502 Sekolah di NTT Rusak Berat akibat Gempa, Pembelajaran Dialihkan ke Rumah dan Pengungsian

JAKARTA – Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak besar terhadap sektor pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat melaporkan sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak bencana tersebut. Dari jumlah itu, 502 sekolah mengalami kerusakan berat yang tersebar di tujuh kabupaten.

Data tersebut disampaikan Atip dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (20/8). Dampak kerusakan tidak hanya menyentuh bangunan sekolah, tetapi juga memengaruhi aktivitas belajar mengajar serta ratusan ribu warga di lingkungan pendidikan.

Menurut Atip, sekolah-sekolah yang terdampak mencakup 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan. Kondisi ini membuat pemerintah perlu mengambil langkah cepat untuk memastikan keselamatan warga sekolah sekaligus menjaga keberlangsungan proses pembelajaran selama situasi darurat.

Ribuan Ruang Kelas Mengalami Kerusakan

Atip menjelaskan, dari 8.664 ruang kelas yang telah terdata, sebanyak 5.521 ruang atau sekitar 63,7 persen dilaporkan mengalami kerusakan. Bahkan, 2.229 ruang kelas di antaranya masuk dalam kategori rusak berat atau rusak total.

Kerusakan akibat gempa juga tercatat pada sejumlah fasilitas pendukung pendidikan. Beberapa di antaranya meliputi laboratorium, perpustakaan, sarana sanitasi, serta rumah dinas guru. Kerusakan pada fasilitas tersebut turut memengaruhi kesiapan sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran secara normal.

Besarnya dampak terhadap fasilitas pendidikan membuat sebagian besar sekolah harus menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi di lapangan. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan siswa, guru, dan tenaga kependidikan, terutama karena gempa susulan masih terjadi.

Status Pembelajaran di Sekolah Terdampak

Berdasarkan laporan dari 1.159 sekolah, sebanyak 923 sekolah untuk sementara diliburkan. Sementara itu, 30 sekolah masih melaksanakan pembelajaran tatap muka, 35 sekolah menjalankan pembelajaran di sekolah darurat, dan 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Atip mengatakan pelaksanaan pembelajaran mengikuti kebijakan Gubernur NTT. Kegiatan belajar diarahkan untuk berlangsung dari rumah maupun di tempat pengungsian. Kebijakan tersebut diambil guna menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan membahayakan warga sekolah akibat gempa susulan.

Pengalihan lokasi pembelajaran menjadi bagian dari upaya perlindungan terhadap peserta didik dan tenaga pendidik. Dengan kondisi bangunan yang mengalami kerusakan, proses belajar tidak dapat sepenuhnya dilakukan di ruang kelas seperti biasa.

Respons Kemendikdasmen terhadap Dampak Gempa

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menangani dampak gempa di sektor pendidikan. Upaya tersebut mencakup pendataan kebutuhan penguatan pos pendidikan, penyaluran bantuan dan santunan, serta penerbitan panduan pembelajaran dalam situasi darurat.

Fokus pada Materi Esensial dan Dukungan Psikososial

Melalui panduan pembelajaran darurat, Kemendikdasmen menekankan pentingnya penyampaian materi esensial. Materi tersebut meliputi literasi, numerasi dasar, serta dukungan psikososial bagi murid.

Pendekatan tersebut disiapkan agar kegiatan pendidikan tetap dapat berjalan di tengah keterbatasan fasilitas dan perubahan lokasi belajar. Selain menjaga kesinambungan pembelajaran, dukungan psikososial juga menjadi bagian penting dalam penanganan kondisi murid yang terdampak bencana.

Penyiapan Tenda Ruang Kelas

Untuk membantu sekolah yang mengalami kerusakan berat, Kemendikdasmen menyiapkan ruang kelas darurat secara bertahap. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendistribusikan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas sementara.

Ruang kelas darurat tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kegiatan belajar bagi sekolah yang belum dapat menggunakan bangunan permanen. Penyalurannya dilakukan sebagai bagian dari respons terhadap kebutuhan pendidikan di wilayah terdampak.

Gempa Susulan Masih Berlangsung

BNPB melaporkan bahwa hingga Kamis (20/8) pukul 16.00 WIB, jumlah gempa susulan telah mencapai 3.752 kejadian. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gempa susulan masih dapat terjadi selama dua hingga tiga minggu ke depan.

Meski kekuatannya diperkirakan lebih kecil dibandingkan gempa utama, potensi gempa susulan tetap menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan. Karena itu, pembelajaran dari rumah, tempat pengungsian, sekolah darurat, maupun secara jarak jauh masih menjadi pilihan sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Kesimpulan

Gempa di NTT telah menyebabkan 502 sekolah mengalami kerusakan berat dan berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan. Kerusakan juga terjadi pada ribuan ruang kelas serta berbagai fasilitas pendukung sekolah. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mengatur ulang kegiatan belajar dengan mengutamakan keselamatan warga sekolah.

Kemendikdasmen terus melakukan pendataan, menyalurkan bantuan, menyediakan panduan pembelajaran darurat, dan menyiapkan tenda ruang kelas. Dengan gempa susulan yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa minggu ke depan, keberlanjutan pendidikan di NTT akan bergantung pada penanganan darurat, kesiapan fasilitas sementara, serta penerapan pembelajaran yang aman bagi murid dan tenaga kependidikan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment