Gigi Berlubang pada Anak Bukan Semata Faktor Keturunan, Ini Penyebabnya
Karies atau gigi berlubang pada anak sering kali dikaitkan dengan faktor keturunan. Ketika orang tua memiliki riwayat gigi berlubang, anak pun dianggap lebih berisiko mengalami masalah serupa. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Karies merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari bakteri, kebiasaan menjaga kebersihan gigi, pola makan, hingga bentuk permukaan gigi.
Dokter spesialis gigi dan mulut Mayapada Hospital, Kurnia Dwi Wulan, menjelaskan bahwa karies tidak hanya berkaitan dengan faktor genetik. Menurutnya, terdapat tiga hal utama yang berperan, yakni bakteri, kebiasaan, serta jenis dan frekuensi makanan yang dikonsumsi.
Bakteri dari Orang Tua Dapat Berpindah kepada Anak
Karies pada anak terkadang terlihat seolah-olah diturunkan dari orang tua. Salah satu alasannya adalah adanya kemungkinan perpindahan bakteri dari orang tua ke anak. Perpindahan tersebut dapat terjadi melalui kebiasaan sederhana yang mungkin tidak disadari.
Kurnia mencontohkan kebiasaan orang tua mencicipi makanan anak sebelum diberikan. Selain itu, meniup makanan untuk mengurangi panas juga dapat menjadi salah satu cara terjadinya transfer bakteri secara tidak langsung.
“Biasanya ibu-ibu suka mencicipkan atau meniup makanannya. Itu secara tidak langsung, karena takut kepanasan, sudah ada transfer bakteri,” ujar Kurnia.
Setelah bakteri berpindah, pola bakteri di dalam rongga mulut anak dapat memiliki kemiripan dengan orang tua. Kondisi inilah yang membuat karies tampak seperti berkaitan dengan faktor genetik. Meski demikian, karies tidak dapat disebabkan oleh faktor keturunan saja.
Pola Makan Anak Berpengaruh terhadap Risiko Karies
Jenis dan frekuensi makanan yang dikonsumsi anak juga menjadi faktor penting dalam munculnya gigi berlubang. Makanan yang mengandung gula dan karbohidrat dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri di dalam mulut.
Risiko karies dapat meningkat apabila anak terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman manis. Karena itu, bukan hanya jenis makanan yang perlu diperhatikan, tetapi juga seberapa sering anak mengonsumsinya.
“Biasanya makanannya jenisnya apa, manis-manis, karbohidrat itu sudah termasuk makanan bakteri,” kata Kurnia.
Konsumsi makanan manis yang terlalu sering, terutama jika disertai kebiasaan membersihkan gigi yang kurang baik, dapat mempercepat proses terjadinya karies. Sisa makanan yang masih tertinggal di permukaan gigi dapat mendukung aktivitas bakteri di dalam rongga mulut.
Kebiasaan Menyikat Gigi Tidak Boleh Diabaikan
Kebiasaan menyikat gigi turut menentukan kebersihan rongga mulut anak. Sisa makanan yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menempel di permukaan gigi dan meningkatkan risiko gigi berlubang.
Lekukan Gigi Geraham Sering Terlewat
Bentuk permukaan gigi, khususnya gigi geraham, juga dapat memengaruhi risiko karies. Gigi geraham memiliki lekukan-lekukan pada permukaannya. Bagian tersebut terkadang terlewat ketika anak menyikat gigi.
Akibatnya, sisa makanan dapat lebih mudah menumpuk di dalam lekukan tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya karies, terutama jika anak belum memiliki kebiasaan menyikat gigi dengan baik.
“Lekukan-lekukan ini suka terlewat kalau lagi sikat gigi. Itu juga salah satu faktor yang menyebabkan gigi karies karena makanan sering nyelip di sana,” ujar Kurnia.
Ketika sisa makanan menumpuk, kebiasaan menyikat gigi tidak dilakukan dengan baik, dan konsumsi makanan manis berlangsung terlalu sering, proses terjadinya gigi berlubang dapat berlangsung lebih cepat.
Topical Fluoride untuk Membantu Memperkuat Enamel
Salah satu perawatan yang dapat diberikan untuk membantu mencegah karies adalah topical fluoride. Perawatan ini dilakukan dengan mengoleskan zat yang mengandung fluoride pada permukaan gigi.
Topical fluoride bertujuan membantu memperkuat enamel, yaitu lapisan terluar gigi. Menurut Kurnia, perawatan tersebut diharapkan dapat membuat gigi anak menjadi lebih kuat. Pemberian topical fluoride juga tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak. Orang dewasa dapat memperoleh perawatan serupa sesuai dengan kondisi giginya.
Meski demikian, perawatan fluoride tetap perlu disertai kebiasaan menjaga kebersihan gigi. Menyikat gigi secara rutin dan benar, membatasi frekuensi konsumsi makanan atau minuman manis, serta melakukan pemeriksaan gigi secara berkala tetap menjadi bagian penting dalam upaya mencegah karies.
Kesimpulan
Gigi berlubang pada anak tidak seharusnya langsung dianggap sebagai akibat faktor keturunan. Karies merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk perpindahan bakteri dari orang tua, pola makan, frekuensi konsumsi makanan manis, kebiasaan menyikat gigi, serta bentuk permukaan gigi.
Dengan memahami berbagai faktor tersebut, orang tua dapat lebih memperhatikan kebiasaan yang berpotensi meningkatkan risiko karies pada anak. Menjaga kebersihan gigi, mengatur konsumsi makanan dan minuman manis, serta melakukan pemeriksaan gigi secara berkala diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan gigi anak ke depannya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment