BMKG Catat 7.492 Gempa Susulan Mengguncang NTT, 103 Orang Meninggal Dunia
Rangkaian gempa susulan masih terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan pemutakhiran data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Rabu (26/8) pukul 05.00 WIB, tercatat sebanyak 7.492 gempa susulan setelah gempa utama mengguncang wilayah tersebut.
Gempa susulan yang tercatat memiliki kekuatan beragam. BMKG melaporkan, gempa dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil berkekuatan magnitudo 1,0. Dari ribuan kejadian tersebut, sebagian gempa dirasakan langsung oleh masyarakat di sejumlah wilayah NTT.
BMKG Catat 7.492 Gempa Susulan
Dalam siaran pers yang disampaikan pada Rabu (26/8), BMKG mencatat total 7.492 gempa bumi susulan. Data tersebut menjadi gambaran mengenai masih berlangsungnya aktivitas kegempaan di NTT setelah gempa utama terjadi.
BMKG juga mencatat terdapat 33 gempa susulan dengan magnitudo di atas 5. Selain itu, sebanyak 143 kejadian gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Angka tersebut menunjukkan bahwa tidak seluruh gempa susulan menimbulkan getaran yang dirasakan langsung oleh penduduk.
Magnitudo Gempa Susulan hingga 6,2
Ribuan gempa susulan yang terdata memiliki rentang kekuatan mulai dari magnitudo 1,0 hingga 6,2. Gempa dengan kekuatan terbesar dalam rangkaian susulan tersebut tercatat mencapai magnitudo 6,2.
Sementara itu, jumlah gempa susulan yang berkekuatan di atas magnitudo 5 mencapai 33 kejadian. BMKG menyebutkan, sebanyak 143 gempa susulan dirasakan langsung oleh masyarakat. Pemutakhiran data ini dilakukan hingga pukul 05.00 WIB pada Rabu (26/8).
Korban Meninggal Dunia Mencapai 103 Orang
Dampak gempa masih dirasakan masyarakat di sejumlah kabupaten di NTT. Seiring pembaruan data penanganan bencana, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa tercatat sebanyak 103 orang.
Korban meninggal dunia tersebar di beberapa kabupaten. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban terbanyak, yakni 41 orang. Selanjutnya, sebanyak 34 orang meninggal dunia di Kabupaten Manggarai Timur dan 13 orang di Kabupaten Nagekeo.
Selain itu, enam orang meninggal dunia di Kabupaten Sikka, lima orang di Ngada, tiga orang di Ende, serta satu orang di Manggarai Barat. Rincian tersebut menjadi bagian dari data korban yang terus diperbarui setelah gempa mengguncang wilayah NTT.
Jumlah Korban Luka Mencapai 1.666 Orang
Gempa tersebut juga menyebabkan ribuan warga mengalami luka-luka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat adanya tambahan 63 orang yang mengalami luka.
Dengan tambahan tersebut, total korban luka yang tercatat mencapai 1.666 orang. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menyampaikan data itu dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB pada Selasa (25/8).
“Kami mendapat tambahan angka sebanyak 63 orang yang luka-luka sehingga total yang kami catat adalah sebesar 1.666 orang,” ujar Berton dalam konferensi pers tersebut.
Data Gempa dan Korban Terus Diperbarui
Data BMKG mengenai jumlah gempa susulan serta data BNPB mengenai korban menjadi gambaran perkembangan situasi setelah gempa utama melanda NTT. Hingga Rabu (26/8), aktivitas gempa susulan masih tercatat dalam jumlah besar, dengan sejumlah kejadian dirasakan masyarakat.
Di sisi lain, data korban meninggal dunia dan korban luka juga masih menjadi bagian dari pembaruan penanganan bencana. Rincian korban berdasarkan kabupaten menunjukkan bahwa dampak gempa dirasakan di sejumlah wilayah NTT, terutama Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ngada, Ende, dan Manggarai Barat.
Kesimpulan
BMKG mencatat 7.492 gempa susulan di NTT hingga Rabu (26/8) pukul 05.00 WIB. Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo antara 1,0 hingga 6,2, dengan 33 kejadian berkekuatan di atas magnitudo 5 dan 143 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Gempa utama dan rangkaian susulannya telah menyebabkan 103 orang meninggal dunia serta 1.666 orang mengalami luka-luka. Dengan pembaruan data yang masih berlangsung, perkembangan aktivitas gempa dan dampaknya di NTT terus menjadi perhatian dalam penanganan bencana.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment