Beban Mental Parenting yang Sering Tak Terlihat dan Cara Menguranginya
Menjadi orang tua bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti memberi makan, menidurkan, dan memastikan keselamatannya. Di balik rutinitas tersebut, terdapat beban mental parenting yang tidak selalu terlihat oleh orang lain, tetapi dapat terasa sangat melelahkan bagi mereka yang menjalaninya.
Beban mental ini muncul dari berbagai hal yang harus dipikirkan secara terus-menerus, mulai dari kebutuhan anak hari ini hingga rencana untuk esok, bulan depan, bahkan tahun-tahun mendatang. Karena sifatnya tersembunyi, banyak orang tua tidak menyadari bahwa mereka sedang menghadapi tekanan besar setiap hari. Jika tidak dikelola, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik, emosi, dan hubungan dalam keluarga.
Apa Itu Beban Mental Parenting?
Dalam pengasuhan anak, beban mental merujuk pada kerja kognitif dan emosional yang diperlukan untuk mengelola rumah tangga serta memenuhi kebutuhan anak. Hal ini mencakup proses mengingat, merencanakan, memantau, mengambil keputusan, dan memastikan berbagai hal berjalan dengan baik.
Paige Bellenbaum, pendiri The Motherhood Center of New York, menyebut beban tersebut sebagai “pekerjaan tak terlihat”. Hasil dari pekerjaan ini memang dapat dirasakan oleh keluarga, tetapi proses berpikir di baliknya sering kali tidak disadari oleh orang lain.
Menurut Bellenbaum, orang tua terus memikirkan apa yang sedang terjadi, apa yang perlu dilakukan pada hari berikutnya, serta hal-hal yang harus disiapkan untuk waktu mendatang. Pikiran yang berjalan tanpa henti inilah yang membuat beban mental parenting terasa berat.
Ibu Masih Menanggung Beban Lebih Besar
Beban mental parenting dapat memicu stres, kecemasan, dan kurang tidur. Dalam jangka panjang, tekanan tersebut juga disebut dapat meningkatkan risiko penyakit kronis. Dalam banyak keluarga, ibu masih menjadi pihak yang paling banyak menanggung beban pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga.
Studi yang diterbitkan dalam Archives of Women’s Mental Health pada Juli 2024 oleh Elizabeth Aviv dan rekan-rekannya menemukan bahwa ibu rata-rata menanggung sekitar 73 persen kerja rumah tangga secara kognitif dan 64 persen secara fisik.
Ketimpangan tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental ibu. Burnout, stres tinggi, depresi, hingga ketidakpuasan dalam hubungan menjadi sejumlah dampak yang mungkin muncul. Meski demikian, beban mental parenting tidak hanya dialami oleh ibu.
Ayah Juga Dapat Mengalami Tekanan
Para ayah juga dapat merasakan beban mental, terutama ketika menghadapi tekanan sosial yang membuat mereka seolah-olah harus menjalankan peran tertentu dalam keluarga. Namun, sebagian ayah masih enggan mencari bantuan terkait kesehatan mental karena adanya stigma.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa tekanan dalam parenting dapat dialami oleh siapa saja. Beban tersebut perlu dibicarakan agar tidak terus menumpuk dan memengaruhi kehidupan keluarga.
Cara Mengurangi Beban Mental Parenting
Turunkan Ekspektasi yang Tidak Realistis
Banyak orang tua merasa harus selalu hadir, menghibur, mendidik, dan mengawasi anak tanpa henti. Media sosial juga dapat membuat orang tua membandingkan diri dengan keluarga lain. Padahal, standar yang terlihat di media sosial belum tentu realistis dan justru dapat menambah tekanan.
Orang tua perlu menyadari bahwa parenting bukan ajang untuk menunjukkan kesempurnaan. Menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membantu mengurangi tekanan yang tidak perlu.
Bangun Dukungan dari Lingkungan
Komunitas dapat menjadi penopang ketika beban mental parenting terasa berat. Dukungan dari teman, keluarga, atau kelompok sesama orang tua dapat membantu seseorang merasa dipahami dan tidak sendirian.
Ketika orang tua memiliki kesempatan untuk berbicara dan merasa didengarkan secara serius, beban emosional biasanya menjadi lebih ringan. Dukungan tersebut juga dapat membantu orang tua menghadapi tekanan dengan lebih baik.
Bicarakan Pembagian Tugas dengan Pasangan
Jika pengasuhan anak dilakukan bersama pasangan, komunikasi terbuka perlu dibangun. Banyak pasangan tidak benar-benar mengetahui seberapa besar beban yang ditanggung pasangannya karena sebagian besar pekerjaan mental memang tidak terlihat.
Pembicaraan yang jujur dapat membantu pasangan memahami tanggung jawab masing-masing. Dengan begitu, pembagian tugas dalam rumah tangga dan pengasuhan anak bisa menjadi lebih adil.
Berikan Ruang untuk Kebutuhan Diri
Orang tua sering kali lupa bahwa dirinya juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Jika seseorang harus meminta izin hanya untuk pergi ke kamar mandi atau menenangkan diri, hal itu dapat menjadi tanda bahwa kebutuhan pribadi sudah terlalu lama ditempatkan di urutan terakhir.
Orang tua dapat mengubah kebiasaan dari “meminta izin” menjadi “memberi tahu” anggota keluarga lain ketika membutuhkan waktu untuk diri sendiri. Dengan cara ini, kebutuhan pribadi tetap diakui sebagai bagian penting dalam keluarga.
Gunakan Jadwal dan Teknologi
Jadwal dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengurangi jumlah keputusan kecil yang harus dipikirkan setiap hari. Contohnya, orang tua dapat membuat jadwal menu sarapan mingguan atau menggunakan pengingat digital untuk berbagai keperluan.
Semakin banyak rutinitas yang dapat diatur atau dibuat otomatis, semakin kecil energi mental yang diperlukan untuk mengambil keputusan berulang. Namun, anggota keluarga juga perlu menghormati jadwal dan perencanaan yang telah dibuat.
Kesimpulan
Beban mental parenting merupakan bagian dari pengasuhan yang sering tidak terlihat, tetapi dapat memengaruhi kesehatan fisik, kondisi emosional, dan hubungan dalam keluarga. Ibu masih menjadi pihak yang paling banyak menanggung beban ini, meskipun ayah juga dapat mengalaminya.
Tekanan tersebut dapat dikurangi dengan menurunkan ekspektasi, membangun dukungan dari komunitas, berkomunikasi secara terbuka dengan pasangan, memberi ruang bagi kebutuhan diri, serta memanfaatkan jadwal dan teknologi. Ke depan, pemahaman bahwa parenting bukan tuntutan untuk selalu sempurna diharapkan dapat membantu orang tua lebih menghargai diri sendiri dan membangun pembagian tanggung jawab yang lebih adil dalam keluarga.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment