Kentut Terus-Menerus dan Berbau Menyengat? Kenali Berbagai Kemungkinan Penyebabnya
Kentut merupakan bagian normal dari proses pencernaan dan dialami oleh semua orang. Gas terbentuk di saluran pencernaan ketika tubuh memproses makanan. Meski demikian, setiap orang dapat mengalami kentut dengan frekuensi, suara, dan bau yang berbeda.
Dokter Rucha Shah menjelaskan bahwa kentut yang sesekali muncul dan tidak berbau umumnya masih termasuk kondisi normal. Gas tersebut bahkan dapat menjadi tanda bahwa sistem pencernaan sedang bekerja. Namun, kentut yang terjadi terus-menerus, berlebihan, atau memiliki bau sangat menyengat perlu diperhatikan, terutama apabila disertai keluhan lain seperti perut kembung, rasa tidak nyaman, atau perubahan pola buang air besar.
Gangguan Pencernaan Dapat Memicu Produksi Gas
Produksi gas berlebih dapat terjadi ketika proses pencernaan makanan tidak berjalan secara optimal. Kondisi ini dapat berkaitan dengan jumlah asam lambung, enzim pencernaan, atau empedu yang tidak mencukupi untuk membantu memecah makanan dan menyerap nutrisi.
Apabila makanan tidak tercerna atau terserap dengan baik, sebagian komponennya dapat masuk ke usus besar dalam kondisi belum sepenuhnya dicerna. Bakteri di dalam usus kemudian memfermentasi sisa makanan tersebut. Proses fermentasi ini menghasilkan gas yang dapat menyebabkan kentut lebih sering, perut kembung, dan rasa tidak nyaman.
Ahli gizi Sarah Glinski menyebutkan, orang yang pernah menjalani operasi pengangkatan kantong empedu atau memiliki gangguan pada pankreas dan saluran pencernaan dapat lebih berisiko mengalami masalah pencernaan maupun penyerapan nutrisi.
Malabsorpsi Karbohidrat dan Makanan Pemicu
Kesulitan menyerap jenis karbohidrat tertentu dikenal sebagai malabsorpsi karbohidrat. Dokter Supriya Rao menjelaskan, laktosa, fruktosa, FODMAP, dan jenis gula tertentu dapat lebih sulit diserap oleh sebagian orang.
Karbohidrat yang tidak terserap akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri. Akibatnya, gas dapat terbentuk dalam jumlah lebih banyak dan memicu perut kembung serta kentut yang berbau. Beberapa bahan makanan yang sulit dicerna, termasuk gula alkohol dan pemanis buatan tertentu, juga dapat memicu proses fermentasi pada sebagian orang.
Mencatat Makanan dan Gejala
Jika keluhan berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu, mencatat jenis makanan yang dikonsumsi serta gejala yang muncul dapat membantu menemukan kemungkinan pemicu. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi juga dapat dilakukan, terutama apabila keluhan tidak kunjung membaik.
Malabsorpsi karbohidrat dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi, seperti small intestinal bacterial overgrowth atau SIBO, penyakit radang usus, sindrom iritasi usus atau IBS, hingga penyakit celiac.
Ketidakseimbangan Mikrobioma Usus
Mikrobioma usus terdiri atas berbagai mikroorganisme yang berperan dalam proses pencernaan, produksi nutrisi, dan pemeliharaan kesehatan saluran pencernaan. Ketika keseimbangan mikroorganisme tersebut terganggu, kondisi ini disebut disbiosis.
Disbiosis dapat mengubah proses fermentasi di dalam usus sehingga jumlah dan jenis gas yang dihasilkan ikut berubah. Kondisi ini dapat menyebabkan kentut lebih sering, bau yang lebih menyengat, perut kembung, serta perubahan pola buang air besar.
Pemecahan protein yang tidak tercerna di usus besar juga dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida. Senyawa tersebut berkontribusi terhadap bau kentut yang lebih kuat.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan mikrobioma antara lain penggunaan antibiotik, pola makan rendah serat dan minim variasi tumbuhan, stres berkepanjangan, infeksi saluran pencernaan, kurang tidur, obat-obatan tertentu, serta sejumlah kondisi kesehatan kronis.
SIBO dan Gas Setelah Makan
Small intestinal bacterial overgrowth atau SIBO merupakan kondisi ketika jumlah bakteri di usus halus meningkat secara tidak normal. Salah satu tandanya adalah gas dan perut kembung yang muncul secara menetap, termasuk sekitar 30 menit hingga tiga jam setelah makan.
Pada SIBO, bakteri yang biasanya lebih banyak ditemukan di usus besar berada di usus halus. Bakteri tersebut memfermentasi karbohidrat sebelum makanan diserap tubuh, kemudian menghasilkan hidrogen, metana, dan gas lainnya.
Jenis gas yang terbentuk dapat memengaruhi bau kentut. Pada SIBO yang didominasi hidrogen sulfida, misalnya, kentut dapat berbau menyerupai telur busuk. Namun, gejala SIBO dapat menyerupai berbagai gangguan pencernaan lain. Oleh sebab itu, kentut dan perut kembung tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami SIBO. Pemeriksaan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Intestinal Methanogen Overgrowth dan Sembelit Kronis
Selain SIBO, terdapat kondisi bernama intestinal methanogen overgrowth atau IMO. Kondisi ini terjadi ketika mikroorganisme penghasil metana, terutama Methanobrevibacter smithii, berkembang secara berlebihan di saluran pencernaan.
IMO berbeda dari SIBO. SIBO berkaitan dengan bakteri dan terutama terjadi di usus halus, sedangkan IMO melibatkan mikroorganisme yang disebut archaea dan dapat muncul di berbagai bagian saluran pencernaan. Mikroorganisme tersebut menggunakan hidrogen yang dihasilkan mikroba lain untuk membentuk gas metana.
IMO kerap dikaitkan dengan sembelit kronis. Gas metana dapat memperlambat pergerakan makanan di saluran pencernaan. Pergerakan usus yang melambat kemudian dapat memperparah penumpukan mikroorganisme dan rasa kembung.
Kesimpulan
Kentut sesekali dan tidak berbau umumnya merupakan bagian normal dari pencernaan. Namun, kentut yang terus-menerus, berlebihan, atau berbau sangat menyengat dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan, malabsorpsi karbohidrat, disbiosis, SIBO, maupun IMO.
Kentut yang disertai sembelit kronis, perut kembung, atau perubahan pola buang air besar sebaiknya tidak diabaikan. Mencatat makanan dan gejala dapat membantu mengenali pola keluhan, sementara pemeriksaan oleh dokter atau ahli gizi diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Dengan pemantauan yang tepat, gangguan pencernaan yang mendasari keluhan dapat ditelusuri secara lebih akurat.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment