6 Tanda Anak Mulai Mengembangkan Empati Sejak Usia Dini
Seiring bertambahnya usia, anak mengalami berbagai perubahan dalam cara berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Jika sebelumnya anak lebih banyak berfokus pada keinginan sendiri, perlahan ia mulai memperhatikan perasaan, kebutuhan, dan keadaan orang lain. Perubahan ini berkaitan dengan perkembangan empati yang berlangsung secara bertahap sejak masa kanak-kanak.
Empati merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan merespons kondisi emosional orang lain. Kemampuan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba pada usia tertentu. Anak belajar mengenali emosi, memahami bahwa setiap orang dapat memiliki perasaan yang berbeda, kemudian mencoba meresponsnya melalui tindakan.
Lantas, apa saja tanda anak mulai mengembangkan empati? Berikut beberapa perilaku yang dapat diamati dalam keseharian.
Tanda Anak Mulai Mengembangkan Empati
1. Mulai memperhatikan perubahan emosi orang lain
Salah satu tanda yang mudah diamati adalah ketika anak mulai menyadari perubahan emosi orang-orang di sekitarnya. Misalnya, anak melihat temannya menangis dan memahami bahwa temannya sedang merasa sedih.
Anak mungkin belum mengetahui tindakan yang tepat untuk dilakukan. Namun, ia mulai menunjukkan perhatian dengan bertanya tentang keadaan temannya atau berusaha mencari tahu alasan temannya menangis. Kemampuan mengenali dan merespons emosi orang lain menjadi bagian penting dalam perkembangan empati sejak usia dini.
2. Berusaha menghibur orang yang sedang sedih
Anak yang mulai memiliki empati tidak hanya menyadari bahwa orang lain sedang merasa sedih. Ia juga dapat mencoba membuat orang tersebut merasa lebih baik. Bentuknya tidak selalu berupa kata-kata atau nasihat.
Anak mungkin memberikan pelukan, mengambilkan barang, menawarkan mainan, atau sekadar duduk di dekat orang yang sedang menangis. Perilaku membantu dan menghibur tersebut termasuk bentuk perilaku prososial yang berkaitan dengan kemampuan memahami kondisi orang lain.
3. Mulai bersedia berbagi dan membantu
Kesediaan anak memberikan sebagian miliknya kepada orang lain juga dapat menunjukkan perkembangan kemampuan sosial dan empati. Hal ini dapat terlihat ketika anak mau berbagi mainan atau memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain.
Studi dalam jurnal Developmental Psychology menunjukkan bahwa kemampuan anak memahami pikiran, keinginan, dan kondisi mental orang lain berkaitan dengan perilaku membantu, bekerja sama, berbagi, serta menghibur. Perilaku tersebut menggambarkan adanya usaha anak untuk memahami keadaan orang lain dan memberikan respons yang sesuai.
4. Mulai memahami bahwa orang lain dapat memiliki perasaan berbeda
Seiring perkembangannya, anak perlahan belajar bahwa orang lain dapat memiliki pikiran, perasaan, atau keinginan yang berbeda dari dirinya. Anak mulai memahami bahwa sesuatu yang menurutnya menyenangkan belum tentu membuat orang lain merasakan hal yang sama.
Contohnya, anak dapat menyadari bahwa permainan yang ia sukai mungkin tidak disukai temannya. Ia juga mulai berusaha melihat suatu persoalan dari sisi orang lain. Kemampuan melihat sesuatu dari perspektif orang lain atau perspective-taking merupakan bagian penting dari perkembangan empati.
5. Berusaha memahami sudut pandang orang lain
Pada tahap ini, anak belum tentu selalu berhasil memahami perasaan orang lain dengan tepat. Meski demikian, usaha untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain sudah menjadi bagian dari proses perkembangan empati.
Anak mungkin mengajukan pertanyaan mengenai alasan seseorang merasa sedih, marah, atau tidak nyaman. Ia juga dapat mencoba menghubungkan suatu kejadian dengan perasaan orang yang mengalaminya. Upaya tersebut menunjukkan bahwa anak mulai melihat keadaan tidak hanya dari kepentingannya sendiri.
6. Menunjukkan kepedulian terhadap orang yang mengalami kesulitan
Empati juga dapat terlihat ketika anak menyaksikan orang lain mengalami kesulitan atau diperlakukan tidak adil. Anak mungkin membela temannya yang diejek, merasa tidak nyaman saat melihat seseorang disakiti, atau mencoba mendekati orang yang sedang sendirian.
Kemampuan memahami sudut pandang orang lain dapat membantu anak mengenali ketika seseorang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Dari pemahaman tersebut, dapat muncul respons prososial seperti mendekati, membantu, atau memberikan dukungan.
Perkembangan Empati Setiap Anak Tidak Sama
Empati bukan kemampuan yang langsung muncul secara sempurna. Anak belajar mengenali emosi, memahami perspektif orang lain, dan memberikan respons secara bertahap. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu langsung khawatir apabila anak belum menunjukkan seluruh tanda tersebut.
Kemampuan empati dapat berbeda sesuai usia, karakter, dan pengalaman sosial setiap anak. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology in the Schools juga menunjukkan bahwa empati merupakan kemampuan yang kompleks. Penilaiannya perlu melihat berbagai aspek, bukan hanya satu perilaku tertentu.
Dengan demikian, anak yang belum selalu mau berbagi atau belum mengetahui cara menghibur temannya bukan berarti tidak memiliki empati. Bisa jadi, ia masih berada dalam proses belajar memahami emosi dan perspektif orang lain.
Kesimpulan
Perkembangan empati pada anak dapat terlihat melalui berbagai perilaku, seperti memperhatikan perubahan emosi orang lain, berusaha menghibur, membantu, berbagi, memahami perbedaan perasaan, serta menunjukkan kepedulian terhadap orang yang mengalami kesulitan.
Namun, tidak semua anak menunjukkan tanda-tanda tersebut dengan cara dan waktu yang sama. Empati berkembang secara bertahap dan dipengaruhi oleh usia, karakter, serta pengalaman sosial anak. Karena itu, pemahaman terhadap proses perkembangan ini penting agar orang tua dapat melihat kemajuan anak secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu perilaku.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment