Kabut Asap Karhutla Dapat Melemahkan Pertahanan Paru dan Meningkatkan Risiko Pneumonia
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu jarak pandang. Partikel yang terbawa dalam asap dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu sistem pertahanan alami paru sehingga organ ini menjadi lebih rentan terhadap infeksi.
Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya peluang terjadinya infeksi yang dapat berkembang menjadi pneumonia. Namun, kabut asap tidak secara langsung berubah menjadi pneumonia. Paparan asap lebih tepat dipahami sebagai faktor yang dapat melemahkan berbagai mekanisme perlindungan paru terhadap partikel asing dan mikroorganisme.
PM2.5 Dapat Masuk hingga Bagian Dalam Paru
Komponen kabut asap yang perlu diwaspadai adalah particulate matter atau particulate matter (PM), terutama PM2.5. Partikel ini memiliki diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer sehingga ukurannya sangat kecil.
Karena berukuran kecil, PM2.5 dapat melewati saluran pernapasan bagian atas dan masuk ke bagian paru yang lebih dalam. Partikel tersebut bahkan dapat mencapai alveolus, yaitu bagian paru tempat berlangsungnya pertukaran oksigen.
Masuknya partikel ke area tersebut menjadi perhatian karena paru-paru sebenarnya memiliki sejumlah mekanisme pertahanan untuk menangkap serta mengeluarkan partikel asing dan mikroorganisme yang ikut terhirup. Paparan asap dapat mengganggu mekanisme perlindungan tersebut.
Mengganggu Sistem Pembersih Alami Saluran Napas
Melansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), saluran pernapasan memiliki mekanisme alami yang disebut mucociliary clearance. Mekanisme ini bekerja seperti sistem pembersih di dalam saluran napas.
Peran Lendir dan Silia
Dalam mekanisme tersebut, lendir berfungsi menangkap partikel dan mikroorganisme yang masuk ke saluran pernapasan. Setelah itu, silia atau rambut-rambut kecil yang berada di saluran napas menggerakkan lendir menuju tenggorokan agar dapat dikeluarkan atau ditelan.
Namun, paparan partikel dari asap dapat mengurangi efektivitas mekanisme tersebut. Produksi sejumlah zat antimikroba yang berperan membantu melawan mikroorganisme juga dapat terganggu. Akibatnya, bakteri dan partikel asing yang seharusnya dibersihkan dapat bertahan lebih lama di saluran pernapasan.
Fungsi Makrofag di Dalam Paru Dapat Terganggu
Selain mekanisme pembersihan melalui lendir dan silia, paru-paru memiliki sel imun yang disebut alveolar macrophage atau makrofag alveolar. Sel ini bertugas menangkap dan menghancurkan mikroorganisme serta partikel asing yang masuk ke dalam paru.
Mengutip kajian dalam Particle and Fibre Toxicology, paparan particulate matter dapat mengganggu kemampuan makrofag dalam melakukan fagositosis. Fagositosis merupakan proses ketika sel menangkap dan menghancurkan bakteri maupun partikel asing.
Salah satu bakteri yang dapat terpengaruh oleh gangguan tersebut adalah Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini merupakan salah satu penyebab pneumonia. Dengan kata lain, paparan asap dapat membuat salah satu sistem “petugas kebersihan” di dalam paru tidak bekerja seoptimal biasanya.
Asap Dapat Merusak Pertahanan Awal Saluran Pernapasan
Asap kebakaran juga dapat mengganggu epithelial barrier, yaitu lapisan sel yang menjadi salah satu pertahanan pertama pada saluran pernapasan. Lapisan ini berperan sebagai penghalang sebelum mikroorganisme mencapai jaringan paru yang lebih dalam.
Ketika pertahanan tersebut terganggu, mikroorganisme yang masuk ke paru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan menyebabkan infeksi. Gangguan pada beberapa lapisan perlindungan paru ini membuat organ tersebut lebih rentan terhadap paparan bakteri maupun mikroorganisme lainnya.
Hubungan Kabut Asap dengan Pneumonia
Pneumonia merupakan infeksi pada jaringan paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur. Oleh karena itu, asap karhutla bukan penyebab infeksi yang secara langsung berubah menjadi pneumonia.
Hubungan antara kabut asap dan pneumonia lebih berkaitan dengan melemahnya pertahanan alami paru. Ketika sistem pembersihan saluran napas, fungsi makrofag, zat antimikroba, serta epithelial barrier mengalami gangguan, paru-paru dapat menjadi lebih rentan terhadap mikroorganisme penyebab infeksi.
Kesimpulan
Kabut asap akibat karhutla tidak hanya berdampak pada jarak pandang, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan paru-paru. PM2.5 yang berukuran sangat kecil mampu masuk hingga alveolus dan berpotensi mengganggu sistem pertahanan alami organ tersebut.
Paparan asap dapat mengurangi efektivitas mucociliary clearance, mengganggu kemampuan makrofag melakukan fagositosis, serta merusak epithelial barrier. Rangkaian gangguan ini tidak berarti asap secara langsung menyebabkan pneumonia, tetapi dapat meningkatkan kerentanan paru terhadap infeksi yang pada akhirnya berpotensi berkembang menjadi pneumonia.
Karena itu, pemahaman mengenai dampak kabut asap terhadap pertahanan paru menjadi penting, terutama ketika karhutla masih terjadi. Ke depan, perhatian terhadap kualitas udara dan dampaknya terhadap sistem pernapasan perlu terus ditingkatkan agar risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap dapat dipahami dengan lebih baik.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment