Sherina Munaf Ajak Mahasiswa Ikut Padamkan Karhutla di Sekitar Universitas Palangka Raya

Sherina Munaf mengajak mahasiswa untuk turut terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ajakan tersebut disampaikan saat Sherina mengunjungi kampus itu pada hari ketiganya berada di Kalimantan Tengah bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Dalam kunjungan tersebut, Sherina bertemu dengan rektor dan sejumlah mahasiswa Universitas Palangka Raya. Setelah itu, ia menuju kawasan hutan yang berada di belakang Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Di lokasi tersebut, beberapa mahasiswa telah lebih dahulu bergabung dalam upaya memadamkan api.

Sherina Ajak Mahasiswa Bergabung dalam Pemadaman

Sherina mengatakan, lokasi kebakaran hanya berjarak sekitar 200 meter dari gedung kampus. Kondisi itu membuat kebakaran hutan menjadi perhatian serius bagi sivitas akademika Universitas Palangka Raya.

Ia menyebut sejumlah mahasiswa dan mahasiswi telah bekerja sejak beberapa hari sebelumnya untuk mengendalikan api. Mereka bahkan terus melakukan pemadaman hingga malam hari demi mengamankan kawasan kampus dan hutan di sekitarnya.

Melalui video yang dibuat bersama mahasiswa Universitas Palangka Raya, Sherina mengajak mahasiswa lain untuk ikut berkontribusi. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak dibutuhkan untuk melindungi dan melestarikan kekayaan alam Indonesia.

“Para mahasiswa lain ayo ikutan bergabung memadamkan hutan. Supaya kita bisa melindungi, melestarikan kekayaan alam negeri kita,” ujar Sherina.

Sherina juga mengapresiasi semangat para mahasiswa yang terlibat langsung di lapangan. Ia menilai kontribusi tersebut tidak hanya membantu memadamkan api, tetapi juga menjaga keamanan area kampus.

Hutan Kampus Menjadi Habitat Beragam Satwa

Bagi mahasiswa dan dosen Universitas Palangka Raya, kawasan hutan di belakang kampus bukan sekadar ruang terbuka hijau. Area tersebut juga digunakan sebagai lokasi praktikum karena memiliki beragam jenis tumbuhan dan satwa.

Sherina mengungkapkan, pada 2020 kawasan itu tercatat menjadi habitat sekitar 63 spesies burung. Namun, kebakaran yang melanda hutan membuat sejumlah burung tidak lagi terlihat di lokasi tersebut. Beberapa di antaranya bahkan disebut bergerak lebih dekat ke area pinggir kota.

Sejumlah satwa yang pernah ditemukan di kawasan tersebut antara lain burung bangau tongtong dan burung elang kelelawar. Sherina menyebut burung elang kelelawar terakhir kali terlihat pada 2022. Selain burung, kawasan itu juga menjadi habitat berbagai jenis reptil, termasuk ular.

Keberadaan beragam satwa tersebut menjadi indikator bahwa hutan di sekitar kampus memiliki ekosistem yang sehat. Karena itu, Sherina memahami alasan mahasiswa dan dosen memiliki keterikatan khusus dengan kawasan tersebut serta berupaya keras menyelamatkannya dari kebakaran.

Medan Pemadaman Dinilai Lebih Menantang

Sherina turut membagikan pengalamannya saat mengikuti proses pemadaman. Ia menilai medan yang dihadapi kali ini lebih sulit dibandingkan kegiatan rewetting atau pembasahan kembali yang sebelumnya dilakukan di kawasan Hiu Putih dan Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.

Menurut Sherina, banyak batang kayu berada di atas lahan gambut yang masih sangat panas. Karena itu, para petugas dan relawan harus mendinginkan area terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh. Bara api yang masih aktif membuat proses pemadaman harus dilakukan secara hati-hati.

Ia juga menyadari bahwa api yang terlihat padam belum tentu benar-benar berhenti. Lahan gambut yang mudah terbakar dapat kembali menyalakan api di area lain. Saat satu bagian berhasil dipadamkan, bagian lain bisa kembali terbakar.

“Gambut itu sangat mudah terbakar. Kemudian yang kita padamkan nyala lagi. Kita ke kanan padamkan yang kanan, yang kiri nyala lagi,” kata Sherina.

Pengalaman tersebut membuat Sherina memahami besarnya tenaga dan ketahanan mental yang diperlukan para relawan dalam menghadapi karhutla. Ia berharap masyarakat semakin sadar terhadap kondisi kebakaran hutan di Kalimantan Tengah dan bersedia memberikan dukungan untuk pemulihan lingkungan.

Data Karhutla Kalimantan Tengah per 3 September 2026

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah, hingga 3 September 2026 pukul 18.00 WIB terdapat 2.864 titik hotspot dan 70 kejadian karhutla. Luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 195,91 hektare.

Jumlah tersebut menurun dibandingkan catatan pada 2 September 2026. Sehari sebelumnya, BPBD mencatat 4.282 titik hotspot dan 74 kejadian karhutla.

Dibandingkan data 1 September 2026, jumlah hotspot pada 3 September juga lebih rendah. Pada 1 September tercatat 3.905 titik hotspot. Namun, jumlah kejadian karhutla pada 3 September lebih tinggi karena pada 1 September tercatat 50 kejadian.

BPBD menyebut penanganan karhutla didukung 10.700 personel gabungan, enam unit helikopter, serta satu unit pesawat OMC atau patroli.

Kesimpulan

Ajakan Sherina Munaf menyoroti pentingnya keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam menjaga hutan di sekitar Universitas Palangka Raya. Kawasan tersebut memiliki nilai penting bagi kegiatan akademik sekaligus menjadi habitat berbagai tumbuhan dan satwa.

Meski jumlah titik hotspot dan kejadian karhutla menurun dibandingkan hari sebelumnya, proses pemadaman masih menghadapi tantangan, terutama karena karakter lahan gambut yang mudah kembali terbakar. Dukungan personel, peralatan, dan kesadaran masyarakat tetap diperlukan agar kebakaran dapat dikendalikan dan kawasan hutan yang terdampak bisa dipulihkan bersama.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment