Istri Korban Turbulensi SQ321 Gugat Singapore Airlines di Pengadilan Tinggi Inggris
London — Linda Kitchen, istri penumpang asal Inggris yang meninggal dalam insiden turbulensi parah Singapore Airlines (SIA) SQ321, resmi mengajukan gugatan hukum terhadap maskapai tersebut di Pengadilan Tinggi Inggris. Gugatan itu diajukan untuk menuntut ganti rugi atas cedera yang dialaminya sekaligus meminta pertanggungjawaban atas kematian suaminya, Geoff Kitchen.
Linda Kitchen yang berusia 74 tahun mengalami patah tulang belakang ketika pesawat Boeing 777-300ER yang ditumpanginya mengalami guncangan ekstrem dalam penerbangan dari London menuju Singapura. Sementara itu, Geoff Kitchen, 73 tahun, meninggal dunia setelah terlempar dan mengalami kondisi medis serius akibat turbulensi tersebut.
Linda Kitchen Ajukan Dua Gugatan Terpisah
Berdasarkan dokumen Pengadilan Tinggi Inggris, keluarga Kitchen mengajukan dua gugatan hukum yang berbeda. Gugatan pertama diajukan atas nama pribadi Linda Kitchen untuk mendukung biaya pemulihan medis akibat cedera yang dideritanya.
Gugatan kedua diajukan untuk mewakili aset atau harta peninggalan atas nama almarhum Geoff Kitchen. Langkah hukum tersebut berkaitan dengan kematian Geoff dalam insiden penerbangan SQ321 yang terjadi pada 21 Mei 2024.
Sejumlah penumpang lain juga tercatat mengajukan gugatan serupa terhadap Singapore Airlines. Mereka antara lain Bradley Richards, Jack Jenkins, Hannah Fullerton, Andrew Dawood, Bryan Matthews, serta pasangan Pauline dan Michael Rainey.
Pihak manajemen Singapore Airlines menolak memberikan komentar ketika dikonfirmasi mengenai proses hukum yang sedang berlangsung di pengadilan.
Kronologi Turbulensi Parah Penerbangan SQ321
Linda dan Geoff Kitchen sedang memulai perjalanan liburan selama enam minggu menuju Singapura, Indonesia, dan Australia. Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi tragedi ketika pesawat yang mereka tumpangi menghantam turbulensi hebat di atas wilayah udara Myanmar.
Menurut Linda, guncangan yang terjadi sangat kuat hingga membuatnya mengira pesawat akan jatuh. Dalam insiden tersebut, Geoff terlempar dan menindih tubuh Linda hingga tubuh perempuan itu terhimpit di sandaran tangan kursi.
Para penumpang lain segera memberikan pertolongan, termasuk melakukan resusitasi jantung paru atau CPR kepada Geoff. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Linda kemudian menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Bangkok selama 10 hari. Setelah itu, ia diterbangkan kembali ke Bristol, Inggris, untuk memperoleh perawatan lanjutan. Linda baru mengetahui kabar kematian suaminya dua hari setelah insiden berlangsung.
“Tidak ada hal yang bisa mempersiapkan saya saat mendengar dia telah tiada. Itu benar-benar menghancurkan hati saya,” ujar Linda. Ia juga mengatakan bahwa dirinya merasa memiliki kewajiban untuk mendapatkan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya.
Pesawat Mendarat Darurat di Bangkok
Penerbangan SQ321 membawa 211 penumpang dan 18 awak kabin. Pesawat tersebut terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bangkok, Thailand, setelah mengalami guncangan ekstrem dalam perjalanan dari London menuju Singapura.
Perubahan gaya gravitasi yang berlangsung sangat cepat membuat penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman terlempar ke udara sebelum kembali menghantam lantai kabin. Insiden itu menyebabkan satu orang meninggal dunia, 56 orang mengalami luka berat, dan 23 orang lainnya menderita luka ringan.
Temuan Laporan Investigasi TSIB
Laporan akhir Biro Penyelidikan Keselamatan Transportasi Singapura atau TSIB yang dirilis pada Mei 2026 menyimpulkan bahwa Geoff Kitchen meninggal akibat gagal jantung dan pulmonary oedema, yaitu kondisi penumpukan cairan di paru-paru.
Para penyelidik menemukan bahwa turbulensi dipicu oleh konveksi awan yang berkembang dengan cepat. Fenomena tersebut menghasilkan arus udara naik dan turun atau updraft serta downdraft yang signifikan.
Indikator radar cuaca pesawat tidak mendeteksi adanya cuaca buruk beberapa menit sebelum kejadian. Selain itu, kondisi visual di jalur penerbangan juga menunjukkan keadaan yang tampak cerah.
Lampu tanda sabuk pengaman sempat dinyalakan ketika guncangan awal mulai terjadi. Namun, turbulensi parah menghantam pesawat hanya 17 detik kemudian. Kondisi tersebut membuat awak kabin disebut tidak memiliki cukup waktu untuk menyampaikan pengumuman darurat kepada seluruh penumpang.
Proses Hukum Masih Berlangsung
Gugatan yang diajukan Linda Kitchen kini menjadi bagian dari proses hukum yang melibatkan Singapore Airlines dan sejumlah penumpang lain. Selain berupaya memperoleh ganti rugi atas cedera yang dialaminya, Linda juga mencari kejelasan atas kematian suaminya dalam insiden tersebut.
Perkembangan perkara di Pengadilan Tinggi Inggris akan menentukan kelanjutan tuntutan keluarga Kitchen serta para penumpang lainnya. Hingga saat ini, Singapore Airlines belum memberikan pernyataan mengenai substansi gugatan karena proses hukum masih berjalan.
Kesimpulan
Linda Kitchen resmi menggugat Singapore Airlines setelah mengalami patah tulang belakang dalam turbulensi parah penerbangan SQ321 yang menewaskan suaminya, Geoff Kitchen. Keluarga Kitchen mengajukan dua gugatan terpisah, sementara sejumlah penumpang lain juga menempuh langkah hukum serupa.
Di sisi lain, laporan TSIB menyebut turbulensi dipicu oleh perkembangan konveksi awan yang cepat dan menyebabkan arus udara ekstrem. Proses hukum di Inggris diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi keluarga korban dan para penumpang mengenai tanggung jawab serta dampak dari insiden tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment