Tes Kesamaptaan IPDN: Jenis Latihan dan Ketentuan untuk Calon Praja Pria-Wanita

Tes kesamaptaan IPDN menjadi salah satu rangkaian seleksi fisik yang wajib dilalui calon praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Seleksi ini dirancang untuk mengukur kemampuan fisik peserta melalui sejumlah aktivitas olahraga, mulai dari lari hingga latihan kekuatan otot.

Berdasarkan ketentuan seleksi yang dijelaskan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), tes masuk sekolah kedinasan ini mencakup lari, push up, sit up, pull up atau chinning, serta shuttle run. Setiap peserta perlu memenuhi standar yang telah ditentukan agar dapat melanjutkan tahapan seleksi.

Tes kesamaptaan tersebut menjadi bagian dari tahap akhir seleksi atau Pantukhir. Dalam ketentuan yang dirujuk, pelaksanaan Pantukhir dilakukan di Kampus IPDN Jatinangor. Melalui rangkaian pengujian ini, kemampuan daya tahan, kekuatan, kelincahan, dan kondisi fisik calon praja dinilai secara menyeluruh.

Pengertian Tes Kesamaptaan IPDN

Tes kesamaptaan merupakan pemeriksaan kemampuan fisik peserta melalui serangkaian latihan olahraga. Penilaian tidak hanya melihat jumlah gerakan yang mampu dilakukan, tetapi juga kemampuan peserta dalam menjalankan gerakan sesuai teknik yang ditetapkan.

Rangkaian tes ini mencakup beberapa jenis latihan yang menyasar bagian tubuh dan kemampuan fisik berbeda. Push up dan sit up digunakan untuk menilai kekuatan serta daya tahan otot, sedangkan lari mengukur daya tahan tubuh. Adapun pull up atau chinning dan shuttle run berkaitan dengan kekuatan tubuh bagian atas, kecepatan, koordinasi, serta kelincahan.

Jenis Tes Kesamaptaan IPDN dan Ketentuannya

1. Push Up

Push up digunakan untuk mengukur kemampuan otot tubuh bagian atas dan bagian tengah. Dalam materi ketentuan yang dirujuk, peserta pria ditargetkan mampu melakukan 35-40 kali push up. Sementara itu, peserta wanita berada pada kisaran 30-35 kali.

Gerakan tersebut dilakukan dalam waktu sekitar satu menit. Peserta perlu memperhatikan teknik saat melakukan push up, bukan hanya berusaha mencapai jumlah repetisi sebanyak-banyaknya. Teknik yang benar diperlukan agar hasil pengukuran kemampuan fisik tetap sesuai ketentuan.

2. Sit Up

Sit up menjadi salah satu latihan untuk mengukur daya tahan dan fleksibilitas otot perut. Standar yang tercantum dalam materi tersebut adalah 35-40 kali untuk peserta pria dan 30 kali untuk peserta wanita dalam waktu satu menit.

Sama seperti push up, peserta sebaiknya mengutamakan gerakan yang benar selama menjalani sit up. Jumlah repetisi perlu dicapai dengan tetap mengikuti ketentuan gerakan agar kemampuan fisik dapat dinilai secara tepat.

3. Pull Up atau Chinning

Dalam gerakan pull up, peserta menggantungkan tubuh pada sebuah tiang horizontal. Selanjutnya, tubuh ditarik ke atas hingga dagu melewati tiang. Setelah itu, badan diturunkan kembali sampai posisi tangan lurus.

Ketentuan yang dicantumkan untuk peserta pria adalah 10 kali pull up. Selain pull up, istilah chinning juga tercantum sebagai bagian dari rangkaian tes fisik calon praja IPDN.

4. Lari

Kemampuan daya tahan tubuh peserta diuji melalui lari dalam batas waktu tertentu. Peserta pria menjalani lari selama 12 menit dengan jarak minimal 1.200 meter.

Sementara itu, peserta wanita diberikan waktu 14 menit dengan jarak minimal yang sama, yaitu 1.200 meter. Ketentuan ini menjadikan lari sebagai salah satu bagian penting dalam penilaian kemampuan fisik calon praja.

5. Shuttle Run

Shuttle run digunakan untuk mengukur kemampuan peserta dalam bergerak cepat sekaligus mengubah arah. Latihan ini membutuhkan perpaduan kecepatan, koordinasi, keseimbangan, dan kelincahan.

Dengan karakteristik tersebut, shuttle run menjadi bagian dari tes yang menilai kemampuan peserta saat melakukan perpindahan gerak secara cepat dan terarah. Peserta perlu memenuhi standar yang ditetapkan dalam rangkaian seleksi kesamaptaan.

Kesimpulan

Tes kesamaptaan IPDN terdiri atas beberapa latihan fisik, yaitu push up, sit up, pull up atau chinning, lari, dan shuttle run. Setiap jenis tes memiliki tujuan penilaian yang berbeda, mulai dari kekuatan otot, daya tahan tubuh, fleksibilitas, hingga kecepatan dan kelincahan.

Calon praja pria dan wanita memiliki ketentuan tertentu pada sejumlah jenis latihan. Karena itu, peserta perlu memahami standar yang berlaku serta memperhatikan teknik gerakan selama menjalani tes. Pemenuhan standar fisik tersebut menjadi bagian penting agar peserta dapat melanjutkan proses seleksi pada tahap berikutnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment