Mantan Perwira Shin Bet Ungkap Dialog Rahasia dengan Pejabat Senior Hamas pada 2024
Mantan perwira intelijen Israel, Shin Bet, Adi Rotem, mengungkap perannya dalam pembicaraan rahasia dengan pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad. Pertemuan tersebut berlangsung pada 2024, ketika Israel masih melancarkan serangan terhadap Jalur Gaza. Menurut Rotem, jalur komunikasi itu telah memperoleh persetujuan dari “eselon politik” Israel.
Pengakuan tersebut disampaikan Rotem kepada Channel 12 dan menjadi pengungkapan pertama mengenai keterlibatannya dalam dialog langsung dengan salah satu pejabat penting Hamas. Ia menyebut pembicaraan itu bertujuan membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan pertukaran sandera dan tahanan pada Januari 2025.
Dialog Rahasia untuk Membuka Jalan Kesepakatan
Rotem mengatakan dirinya merupakan negosiator yang mengadakan komunikasi langsung dengan Ghazi Hamad. Pembicaraan tersebut dilakukan secara rahasia, tetapi menurutnya telah diketahui dan disetujui oleh jajaran politik Israel.
Hasil dari proses komunikasi itu disebut membantu memungkinkan tercapainya kesepakatan pada Januari 2025. Berdasarkan kesepakatan tersebut, puluhan sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, dibebaskan secara bertahap. Sebagai imbalannya, bantuan kemanusiaan ke Gaza ditingkatkan dan lebih dari 1.000 tahanan keamanan Palestina yang berada di penjara Israel dibebaskan.
Kesepakatan Januari 2025 juga memuat rencana pembicaraan mengenai tahap kedua dan ketiga. Kedua tahap tersebut dirancang untuk membahas pembebasan seluruh sandera, penghentian perang, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.
Gencatan Senjata Berakhir pada Tahap Pertama
Meski demikian, kesepakatan tersebut tidak berlanjut hingga tahap-tahap berikutnya. Gencatan senjata runtuh pada tahap pertama setelah serangan Israel terhadap Gaza terus berlangsung. Situasi itu membuat rencana pembicaraan mengenai pembebasan seluruh sandera dan pengakhiran perang tidak segera terlaksana.
Dalam perkembangan berikutnya, pada Oktober, tercapai kesepakatan lain yang didukung Amerika Serikat untuk mengakhiri perang. Namun, pengungkapan Rotem menyoroti bahwa sebelum kesepakatan tersebut muncul, telah terdapat jalur komunikasi rahasia antara pihak Israel dan Hamas.
Alasan Rotem Memilih Ghazi Hamad
Rotem menjelaskan bahwa gagasan untuk mendekati Ghazi Hamad berasal darinya. Ia menilai Hamad merupakan sosok yang tepat untuk diajak berkomunikasi karena memiliki posisi senior, dianggap cerdik, dan memiliki akses terhadap jajaran pimpinan Hamas.
Menurut Rotem, Hamad juga pernah memainkan peran dalam kesepakatan Shalit pada 2011. Dalam perjanjian tersebut, Israel yang saat itu dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membebaskan 1.027 tahanan keamanan Palestina. Salah satu nama yang disebut dalam konteks kesepakatan itu adalah Yahya Sinwar.
“Saya mengerti bahwa jika ada alamat, dialah alamat yang tepat. Ghazi Hamad adalah seseorang yang kami kenal dari masa lalu. Dia cukup senior dan cerdik, serta memiliki akses ke seluruh pimpinan Hamas,” ujar Rotem.
Ia menambahkan bahwa dirinya tidak bersikap naif terhadap Hamad. Namun, menurut Rotem, terdapat kemungkinan dialog dapat dilakukan dengan pejabat Hamas tersebut meskipun kedua pihak berada dalam posisi sebagai musuh.
Pembicaraan Dimulai Setelah Enam Sandera Tewas
Keputusan untuk mencoba membuka pembicaraan langsung dengan Hamas diambil setelah enam sandera ditemukan tewas pada Agustus 2024. Keenam sandera tersebut adalah Hersh Goldberg-Polin, Ori Danino, Eden Yerushalmi, Almog Sarusi, Alexander Lobanov, dan Carmel Gat.
Rotem mengingat bahwa sepanjang musim panas 2024, berbagai upaya untuk mencapai kesepakatan baru dengan Hamas terus berputar-putar tanpa menghasilkan kemajuan berarti. Kondisi itu terjadi setelah kesepakatan pembebasan sandera perempuan dan anak-anak berhasil diselesaikan pada akhir 2023.
Menurutnya, kebuntuan dalam negosiasi mendorong pencarian jalur komunikasi yang berbeda. Dialog langsung dengan Hamad kemudian dipandang sebagai salah satu cara untuk mencoba mengurai masalah yang menghambat tercapainya kesepakatan.
Pesan Rotem kepada Hamad
Ketika ditanya mengenai pesan yang disampaikan kepada Hamad, Rotem mengatakan bahwa ia menegaskan hubungan kedua pihak tetap berada dalam konteks konflik. Ia menyebut Israel dan Hamas masih merupakan musuh dalam perang dan akan terus berperang.
Namun, di tengah permusuhan tersebut, Rotem menilai kedua pihak memiliki fungsi tertentu dalam menyelesaikan persoalan negosiasi. Ia menggambarkan komunikasi itu sebagai kebutuhan fungsional yang berlangsung sebelum dan sesudah perundingan, tanpa menghapus status kedua pihak sebagai musuh.
Kesimpulan
Pengakuan Adi Rotem memperlihatkan adanya jalur komunikasi rahasia antara Israel dan Hamas pada 2024, ketika perang di Gaza masih berlangsung. Dialog dengan Ghazi Hamad disebut membantu membuka jalan bagi kesepakatan Januari 2025 yang mencakup pembebasan sandera, pertukaran tahanan, dan peningkatan bantuan kemanusiaan.
Meski gencatan senjata tersebut akhirnya runtuh pada tahap pertama, kesaksian Rotem menunjukkan bahwa komunikasi langsung tetap dipandang sebagai bagian penting dalam proses negosiasi. Ke depan, keberhasilan setiap kesepakatan akan sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak mempertahankan jalur dialog, melaksanakan komitmen, dan melanjutkan pembahasan mengenai pembebasan sandera serta penghentian perang.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment