Sejumlah Santri Korban Keracunan MBG di Sidoarjo Alami Trauma, Kementerian PPPA Siapkan Pendampingan
Sidoarjo — Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami trauma setelah diduga menjadi korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyatakan siap memberikan pendampingan psikologis bagi santri yang membutuhkan setelah kejadian tersebut.
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi atau Arifah menyampaikan hal itu saat mengunjungi para santri yang masih menjalani perawatan di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo, Jumat (4/9). Dalam kunjungan tersebut, Arifah melihat kondisi para korban sekaligus membahas langkah pemulihan yang diperlukan, termasuk penanganan terhadap anak-anak yang mengalami trauma.
Sejumlah Santri Mengalami Trauma Pascakeracunan
Arifah mengatakan, kondisi psikologis para santri setelah mengalami kejadian keracunan tidak sama. Sebagian anak disebut mengalami trauma, sementara sebagian lainnya tidak menunjukkan kondisi serupa.
“Karena ini ada anak-anak yang mengalami trauma, ada juga yang tidak,” kata Arifah di Sidoarjo.
Menurut Arifah, Kementerian PPPA akan memberikan pendampingan apabila terdapat santri yang membutuhkan bantuan psikologis. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari penanganan lanjutan setelah para korban mendapatkan perawatan medis.
Kementerian PPPA juga akan berkoordinasi dengan Bupati Sidoarjo dan pengelola Pondok Pesantren Manbaul Hikam untuk menentukan langkah pemulihan yang sesuai. Salah satu bentuk dukungan yang dapat dilakukan adalah trauma healing bagi para santri yang terdampak.
Pendampingan Disiapkan agar Santri Kembali Belajar
Arifah menegaskan, pemulihan kondisi psikologis anak perlu dilakukan agar para santri dapat kembali menjalani aktivitas belajar seperti biasa. Kementerian PPPA membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak pesantren apabila pendampingan tambahan masih diperlukan.
“Tetapi seandainya masih membutuhkan, kami siap untuk berkolaborasi agar anak-anak ini siap kembali ke sekolah,” ujar Arifah.
Dalam kunjungan tersebut, Arifah turut didampingi Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii dan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Mayjen TNI (Purn) Trenggono. Sejumlah pejabat maupun tenaga dari Kantor Staf Presiden juga hadir untuk melihat penanganan para korban.
BGN Hentikan Operasional Dapur SPPG Kalitengah
Selain membahas kondisi santri, Trenggono yang mewakili pimpinan BGN menyampaikan permohonan maaf atas kejadian keracunan tersebut. Permintaan maaf disampaikan secara langsung kepada Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun.
Trenggono menyebut kejadian itu diduga berkaitan dengan kelalaian atau ketidakpatuhan petugas dapur dalam menjalankan prosedur operasional. Sebagai langkah tindak lanjut, BGN menghentikan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin yang memproduksi makanan untuk para korban.
Ia menjelaskan bahwa standar operasional prosedur (SOP) dalam program MBG pada dasarnya telah ditetapkan. Namun, kasus tersebut diduga terjadi karena adanya pelanggaran terhadap ketentuan tata kelola yang berlaku.
BGN juga mencopot kepala dapur yang bertanggung jawab atas operasional SPPG Kalitengah. Trenggono menegaskan, sanksi lebih lanjut akan disesuaikan dengan aturan apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian.
Keracunan MBG Berdampak pada 748 Orang
Sebelumnya, ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan pelajar dari 19 sekolah di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu MBG.
Menu yang diproduksi SPPG Kalitengah Tanggulangin tersebut terdiri atas nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel. Setelah menyantap makanan itu pada Selasa (1/9) siang, sejumlah siswa dan santri mengalami gejala berupa mual, muntah, hingga pusing.
Hingga Kamis (4/9) siang, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat jumlah korban mencapai 748 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, 728 korban lainnya telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.
Edukasi Gizi Tetap Menjadi Perhatian
Arifah juga menyoroti pentingnya edukasi mengenai makanan bergizi dalam pelaksanaan program MBG. Menurutnya, anak-anak perlu mendapatkan pemahaman tentang pentingnya asupan bergizi, meskipun pada saat yang sama menu makanan tetap perlu mempertimbangkan selera mereka.
Kementerian PPPA selama ini turut memberikan informasi dan edukasi mengenai makanan bergizi kepada anak-anak. Edukasi tersebut dinilai penting karena anak-anak cenderung menyukai makanan cepat saji.
Arifah berharap program MBG dapat memenuhi kebutuhan dan selera anak, sekaligus menanamkan kesadaran mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi. Ke depan, penanganan korban, pendampingan psikologis, serta perbaikan tata kelola diharapkan dapat berjalan beriringan agar para santri dan pelajar dapat kembali beraktivitas dengan baik.
Kesimpulan
Kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo tidak hanya berdampak pada kondisi fisik para korban, tetapi juga menimbulkan trauma bagi sejumlah santri. Kementerian PPPA menyiapkan pendampingan psikologis dan trauma healing apabila diperlukan, sedangkan BGN menghentikan operasional dapur SPPG Kalitengah serta mencopot kepala dapur yang bertanggung jawab. Dengan adanya koordinasi antara pemerintah, pengelola pesantren, dan pihak terkait, pemulihan para korban serta evaluasi tata kelola program MBG diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment