendapatkan perawatan di RSUD Puruk Cahu pada Jumat (28/8). Pada saat yang sama, kabut asap akibat karhutla tengah menyelimuti wilayah kota tersebut.
Warga menyebut kondisi kesehatan korban semakin memburuk ketika kabut asap menjadi lebih pekat. Tetangga korban, Lulus Sriyati, mengatakan bahwa berdasarkan keterangan dari keluarga, bocah tersebut telah memiliki riwayat asma sejak berusia dua tahun.
“Menurut keluarganya, anak itu mengalami asma sejak usia dua tahun dan makin parah sejak terjadinya kabut asap di Kota Puruk Cahu,” ujar Lulus, seperti dikutip dari detikKalimantan, Rabu (2/9).
Keluarga korban sempat merencanakan pemindahan pasien ke rumah sakit di Banjarmasin untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. Namun, rencana tersebut tidak sempat dilaksanakan karena korban meninggal dunia pada Senin (31/8) pagi.
Dinkes Murung Raya Minta Penyebab Kematian Tidak Disimpulkan Sepihak
Kepala Dinas Kesehatan Murung Raya, Suwirman Hutagalung, menyampaikan bahwa kematian bocah tersebut belum bisa langsung disimpulkan sebagai dampak kabut asap atau ISPA. Menurut dia, korban juga memiliki riwayat penyakit lain yang telah lama diderita.
“Anak tersebut juga sempat mengalami sesak napas, tapi tidak semerta-merta karena asap terus ISPA lalu meninggal. Namun, anak tersebut juga mengalami penyakit lain, yaitu kelainan yang terdapat pada ginjalnya,” kata Suwirman.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi kesehatan korban perlu dilihat secara menyeluruh. Riwayat asma, gangguan pernapasan, serta penyakit lain yang diderita menjadi bagian dari penilaian medis terhadap kondisi korban.
Lebih dari 700 Warga Mengalami Gejala ISPA
Di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya reda, Dinkes Murung Raya mencatat lebih dari 700 warga mengalami keluhan yang kemudian diidentifikasi sebagai gejala ISPA. Data tersebut berasal dari masyarakat yang memperoleh pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Meski jumlah warga yang mengalami keluhan cukup besar, Suwirman menyebut sebagian besar kasus yang ditangani masih berada dalam kategori ringan. Pasien dengan ISPA ringan masih dapat memperoleh pengobatan melalui obat-obatan.
“Syukurnya, sampai saat ini masyarakat masih mengalami ISPA ringan yang dapat diobati dengan obat-obatan,” ujar Suwirman.
Gangguan Pernapasan Tidak Boleh Diabaikan
Dinkes Murung Raya mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gangguan pernapasan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut. Keluhan seperti sesak napas menjadi kondisi yang perlu mendapatkan perhatian dan pertolongan, khususnya bagi warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Peringatan tersebut juga ditujukan kepada petugas dan relawan yang berada di lapangan untuk menangani karhutla. Mereka turut berisiko terdampak oleh memburuknya kualitas udara akibat asap.
Posko Kesehatan dan Rumah Oksigen Disiapkan
Untuk mengantisipasi meningkatnya gangguan kesehatan, Dinkes Murung Raya mengaktifkan posko kesehatan yang terintegrasi dengan Posko Karhutla. Posko tersebut menyediakan obat-obatan, masker, dan oksigen.
Layanan ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, petugas, maupun relawan yang membutuhkan pertolongan awal akibat dampak kabut asap. Dinkes juga menurunkan tim kesehatan untuk mendampingi petugas dan relawan selama berada di lapangan.
“Silakan untuk masyarakat yang ingin mendapatkan pertolongan pertama bisa ke Posko Karhutla. Untuk petugas dan relawan yang bertugas, kami juga sudah menurunkan tim kesehatan untuk mendampingi apabila ada petugas yang mengalami dampak kabut asap,” jelas Suwirman.
Selain posko kesehatan, Dinkes menyiapkan Rumah Oksigen di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Murung Raya. Lokasi fasilitas tersebut berada tepat di depan RSUD Puruk Cahu.
Rumah Oksigen disiapkan sebagai tempat pertolongan awal bagi masyarakat, petugas, dan relawan yang mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas.
Kesimpulan
Meninggalnya bocah 11 tahun setelah mengalami sesak napas terjadi di tengah kabut asap karhutla yang menyelimuti Puruk Cahu. Keluarga menyebut korban memiliki riwayat asma sejak usia dua tahun, sementara Dinkes Murung Raya menyatakan penyebab kematian belum dapat dikaitkan secara langsung dengan paparan asap atau ISPA karena korban juga memiliki kelainan pada ginjal.
Dengan lebih dari 700 warga mengalami gejala ISPA, kewaspadaan terhadap dampak kabut asap tetap diperlukan. Keberadaan posko kesehatan dan Rumah Oksigen diharapkan dapat membantu masyarakat serta petugas memperoleh pertolongan awal apabila mengalami gangguan pernapasan selama kondisi kabut asap belum sepenuhnya berakhir.
Sumber: Cnnindonesia


Post Comment