BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Masih Berpotensi Hujan di Tengah Musim Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan, meskipun sebagian besar daerah mulai memasuki kondisi yang lebih kering akibat musim kemarau. Hujan dengan intensitas bervariasi diperkirakan masih dapat terjadi secara lokal dalam beberapa hari ke depan.

Menurut BMKG, berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia tidak sepenuhnya menghilangkan peluang terjadinya hujan. Bahkan, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat masih tercatat di sejumlah wilayah, terutama di kawasan Sumatra bagian utara dan tengah.

Hujan Lebat Masih Tercatat di Sejumlah Wilayah

Berdasarkan catatan BMKG pada periode 31 Agustus hingga 2 September 2026, hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi di beberapa daerah di Sumatra bagian utara dan tengah. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatera Utara dengan angka mencapai 111,6 milimeter per hari.

Curah hujan tinggi berikutnya tercatat di Sumatera Barat sebesar 101,8 milimeter per hari. Sementara itu, Aceh mencatat curah hujan sebesar 82,5 milimeter per hari. Data tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti seluruh wilayah akan terbebas dari hujan.

Fenomena hujan lebat dapat tetap berlangsung apabila terdapat kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Namun, BMKG menegaskan bahwa secara umum aktivitas pertumbuhan awan hujan di Indonesia masih diprakirakan rendah.

Wilayah yang Masih Berpeluang Mengalami Hujan

Meski aktivitas awan hujan secara nasional cenderung rendah, sejumlah wilayah diperkirakan memiliki peluang pertumbuhan awan pada kategori sedang hingga tinggi. Daerah tersebut meliputi Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian utara, dan Papua bagian utara.

BMKG menyebut peluang hujan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer yang masih aktif. Pada periode 4 hingga 10 September, Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi aktif secara spasial di sekitar pesisir utara Aceh, Maluku bagian timur, Laut Arafuru bagian tengah hingga timur, serta sebagian besar Papua.

Selain MJO, Gelombang Kelvin juga diprakirakan aktif melintasi wilayah yang cukup luas. Wilayah yang dilalui meliputi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Konvergensi dan Labilitas Atmosfer Mendukung Pembentukan Awan

Potensi pertumbuhan awan hujan juga dipengaruhi oleh pembentukan daerah perlambatan angin atau konvergensi. Kondisi tersebut diprediksi terbentuk mulai dari Sumatera Selatan hingga Jambi, Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Barat, serta Papua Pegunungan.

Di sisi lain, daerah pertemuan angin atau konfluensi diprakirakan terbentuk di perairan barat dan utara Aceh. Kondisi ini dapat mendukung pengumpulan massa udara dan meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di wilayah sekitarnya.

BMKG juga memprakirakan adanya labilitas lokal yang kuat dan mendukung proses konvektif pada skala lokal. Kondisi tersebut diperkirakan terdapat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Papua Pegunungan.

Hujan Diperkirakan Bersifat Sporadis

BMKG menjelaskan bahwa kombinasi berbagai dinamika atmosfer tersebut masih dapat memicu pengumpulan dan pengangkatan massa udara. Dampaknya, hujan lokal dengan intensitas yang bervariasi masih berpeluang terjadi di sebagian Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian tengah, dan Papua bagian utara.

Namun, hujan yang terjadi diprakirakan cenderung bersifat sporadis dan berdurasi relatif singkat. Kondisi tersebut berlangsung di tengah dominasi cuaca kering yang masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia akibat musim kemarau.

Kesimpulan

BMKG memprakirakan sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan meski musim kemarau terus berlangsung. Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian tengah, dan Papua bagian utara menjadi wilayah yang masih memiliki peluang hujan lokal akibat pengaruh MJO, Gelombang Kelvin, konvergensi, konfluensi, serta labilitas atmosfer.

Ke depan, kondisi cuaca secara umum diperkirakan tetap didominasi keadaan kering. Meski demikian, pertumbuhan awan pada kategori sedang hingga tinggi masih dapat muncul di sejumlah daerah sehingga hujan dengan intensitas bervariasi tetap perlu diantisipasi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment