Lima Momen Pidato Prabowo Subianto di EEF Rusia yang Disambut Tepuk Tangan Meriah

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat lima kali tepuk tangan meriah ketika menyampaikan pidato dalam ajang Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9). Pidato tersebut disampaikan di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin, sejumlah pemimpin negara lain, serta ratusan tamu undangan.

Dalam kesempatan itu, Prabowo membahas sejumlah isu penting, mulai dari prinsip politik luar negeri Indonesia, hubungan persahabatan antara Indonesia dan Rusia, hingga pentingnya membangun kerja sama yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.

Pesan-pesan yang disampaikan Prabowo mendapat sambutan positif dari para peserta forum. Berikut sejumlah momen utama dalam pidatonya yang menjadi sorotan dan diwarnai tepuk tangan meriah.

1. Indonesia Memilih Aliansi Ekonomi untuk Kesejahteraan

Salah satu pesan penting yang disampaikan Prabowo berkaitan dengan arah politik luar negeri Indonesia. Ia menegaskan bahwa Indonesia menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, serta menentukan sendiri kepentingan nasionalnya.

Menurut Prabowo, Indonesia tidak ingin bergabung dengan aliansi militer tertentu. Namun, Indonesia terbuka untuk membangun kekuatan aliansi ekonomi yang tidak ditujukan untuk melawan pihak mana pun.

“Kebijakan luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif, dan kami menentukan sendiri kepentingan nasional dan kami ingin berkontribusi terhadap perdamaian,” kata Prabowo.

Ia menegaskan bahwa kerja sama yang dibangun Indonesia harus diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan bagi semua pihak. Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian pidato yang mendapat respons tepuk tangan dari peserta forum.

2. Indonesia Terbuka Bekerja Sama dengan Semua Negara

Prabowo juga menyampaikan bahwa Indonesia menjalin kerja sama dengan berbagai negara di semua arah, baik ke Timur, Barat, Utara, maupun Selatan. Kerja sama tersebut dibangun dengan prinsip kemitraan yang berdaulat dan setara.

Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan ungkapan yang menggambarkan sikap Indonesia terhadap hubungan internasional.

“Bagi Indonesia, 1.000 teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” ujar Prabowo.

Ia menyebut Indonesia datang ke St. Petersburg sebagai teman dan kemudian hadir di Vladivostok untuk mengubah persahabatan tersebut menjadi hasil yang pragmatis. Pesan ini mempertegas keinginan Indonesia untuk membangun hubungan yang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menghasilkan kerja sama nyata.

3. Prabowo Mengenang Persahabatan Indonesia dan Rusia

Hubungan historis Indonesia dan Rusia turut menjadi bagian penting dalam pidato Prabowo. Ia mengatakan bahwa kedua negara telah menjalin persahabatan selama berdekade-dekade.

Prabowo juga mengingat dukungan Uni Soviet pada masa awal berdirinya Republik Indonesia. Menurutnya, sejarah tersebut merupakan bagian yang tidak akan dilupakan oleh Indonesia.

“Indonesia dan Rusia sudah menjadi sahabat selama berdekade-dekade. Indonesia ingat dukungan, ketika itu Uni Soviet, di tahun-tahun awal republik kami yang masih muda. Kami ingat sejarah itu, dan kami tidak akan pernah lupa sahabat kami,” kata Prabowo.

Pernyataan mengenai sejarah persahabatan tersebut menjadi salah satu momen yang mengundang apresiasi dari para hadirin.

4. Pepatah Rusia dan Semangat Gotong Royong

Dalam pidatonya, Prabowo juga mengangkat pepatah Rusia “Odin v pole ne voin”. Ia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut memiliki makna perjuangan tidak akan menghasilkan kemenangan apabila dilakukan sendirian.

Prabowo kemudian mengaitkan pepatah tersebut dengan nilai yang dikenal luas di Indonesia, yakni gotong royong. Ia menjelaskan bahwa beban yang berat akan terasa lebih ringan apabila ditanggung secara bersama-sama.

“Di Indonesia kami juga punya pernyataan yang sama, disebut ‘Gotong Royong’. Setiap beban berat menjadi enteng jika kami menanggungnya bersama,” imbuhnya.

Pesan tentang kerja sama dan perjuangan bersama ini menjadi bagian lain yang disambut tepuk tangan meriah dalam forum tersebut.

5. Kerja Sama Harus Dirasakan Masyarakat

Di hadapan Presiden Vladimir Putin, Prabowo menekankan bahwa setiap kerja sama yang dihasilkan dalam forum tersebut harus memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia dan Rusia.

Ia meminta agar setiap perjanjian yang dicapai di Vladivostok tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan diterjemahkan menjadi keputusan dan program yang manfaatnya dapat dilihat oleh masyarakat.

“Kami harus memastikan setiap perjanjian yang tercapai di Vladivostok menghasilkan keputusan yang masyarakat bisa lihat dan rasakan. Ketika ada orang-orang yang membangun tembok, kita harus membangun jembatan,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut secara langsung disambut gemuruh tepuk tangan dari para peserta EEF. Pada bagian penutup, Prabowo kembali menegaskan bahwa kerja sama harus diarahkan untuk memberikan kebaikan terbesar bagi sebanyak mungkin orang.

Kesimpulan

Pidato Prabowo Subianto di Eastern Economic Forum menonjolkan sikap Indonesia yang terbuka membangun kemitraan dengan berbagai negara, tanpa terikat pada aliansi militer tertentu. Indonesia ingin memperkuat kerja sama ekonomi yang berlandaskan kedaulatan, kesetaraan, persahabatan, serta manfaat bersama.

Lima momen tepuk tangan dalam pidato tersebut menunjukkan bahwa pesan mengenai perdamaian, gotong royong, hubungan historis Indonesia-Rusia, dan kerja sama yang berdampak bagi masyarakat mendapat perhatian dari para hadirin. Ke depan, Prabowo menegaskan bahwa hubungan kedua negara diharapkan dapat terus diarahkan pada kerja sama pragmatis yang mendukung perdamaian dan kemakmuran yang langgeng.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment