Imran Khan Lebih dari Tiga Tahun Dipenjara, Tokoh Inggris Soroti Spekulasi Kondisinya

London – Mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah menjalani lebih dari tiga tahun masa tahanan. Sebagian besar waktu tersebut disebut dihabiskan dalam sel isolasi. Kondisi dan nasib politiknya kembali menjadi sorotan setelah ia dipindahkan dari sel isolasi ke rumah sakit, sebuah keputusan yang memunculkan berbagai spekulasi mengenai situasi di balik penahanannya.

Daniel Hannan, Presiden Institute of Economic Affairs asal Inggris, mempertanyakan minimnya perhatian komunitas internasional terhadap kondisi Imran Khan. Dalam analisisnya yang dikutip The Telegraph, Hannan menyinggung sejumlah dugaan mengenai keadaan Khan serta kemungkinan adanya kepentingan politik di balik keputusan pemindahan tersebut.

Spekulasi Mengenai Kondisi Imran Khan

Hannan mempertanyakan apakah Imran Khan sedang mengalami upaya peracunan secara perlahan. Ia juga mengangkat kemungkinan bahwa otoritas militer Pakistan tengah menguji sejauh mana mereka dapat menyingkirkan Khan tanpa memicu konflik besar, termasuk perang saudara.

Pertanyaan tersebut disampaikan Hannan dalam konteks kurangnya perhatian publik global terhadap mantan perdana menteri Pakistan itu. Menurutnya, perhatian terhadap nasib Khan lebih banyak datang dari warga Inggris keturunan Pakistan, sementara masyarakat internasional secara umum dinilai tidak cukup menaruh perhatian.

Hannan menilai hubungan Khan dengan Inggris seharusnya membuat nasibnya lebih dikenal di negara tersebut. Khan pernah bermain kriket untuk Universitas Oxford dan Worcestershire. Ia juga menghabiskan masa pembentukannya di Inggris serta berbicara bahasa Urdu dengan aksen Inggris.

Meski demikian, Hannan menyebut banyak penggemar Khan di Inggris terkejut setelah mengetahui bahwa tokoh tersebut telah menghabiskan lebih dari tiga tahun di penjara, dengan sebagian besar masa tahanan dijalani dalam sel isolasi.

Perjalanan Imran Khan dari Kriket ke Politik

Imran Khan memiliki perjalanan hidup yang tidak biasa dalam lanskap politik Pakistan. Namanya pertama kali dikenal luas melalui dunia kriket. Puncak kariernya terjadi pada 1992 ketika ia memimpin tim Pakistan yang saat itu tidak diunggulkan untuk meraih kemenangan di Piala Dunia.

Setelah mengakhiri karier olahraganya, Khan tidak memilih menjalani masa pensiun dalam kemewahan. Ia mendirikan rumah sakit kanker pertama di Pakistan sebelum membentuk partai politiknya sendiri, Tehreek-e-Insaf atau PTI, pada 1996.

Pendirian PTI menjadi langkah yang tidak lazim dalam politik Pakistan. Pada saat itu, afiliasi politik di negara tersebut umumnya berkaitan dengan wilayah, garis keturunan, serta ikatan kesukuan. Khan kemudian berupaya membangun partainya dari bawah tanpa mengandalkan sistem patronase tradisional yang dikenal sebagai baradari.

PTI pada awalnya belum memperoleh dukungan besar. Dalam pemilu 1997, partai tersebut hanya meraih 1,6 persen suara. Pada pemilu 2002, Khan hanya mendapatkan satu kursi. Namun, ia secara bertahap berhasil menarik perhatian generasi muda Pakistan dan mendorong mereka untuk melepaskan diri dari ikatan politik feodal.

Perselisihan dengan Militer dan Penahanan

Perubahan besar dalam perjalanan politik Khan terjadi pada 2018, ketika ia memenangkan pemilu dan menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan. Namun, hubungan yang memburuk dengan militer, yang merupakan salah satu kekuatan utama di Pakistan, kemudian menjadi titik balik bagi pemerintahannya.

Menurut Hannan, para jenderal memanfaatkan situasi kesulitan ekonomi yang berlangsung di tengah pandemi untuk menghentikan kekuasaan Khan melalui parlemen. Setelah itu, lembaga peradilan disebut digunakan untuk menjatuhkan sejumlah tuduhan terhadap mantan perdana menteri tersebut.

Salah satu tuduhan yang dihadapi Khan berkaitan dengan kewajiban mengumumkan hadiah diplomatik yang diterimanya ketika menjabat sebagai kepala pemerintahan. Hannan menilai tuduhan tersebut tidak masuk akal jika dikaitkan dengan sosok Khan yang disebut telah menyumbangkan sebagian besar kekayaannya dan menjalani kehidupan sebagai seorang asketis religius.

Khan juga menghadapi tuduhan yang berkaitan dengan pernikahan istrinya. Pernikahan tersebut dinilai melanggar jangka waktu yang ditetapkan dalam hukum Islam setelah perceraian sebelumnya.

Hannan berpendapat bahwa alasan sebenarnya di balik pemenjaraan Khan telah dipahami secara luas oleh publik. Ia menyatakan bahwa Khan dianggap berpotensi memenangkan pemilu yang bebas. Setelah Khan dipenjara, para jenderal dan pendukung sipil mereka akan menghadapi risiko hukum apabila membebaskannya dan kemudian kalah dalam pemilu.

Pemindahan ke Rumah Sakit Menimbulkan Teka-teki

Keputusan Mahkamah Agung Pakistan untuk memindahkan Imran Khan ke rumah sakit menambah pertanyaan baru mengenai situasi politik di negara tersebut. Keputusan itu disebut mendapat penolakan dari sejumlah menteri.

Hannan mempertanyakan apakah penolakan tersebut menunjukkan adanya perpecahan di dalam pemerintahan. Kemungkinan lain yang ia kemukakan adalah pemindahan itu hanya menjadi bagian dari strategi pencitraan. Dengan demikian, pemerintah nantinya dapat menyatakan bahwa Khan telah memperoleh perawatan yang dibutuhkannya.

Di tengah kondisi tersebut, Khan yang kini disebut menjalani kehidupan spiritual Sufi dinilai tidak ragu menghadapi risiko terburuk selama berada dalam tahanan. Ia juga disebut menyadari bahwa popularitasnya terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Perjuangan Khan Dikaitkan dengan Demokrasi

Dalam penutup analisisnya, Hannan menempatkan perjuangan Imran Khan dalam konteks yang lebih luas, yakni prinsip supremasi hukum dan demokrasi global. Ia mengakui bahwa Khan mungkin melakukan kesalahan ketika menjabat sebagai perdana menteri. Namun, Hannan tetap melihatnya sebagai simbol demokratisasi di Pakistan.

Menurut Hannan, Khan harus membayar harga yang sangat mahal karena mempertahankan prinsip pemilu bebas di bawah supremasi hukum. Hubungan erat Khan dengan Inggris, baik melalui pendidikan maupun karier kriketnya, dinilai membuat persoalan tersebut semestinya mendapat perhatian lebih besar dari publik Inggris.

Kesimpulan

Penahanan Imran Khan selama lebih dari tiga tahun, pemindahannya dari sel isolasi ke rumah sakit, serta berbagai tuduhan hukum yang dihadapinya terus memunculkan pertanyaan mengenai kondisi politik Pakistan. Sorotan Daniel Hannan menunjukkan bahwa kasus Khan tidak hanya berkaitan dengan seorang mantan perdana menteri, tetapi juga menyentuh isu kebebasan politik, pemilu, supremasi hukum, dan hubungan antara pemerintahan sipil dengan militer.

Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada kondisi Khan setelah dipindahkan ke rumah sakit serta arah perkembangan politik dan hukum yang membelitnya. Di tengah popularitas yang disebut terus meningkat, nasib Imran Khan tetap menjadi salah satu isu penting dalam perdebatan mengenai demokrasi Pakistan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment