Krisis Utang Warga Argentina Memburuk di Tengah Kebijakan Efisiensi Javier Milei

Jakarta – Lilitan utang menjadi fenomena yang semakin meluas di kalangan warga Argentina setelah pemerintah Presiden Javier Milei menerapkan kebijakan efisiensi ketat untuk mengendalikan inflasi. Meski kebijakan tersebut disebut berhasil menekan inflasi, banyak keluarga justru menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Laporan AFP mengungkap sejumlah warga Argentina kini hidup dalam bayang-bayang tagihan berbunga. Pendapatan yang stagnan, meningkatnya biaya hidup, serta berkurangnya subsidi membuat masyarakat terpaksa mengandalkan pinjaman untuk membiayai kebutuhan maupun mempertahankan usaha.

Utang Andrea Membengkak Lima Kali Lipat

Andrea, seorang ibu berusia 32 tahun, merupakan salah satu warga yang terjebak dalam persoalan utang. Ia meminjam uang pada tahun lalu setelah toko alat tulis tempatnya bekerja tutup. Untuk memulai kehidupan baru, Andrea mencoba membuka usaha katering dan membeli oven menggunakan dana pinjaman.

Namun, usaha tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Tagihan yang semula masih dapat ia kelola kemudian membengkak dalam waktu singkat. Andrea mengaku tidak mampu melunasi pembayaran tepat waktu sehingga jumlah utangnya meningkat drastis.

“Saya menunggak bayar tagihan, dan dalam beberapa bulan utang itu membengkak hingga terlalu besar untuk dilunasi. Jumlahnya melonjak dari satu juta peso menjadi lima juta,” ujar Andrea.

Pengalaman tersebut bukan kasus tunggal. Data Bank Sentral Argentina menunjukkan sekitar 21 juta orang dari total 46 juta penduduk memiliki utang dalam berbagai bentuk. Dari jumlah itu, sekitar 5,8 juta orang tercatat menunggak pembayaran selama lebih dari 90 hari.

Tunggakan Utang Melonjak Tiga Kali Lipat

Tunggakan utang masyarakat Argentina dilaporkan meningkat tiga kali lipat dalam setahun. Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama dua dekade kepemimpinan Milei.

Pemerintah Milei menjalankan kebijakan penghematan ketat sebagai bagian dari upaya menekan inflasi. Akan tetapi, kebijakan tersebut turut memberikan tekanan besar terhadap kondisi ekonomi rumah tangga. Pendapatan yang tidak mengalami peningkatan harus digunakan untuk membayar kebutuhan yang semakin mahal.

Kondisi keluarga semakin berat setelah subsidi untuk transportasi, gas, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya dipangkas. Kombinasi antara pendapatan stagnan dan biaya hidup yang meningkat membuat sebagian masyarakat berada di ambang krisis keuangan.

Perdebatan soal Tanggung Jawab Warga

Ketika ditanya mengenai warga yang terjerat utang, Milei memberikan tanggapan yang dinilai tidak menunjukkan empati. “Apakah ada yang menodongkan senjata ke kepala mereka untuk memaksa mereka berutang?” kata Milei dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Pernyataan tersebut dibantah oleh Presiden Banco Provincia di Buenos Aires, Juan Cuattromo. Ia menolak anggapan bahwa masyarakat sepenuhnya bertanggung jawab atas utang yang melampaui kemampuan mereka.

Menurut Cuattromo, meningkatnya tunggakan bukan semata-mata akibat keputusan individu. Ia menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan konteks makroekonomi yang memperburuk pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi.

Pinjaman Pribadi dan Kartu Kredit Mendominasi

Laporan Center for Argentine Political Economy menyebut pinjaman pribadi dan kartu kredit mencakup lebih dari 70 persen total pinjaman yang mengalami tunggakan.

Claudia Debaste, ibu tunggal berusia 40 tahun, merasakan langsung tekanan tersebut. Ia bekerja di sebuah kantor dengan gaji rendah dan harus membayar berbagai kebutuhan, mulai dari utilitas, transportasi, kebutuhan pokok, hingga obat-obatan.

Debaste mulai menunggak pembayaran empat bulan lalu. Kini, ia berusaha menjadwalkan ulang utangnya agar memiliki waktu pelunasan yang lebih panjang.

“Saya tidur dan bangun dengan memikirkan bagaimana cara melunasinya,” ujar Debaste saat menceritakan beban tagihan kartu kreditnya.

Kredit Digital Memperluas Risiko Jerat Utang

Krisis utang tersebut berlangsung bersamaan dengan semakin mudahnya akses terhadap kredit melalui dompet digital, salah satunya Mercado Pago. Layanan pembayaran digital milik raksasa e-commerce Mercado Libre itu menawarkan akses pinjaman dan “uang tunai instan” kepada pengguna.

Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran karena perusahaan fintech disebut menarik minat remaja berusia 13 tahun dengan pesan bahwa mereka tidak perlu menunggu usia dewasa untuk memperoleh uang tunai.

Ketika suku bunga meningkat dengan cepat, pinjaman yang semula terlihat mudah diperoleh dapat berubah menjadi beban berkepanjangan. Peminjam pun berisiko terus menambah utang untuk menutup tagihan sebelumnya.

Gabriel Solano, pemimpin Partai Pekerja, menggugat secara pidana CEO Mercado Libre Marcos Galperin atas tuduhan praktik rentenir. Dalam unggahan di platform X, Solano menyatakan total biaya keuangan efektif dari pinjaman Mercado Pago mencapai 1.375 persen.

Kesimpulan

Melonjaknya tunggakan utang menunjukkan bahwa pengendalian inflasi belum otomatis memulihkan kondisi ekonomi masyarakat Argentina. Kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah Milei memang diarahkan untuk menstabilkan perekonomian, tetapi dampaknya turut dirasakan melalui pemangkasan subsidi, pendapatan yang stagnan, dan meningkatnya beban kebutuhan dasar.

Ke depan, krisis tersebut akan terus menjadi tantangan bagi pemerintah, lembaga keuangan, dan penyedia layanan kredit digital. Persoalan utang tidak hanya berkaitan dengan keputusan pribadi, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat memperoleh pendapatan dan memenuhi kebutuhan hidup dalam situasi ekonomi yang sulit.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment