BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca untuk Atasi Defisit Air Waduk Sepaku dan Karhutla Kaltim
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Timur untuk mengatasi dua persoalan sekaligus, yakni penurunan cadangan air di Waduk Sepaku dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Otorita Ibu Kota Negara (OIKN), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
OMC menjadi salah satu upaya yang dilakukan pemerintah di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering di sejumlah wilayah Kaltim. Waduk Sepaku, yang menjadi sumber air baku bagi wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), mengalami penurunan cadangan air sejak Juli akibat pengaruh El Nino. Pada saat yang sama, jumlah titik panas di Kaltim juga terpantau tinggi sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
OMC Mengoptimalkan Potensi Awan
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca bukan bertujuan menciptakan hujan secara langsung. Menurut dia, teknologi tersebut digunakan untuk mengoptimalkan potensi awan yang sudah tersedia di atmosfer.
“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan serta bisa memperluas areanya,” kata Budi di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (24/8).
Dalam pelaksanaannya, BMKG tidak hanya memperhitungkan jumlah titik api yang terdeteksi. Potensi terbentuknya hujan di wilayah sasaran juga menjadi pertimbangan penting sebelum operasi dilakukan. Dengan demikian, penyemaian awan dapat diarahkan pada wilayah yang memiliki peluang lebih besar untuk menerima hujan.
Kondisi Kering dan Penurunan Cadangan Air Waduk Sepaku
Berdasarkan data per 20 Agustus 2026, sebagian besar wilayah Kalimantan Timur mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori mulai dari sangat pendek hingga panjang. Durasi HTH terlama tercatat di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser, masing-masing mencapai 28 hari berturut-turut.
Kondisi tersebut turut berdampak pada cadangan air di Waduk Sepaku. BMKG menyebut ketersediaan air di waduk yang berfungsi sebagai sumber air baku bagi wilayah IKN itu terus menurun sejak Juli. Penurunan tersebut dikaitkan dengan pengaruh El Nino yang menyebabkan kondisi lebih kering.
Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, OMC dilaksanakan di wilayah IKN pada 22-27 Agustus. Hasil operasi disebut mulai terlihat melalui turunnya hujan di wilayah IKN dan sekitarnya selama dua hari terakhir.
Potensi Hujan Menurun pada Akhir Agustus
BMKG memprakirakan potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Timur pada 23-31 Agustus berada dalam kategori tinggi hingga sedang, terutama di bagian utara provinsi tersebut. Namun, potensi pertumbuhan awan diperkirakan menurun pada 28-31 Agustus sehingga sebagian besar wilayah Kaltim berpotensi mengalami cuaca yang relatif kering.
Pada 24-26 Agustus, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi di wilayah Kaltim bagian barat, barat laut, dan utara. Setelah itu, mulai 27 Agustus hingga 1 September, intensitas serta sebaran hujan diperkirakan menurun secara signifikan di sebagian besar wilayah Kalimantan Timur.
OMC untuk Menekan Dampak Karhutla
Selain ditujukan untuk mendukung pengisian air Waduk Sepaku, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan untuk membantu penanganan titik panas dan karhutla. Berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat 13.273 titik panas di Kalimantan Timur selama periode 1-23 Agustus 2026.
BMKG juga mencatat bahwa sebaran asap karhutla umumnya bergerak dari arah barat laut menuju timur laut. Pergerakan asap tersebut bahkan dapat melewati batas administratif hingga ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.
OMC di Kabupaten Berau mulai dilaksanakan pada 24-28 Agustus. Operasi itu dilakukan untuk menangani titik panas berdasarkan permintaan Bupati Berau kepada BNPB dan BMKG.
Status Karhutla Masih Siaga Bencana
Saat ini, status penanganan karhutla di Kalimantan Timur masih berada pada level Siaga Bencana dan belum meningkat menjadi Siaga Darurat. Meski demikian, Pemerintah Provinsi Kaltim mengingatkan setiap daerah agar tetap mewaspadai potensi kerawanan serta kondisi kebencanaan di wilayah masing-masing.
Pemerintah daerah juga diminta segera mengajukan permohonan bantuan kepada BNPB apabila situasi berkembang menjadi kondisi darurat. Kewaspadaan tersebut diperlukan karena kondisi cuaca yang lebih kering dapat memengaruhi ketersediaan air sekaligus meningkatkan risiko meluasnya karhutla.
Kesimpulan
Operasi modifikasi cuaca BMKG di Kalimantan Timur diarahkan untuk membantu mengatasi penurunan cadangan air Waduk Sepaku dan menekan dampak karhutla. Pelaksanaan OMC dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan awan serta potensi hujan di wilayah sasaran, bukan dengan menciptakan hujan secara langsung.
Hujan yang turun di wilayah IKN dan sekitarnya dalam dua hari terakhir menjadi hasil awal dari operasi untuk mendukung kebutuhan air Waduk Sepaku. Namun, potensi cuaca kering diperkirakan kembali meningkat pada akhir Agustus hingga awal September. Karena itu, koordinasi antarlembaga dan kewaspadaan pemerintah daerah tetap menjadi faktor penting dalam menghadapi risiko kekurangan air dan karhutla di Kalimantan Timur.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment