Suriah Kutuk Kunjungan Benjamin Netanyahu ke Gunung Hermon sebagai Pelanggaran Kedaulatan

Damaskus mengecam keras kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke wilayah Suriah selatan pada Rabu (9/9). Pemerintah Suriah menilai kehadiran Netanyahu di Gunung Hermon merupakan tindakan ilegal, provokatif, serta pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah negara tersebut.

Kecaman itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Suriah melalui pernyataan resmi. Damaskus menegaskan bahwa masuknya pemimpin Israel ke wilayah Suriah tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan hukum internasional. Kunjungan tersebut juga berlangsung ketika hubungan kedua negara masih diwarnai permusuhan serta sengketa wilayah.

Suriah Sebut Kunjungan Netanyahu sebagai Tindakan Provokatif

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan Republik Arab Suriah mengutuk keras masuknya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara ilegal ke wilayahnya. Kementerian tersebut juga menyoroti kunjungan Netanyahu ke Gunung Hermon yang berada di wilayah Suriah selatan.

“Republik Arab Suriah mengutuk keras masuknya Perdana Menteri pendudukan Israel Benjamin Netanyahu secara ilegal ke wilayah Suriah dan kunjungannya ke Gunung Hermon,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Suriah, seperti dikutip dari Times of Israel.

Damaskus menyebut kunjungan itu sebagai tindakan provokatif dan pelanggaran terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Suriah. Pemerintah Suriah juga menilai tindakan tersebut bertentangan dengan ketentuan hukum internasional.

Kecaman Suriah muncul setelah Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz mendatangi pos militer IDF di Gunung Hermon. Kunjungan itu berlangsung pada Rabu dan bertepatan dengan Rosh Hashanah, atau perayaan Tahun Baru Yahudi.

Netanyahu Klaim Israel Menguasai Gunung Hermon

Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu menyampaikan klaim mengenai posisi Israel di Gunung Hermon. Ia mengatakan bahwa dirinya berada di puncak gunung itu pada malam perayaan Rosh Hashanah.

Netanyahu kemudian menggambarkan lokasi tersebut sebagai titik strategis yang memungkinkan Israel melihat sejumlah wilayah di sekitarnya. Ia menyebut Damaskus berada di satu sisi, Lebanon di sisi lain, sementara Dataran Tinggi Golan juga terlihat dari kawasan tersebut.

Menurut Netanyahu, Israel memiliki penguasaan yang disebutnya mutlak, mulai dari puncak Gunung Hermon hingga sungai dan dari wilayah itu sampai ke Laut Mediterania. Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai penguasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pernyataan itu mempertegas sikap Israel dalam mempertahankan kehadirannya di kawasan Gunung Hermon dan wilayah sekitarnya. Namun, bagi Suriah, kehadiran pejabat tinggi Israel di wilayah tersebut merupakan tindakan yang tidak sah dan mencederai kedaulatan negara.

Israel Tegaskan Tidak Akan Mundur dari Wilayah Suriah

Selain menyampaikan klaim mengenai penguasaan Gunung Hermon, Netanyahu menekankan bahwa Israel kini memiliki tugas baru, yakni menghancurkan Iran. Ia juga menyatakan bahwa kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mengirimkan pesan yang jelas kepada Suriah.

Pesan yang ingin disampaikan Israel, menurut Netanyahu, adalah bahwa negaranya tidak akan pernah mundur. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Israel berupaya mempertahankan posisinya di kawasan yang menjadi sumber sengketa dengan Suriah.

Sementara itu, pemerintah Suriah menilai kunjungan tersebut justru memperlihatkan sikap provokatif Israel. Damaskus menegaskan bahwa tindakan semacam itu merupakan pelanggaran terhadap wilayah dan kedaulatan Suriah.

Latar Belakang Konflik Israel dan Suriah

Israel dan Suriah telah berada dalam hubungan yang bermusuhan sejak Israel menduduki Dataran Tinggi Golan pada 1967. Suriah sempat berupaya merebut kembali wilayah tersebut, tetapi usaha itu gagal.

Setelah itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk zona demarkasi di kawasan tersebut. Zona ini diawasi oleh pasukan perdamaian dengan tujuan memisahkan pasukan militer Israel dan Suriah.

Meski terdapat zona demarkasi, ketegangan antara kedua negara tetap berlanjut. Israel disebut kerap melanggar kesepakatan dan sering melakukan serangan ke wilayah Suriah. Kondisi tersebut membuat hubungan Israel dan Suriah terus berada dalam situasi yang rentan terhadap konflik.

Kesimpulan

Pemerintah Suriah mengecam kunjungan Benjamin Netanyahu ke Gunung Hermon dan menyebutnya sebagai tindakan ilegal, provokatif, serta pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Di sisi lain, Netanyahu menegaskan klaim Israel atas kawasan tersebut dan menyatakan bahwa negaranya tidak akan mundur.

Perselisihan mengenai Gunung Hermon dan Dataran Tinggi Golan menjadi bagian dari konflik panjang antara Israel dan Suriah. Dengan adanya pernyataan keras dari kedua pihak, ketegangan di wilayah perbatasan tersebut masih berpotensi terus berlanjut. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada sikap masing-masing pihak terhadap wilayah sengketa dan kesepakatan yang sebelumnya dibentuk untuk memisahkan pasukan kedua negara.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment