Tren Aura Farming Berubah Jadi Kompetisi di Amerika Latin, Anak Muda Adu Gaya di Ruang Publik
Tren aura farming yang sebelumnya populer di media sosial kini berkembang menjadi kompetisi di sejumlah negara Amerika Latin. Anak-anak muda di Meksiko, Argentina, Brasil, dan Kosta Rika mulai menggelar pertarungan aura di ruang publik dengan menghadirkan tarian singkat, gerakan berirama, serta pose yang dianggap mampu memancarkan aura paling kuat.
Kompetisi ini tidak seperti olahraga pada umumnya. Tidak ada aturan baku, juri, maupun kriteria penilaian yang jelas. Peserta justru berusaha memperoleh respons paling meriah dari penonton. Karena itu, kemenangan dalam pertarungan aura lebih banyak ditentukan oleh kemampuan seseorang membangun suasana, menarik perhatian, dan menunjukkan kepercayaan diri di hadapan kerumunan.
Aura Farming Mengandalkan Respons Penonton
Dalam sebuah pertarungan, dua peserta biasanya saling berhadapan di tengah kerumunan. Mereka kemudian menampilkan gaya masing-masing melalui gerakan tari, pose, atau aksi singkat yang dianggap mampu memperlihatkan “aura” paling kuat.
Peserta tidak harus melakukan gerakan dengan intensitas tinggi. Daya tarik justru dapat muncul dari ketenangan, ekspresi, dan cara seseorang membawa dirinya di hadapan penonton. Respons berupa sorakan, tawa, atau tepuk tangan menjadi indikator tidak resmi yang menentukan siapa yang dianggap paling berhasil.
Acara tersebut juga dirancang agar menarik perhatian di media sosial. Rekaman pertandingan biasanya diunggah ke TikTok dan Instagram, lalu dapat ditonton hingga ratusan ribu kali. Dengan demikian, pertarungan aura berlangsung dalam dua ruang sekaligus, yakni ruang publik tempat kompetisi digelar dan ruang digital tempat videonya disebarluaskan.
Berawal dari Istilah yang Populer di Media Sosial
Istilah pertarungan aura berasal dari aura farming, ungkapan yang lebih dulu populer di media sosial. Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai tindakan melakukan sesuatu agar terlihat keren, mengesankan, atau bergaya tanpa tampak berusaha keras.
Istilah tersebut mulai populer pada 2024 dan semakin dikenal setelah video seorang anak Indonesia berusia 11 tahun, Rayyan Arkan Dikha, menjadi viral. Dalam video itu, Dikha terlihat menari dengan gerakan berulang di bagian depan perahu ketika para pendayung bergerak di sungai. Penampilannya kemudian memunculkan banyak komentar mengenai “aura” yang dimilikinya.
Popularitas Dikha terus berkembang. Ia mengumpulkan ribuan pengikut di Instagram dan dinobatkan sebagai duta pariwisata untuk Provinsi Riau, daerah asalnya. Setelah itu, istilah aura farming semakin sering digunakan dalam berbagai konten media sosial, mulai dari video bertema anime hingga unggahan di X yang menyoroti atlet dan selebritas.
Menjadi Kompetisi di Sejumlah Negara Amerika Latin
Tren tersebut kemudian dibawa ke dunia nyata oleh kreator konten di sejumlah negara Amerika Latin. Kompetisi digelar di ruang publik dan direkam untuk kemudian dibagikan melalui media sosial.
Turnamen Aura Farming di Brasil
Di Brasil, kreator konten Victor Gabriel Tourinho Camargo, yang dikenal sebagai Uvitinho, mengadakan beberapa turnamen di Kota Suzano. Lebih dari 200 orang disebut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Uvitinho mengatakan kejuaraan itu dibuat untuk membawa sesuatu yang populer di internet ke kehidupan nyata. Menurutnya, kompetisi tersebut memadukan tren digital dengan permainan anak-anak sekaligus menciptakan momen yang lebih nyata dan tulus.
Ia juga melihat pertarungan aura sebagai ruang yang dapat mempertemukan orang-orang dengan karakter berbeda. Pesertanya berasal dari berbagai kepribadian, mulai dari orang yang pemalu, antisosial, hingga ekstrover. Saat mengikuti permainan, mereka dapat mengesampingkan perbedaan tersebut, bermain bersama, dan membangun pertemanan.
Pertarungan Aura di Argentina
Di Argentina, kreator konten Cielo atau Cieloween turut mengorganisasi pertarungan aura di kawasan Chinatown, Buenos Aires. Ia menyebut kompetisi itu berkembang setelah sejumlah video pertarungan aura menjadi viral.
Menurut Cieloween, peserta memiliki kebebasan untuk menentukan gaya yang ingin ditampilkan. Sebagian peserta tampil serius, sedangkan yang lain memilih gerakan lucu dan menghibur. Pada akhirnya, setiap peserta seperti memainkan sebuah karakter sesuai dengan kepribadian serta pesan yang ingin mereka tunjukkan.
Bagi Cieloween, tujuan utama kegiatan tersebut bukan semata-mata mencari pemenang. Pertarungan aura menjadi sarana untuk bertemu orang baru, terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat serupa, berteman, dan tertawa bersama.
Fenomena yang Memunculkan Dukungan dan Kritik
Meski dianggap menghibur, pertarungan aura juga mendapat kritik. Di Brasil, Wali Kota Cuiabá Abílio Brunini melarang kompetisi semacam itu digelar di ruang publik utama kota. Ia bahkan menilai orang-orang yang berpartisipasi dalam permainan tersebut berpotensi merasa malu pada masa mendatang.
Namun, penolakan itu tidak serta-merta menghentikan kegiatan serupa di berbagai tempat. Para peserta tetap mengikutinya karena menganggap pertarungan aura sebagai hiburan sekaligus kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain.
Profesor humaniora Universitas Texas di Austin, Frederick Luis Aldama, menilai tren ini memiliki daya tarik khusus bagi anak muda di Amerika Latin. Menurutnya, budaya berkumpul di ruang publik telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Plaza, halaman, dan taman menjadi tempat orang-orang bertemu dan berinteraksi.
Aldama pernah menyaksikan pertarungan aura di Parque Meksiko, Kota Meksiko. Ia mengatakan pengalamannya mengubah pandangan mengenai faktor yang menentukan pemenang. Menurutnya, pemenang bukan selalu orang yang melakukan gerakan paling intens, melainkan peserta yang mampu memancarkan ketenangan total dan aura yang kuat.
Menjadi Ruang Interaksi Setelah Pandemi
Aldama menilai fenomena pertarungan aura juga mencerminkan keinginan anak muda untuk kembali berkumpul secara langsung setelah lama terpisah akibat pandemi. Masa lockdown membuat banyak orang kehilangan akses terhadap ruang interaksi publik yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pandangannya, kemunculan kembali kegiatan yang bersifat kolektif, publik, dan melibatkan interaksi antarindividu bukanlah hal yang mengejutkan. Pertarungan aura menawarkan bentuk hiburan sederhana yang memungkinkan anak muda bertemu, bermain, dan merayakan sesuatu secara bersama-sama.
Aldama mengakui bahwa fenomena semacam ini akan selalu menghadapi reaksi negatif. Ia membandingkannya dengan kritik terhadap penari breakdance Australia, Raygun, yang diejek setelah penampilannya di Olimpiade menjadi viral.
Kesimpulan
Tren aura farming telah berkembang dari istilah media sosial menjadi kompetisi di ruang publik sejumlah negara Amerika Latin. Tanpa aturan dan juri formal, peserta mengandalkan gaya, ekspresi, ketenangan, serta respons penonton untuk menunjukkan aura terbaik mereka.
Di balik kontroversi dan kritik yang muncul, pertarungan aura menjadi wadah bagi anak muda untuk berkumpul, berkenalan, bermain, dan membangun komunitas. Perkembangannya ke depan kemungkinan masih akan dipengaruhi oleh popularitas media sosial serta kemampuan para kreator dalam mengubah tren digital menjadi pengalaman langsung yang melibatkan masyarakat.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment