Dewan Perdamaian Desak Hamas Hentikan Penerbangan Layang-Layang ke Israel

Gaza – Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP) mendesak Hamas menghentikan seluruh aktivitas militan di Gaza, termasuk penerbangan layang-layang ke wilayah Israel. Seruan tersebut disampaikan ketika ketegangan antara Hamas dan Israel kembali meningkat setelah sejumlah layang-layang ditemukan di wilayah selatan Israel.

Dalam pernyataan pada Selasa (25/8), BoP menegaskan bahwa seluruh pihak harus menahan diri dan mematuhi kesepakatan gencatan senjata. Selain meminta Hamas menghentikan penerbangan layang-layang, BoP juga memperingatkan Israel agar tidak mengambil tindakan militer yang melampaui ancaman nyata dan mendesak.

BoP Minta Hamas Hentikan Aktivitas Militan

BoP menyatakan telah menyampaikan pesan secara langsung kepada pihak-pihak terkait melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Dewan tersebut menilai segala aktivitas militan di Gaza, termasuk penerbangan layang-layang, harus dihentikan demi menjaga keberlangsungan gencatan senjata.

“Segala aktivitas militan di Gaza harus dihentikan, termasuk penerbangan layang-layang. Kami telah menyampaikan pesan ini secara langsung melalui mekanisme yang telah ditetapkan,” demikian pernyataan BoP seperti dikutip AFP.

Namun, seruan BoP tidak hanya ditujukan kepada Hamas. Dalam pernyataan yang sama, organisasi tersebut juga meminta Israel mematuhi kesepakatan gencatan senjata dan tidak memberikan respons berlebihan terhadap sesuatu yang tidak terbukti sebagai ancaman nyata.

BoP menegaskan, tindakan militer Israel tidak boleh melampaui batas respons yang diperlukan untuk menghadapi ancaman yang benar-benar nyata dan mendesak. Imbauan ini disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan kembali menyerang Gaza apabila Hamas terus menerbangkan layang-layang, drone, dan balon.

Israel Kembali Soroti Layang-Layang dari Gaza

Ancaman Netanyahu disampaikan pada Minggu (23/8), menyusul penemuan sejumlah layang-layang di wilayah selatan Israel, dekat perbatasan dengan Gaza. Keberadaan layang-layang tersebut disebut membangkitkan trauma warga Israel terhadap penggunaan layang-layang dan balon yang sebelumnya pernah membawa alat pembakar ke wilayah Israel selatan.

Meski demikian, layang-layang yang ditemukan kali ini telah dikonfirmasi tidak membawa bahan peledak. Berdasarkan laporan media Israel, hanya satu layang-layang yang diketahui memuat pesan politik.

Situasi tersebut kemudian memicu perdebatan mengenai apakah penerbangan layang-layang itu dapat dikategorikan sebagai aktivitas militan. Hamas membantah penilaian tersebut dan menyebut layang-layang yang dimaksud merupakan milik anak-anak Palestina.

Hamas dan PBB Kritik Ancaman Netanyahu

Anggota biro politik Hamas, Basem Naim, merespons pernyataan BoP dengan kemarahan. Ia mempertanyakan pelabelan aktivitas anak-anak sebagai tindakan bersenjata, terutama ketika serangan dan kehancuran di Gaza masih terus terjadi meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata.

Naim juga menilai sikap tersebut sebagai upaya untuk menyenangkan Netanyahu. Menurutnya, layang-layang yang menjadi perhatian bukanlah bagian dari kegiatan bersenjata, melainkan aktivitas anak-anak Palestina.

Kritik serupa disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada Selasa, juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani, menyebut ancaman Netanyahu terkait anak-anak yang menerbangkan layang-layang sebagai sesuatu yang keterlaluan.

“Mengenai ancaman pengusiran akibat anak-anak menerbangkan layang-layang, saya harap kita semua sepakat bahwa ini keterlaluan,” kata Shamdasani.

Situasi Gencatan Senjata Gaza Masih Rapuh

Ketegangan terbaru ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh. Pada Senin (24/8), otoritas Gaza melaporkan sedikitnya lima orang, termasuk dua anak-anak, tewas akibat tembakan yang dilancarkan Israel.

BoP dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengawasi gencatan senjata di Gaza yang dideklarasikan pada Oktober. Sejak kesepakatan tersebut berlaku, Israel disebut terus melakukan pelanggaran melalui serangkaian serangan yang menewaskan 1.288 warga Palestina.

Di sisi lain, Netanyahu belakangan menyuarakan keraguan terhadap janji Hamas untuk melucuti persenjataannya. Ia bahkan meminta utusan khusus sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, agar jenderal Amerika Serikat ditugaskan untuk memverifikasi pemusnahan seluruh persenjataan Hamas.

Menanggapi sikap Netanyahu, BoP menyatakan pasukan Israel tidak perlu meninggalkan Gaza sebelum Hamas benar-benar melucuti seluruh senjatanya. Sikap ini berbeda dari pernyataan BoP sebelumnya yang mendesak Israel memulai penarikan pasukan secara bertahap dari Gaza.

Kesimpulan

Seruan Dewan Perdamaian agar Hamas menghentikan penerbangan layang-layang menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap setiap aktivitas di sekitar perbatasan Gaza dan Israel. Namun, BoP juga menekankan bahwa Israel wajib mematuhi gencatan senjata serta tidak menggunakan kekuatan militer secara berlebihan.

Perbedaan pandangan mengenai layang-layang tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya situasi di Gaza. Ke depan, keberlangsungan gencatan senjata akan sangat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk menahan diri, menghentikan tindakan yang dapat memicu eskalasi, dan menjalankan kesepakatan secara konsisten.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment