Review Film Operasi Pesta Copet: Atmosfer Skena Musik Lebih Menonjol daripada Aksi Heist
Operasi Pesta Copet merupakan film panjang perdana garapan Edy Khemod, drummer band Seringai. Film ini menawarkan perpaduan antara kehidupan skena festival musik, kisah pencopetan, dan unsur heist yang dibalut sentilan sosial-ekonomi. Dengan latar dunia konser yang dekat dengan anak muda, film ini terasa paling kuat ketika menggambarkan suasana Pestapora dan kehidupan para penikmat musik di dalamnya.
Berbekal pengalaman yang lekat dengan dunia musik, Edy mampu menghadirkan detail yang membuat Operasi Pesta Copet terasa autentik bagi penonton yang terbiasa datang ke festival, konser, atau acara musik sejenis. Namun, di sisi lain, ambisi untuk menggabungkan atmosfer festival musik dengan ketegangan film heist belum sepenuhnya menghasilkan suspense yang kuat.
Atmosfer Festival Musik Menjadi Kekuatan Utama
Salah satu aspek paling menonjol dari film ini adalah kemampuannya memotret skena musik secara hidup. Detail-detail kecil, seperti merchandise band yang dikenakan para karakter, memperlihatkan perhatian terhadap budaya yang ingin ditampilkan. Beberapa nama band yang muncul antara lain The Adams, Teenage Death Star, The Jansen, dan Seringai.
Keautentikan tersebut semakin terasa karena sebagian gambar film diambil langsung ketika gelaran Pestapora 2025 berlangsung. Penggunaan lokasi dan suasana festival membuat dunia film terasa lebih meyakinkan. Musik yang dipilih sejak awal juga mendukung atmosfer cerita dan memperkuat identitas Operasi Pesta Copet sebagai film yang berangkat dari skena konser.
Penonton yang tidak terlalu akrab dengan festival musik pun tetap dapat mengikuti cerita. Film ini menyelipkan penjelasan mengenai konser, moshpit, serta perilaku penonton. Pendekatan tersebut membuat unsur skena musik tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga menjadi bagian penting dari pengalaman menonton.
Pesan Sosial dan Pembagian Karakter yang Tegas
Melalui naskah yang ditulis Edy bersama Rino Sarjono, film ini menyampaikan sejumlah sentilan mengenai ketimpangan sosial dan ekonomi. Cerita juga membawa gagasan bahwa tindakan yang salah dapat memiliki alasan tertentu. Kendati demikian, film tetap memasang disclaimer pada bagian awal sebagai bentuk perlindungan terhadap gagasan yang disampaikan.
Karakter dalam film ini dibagi secara cukup tegas antara sosok baik dan buruk. Sebagian tokoh mendapatkan perkembangan, sementara beberapa lainnya sengaja digambarkan sebagai karakter yang benar-benar buruk. Pilihan tersebut membuat konflik lebih mudah dipahami, tetapi sekaligus membuat pendekatan moral film terasa cukup langsung.
Ambisi film untuk menggabungkan kehidupan festival musik populer, cerita pencopetan, genre heist, dan pesan moral sebenarnya cukup besar. Terlebih, kisah tersebut disebut berangkat dari pengalaman nyata Edy. Namun, perpaduan berbagai elemen itu belum sepenuhnya seimbang. Unsur musik dan kebersamaan karakter justru terasa lebih kuat dibandingkan ketegangan dalam aksi heist.
Upaya Autentik yang Belum Sepenuhnya Berhasil
Upaya Edy untuk menjaga proses pengambilan gambar agar terasa autentik patut diapresiasi. Para pemain menjalani latihan untuk mempelajari teknik tangan dan koordinasi ketika mengoper barang. Persiapan tersebut menunjukkan keseriusan produksi dalam menggambarkan aksi pencopetan secara meyakinkan.
Sayangnya, hasil akhirnya belum mampu membangun suspense yang seharusnya menjadi daya tarik utama cerita. Aksi pencopetan dan heist lebih terasa sebagai cerita sampingan, bukan pusat perhatian. Kondisi ini membuat judul film seolah memberikan ekspektasi yang lebih besar terhadap unsur pencopetan dibandingkan yang benar-benar ditampilkan.
Performa Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal
Tantangan terbesar terlihat pada penampilan Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal. Ia dinilai belum cukup meyakinkan untuk memerankan sosok pencopet yang terdesak oleh masalah ekonomi. Karakter tersebut seharusnya memperlihatkan kelelahan dan tekanan hidup akibat kesulitan mencari uang, tetapi kesan itu belum sepenuhnya tampak dalam penampilan Iqbaal.
Wajah dan tampilan Iqbaal masih terasa terlalu rapi untuk menggambarkan seseorang yang berada di tengah kerasnya ketimpangan ekonomi. Meski terdapat sejumlah momen emosional yang berhasil ia bawakan, performanya masih membutuhkan pendalaman lebih jauh agar kehidupan Ijal terasa benar-benar dekat dengan penonton.
Performa Pemain Pendukung Lebih Menonjol
Di tengah kekurangan tersebut, beberapa pemain pendukung mampu menghidupkan karakter mereka dengan baik. Fauzan Lubis menjadi salah satu pemain yang paling nyaman disaksikan melalui cara bicara, gestur, dan pembawaannya.
Fauzan berhasil menjadikan Silet sebagai sosok yang licik secara natural. Ia tidak hanya tampil sebagai karakter jahat, tetapi juga terasa seperti abang tongkrongan dari kelas bawah yang terbiasa mencari celah untuk bertahan hidup.
Kristo Immanuel sebagai Adut, Kawai Labiba sebagai Melodi, dan Zulfa Maharani sebagai Tia juga mampu menghidupkan kelompok kawan Ijal. Kebersamaan mereka ketika menjalankan aksi pencopetan terasa sebagai salah satu bagian yang paling hangat dari film ini.
Kesimpulan
Operasi Pesta Copet lebih berhasil membangun kehidupan skena musik dan hubungan antarkarakter dibandingkan menghadirkan ketegangan khas film heist. Atmosfer Pestapora, detail merchandise band, musik, serta gambaran perilaku penonton menjadi kekuatan utama yang membuat film ini terasa dekat bagi mereka yang akrab dengan dunia konser.
Meski aksi pencopetan belum mampu menjadi sumber suspense yang kuat dan performa Iqbaal sebagai Ijal masih terasa kurang meyakinkan, film ini tetap memiliki daya tarik melalui kebersamaan para tokohnya. Kisah Ijal, Adut, Melodi, dan Tia menghadirkan pengingat bahwa di tengah sulitnya kehidupan, masih ada orang-orang yang dapat menjadi tempat untuk pulang dan bertahan bersama.
Pada akhirnya, film perdana Edy Khemod ini menunjukkan potensi besar dalam mengangkat budaya musik dan kehidupan anak muda ke layar lebar. Jika eksplorasi terhadap unsur heist dan pendalaman karakter dapat dibuat lebih seimbang, pendekatan serupa berpeluang menghasilkan karya yang semakin kuat pada masa mendatang.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment