BNPB Catat 111 Korban Meninggal akibat Gempa NTT, 9.278 Gempa Susulan Terjadi
JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 111 orang meninggal dunia akibat gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Data tersebut disampaikan BNPB dalam konferensi pers di Jakarta pada Sabtu (29/8).
Selain korban meninggal, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat ribuan gempa susulan dengan kekuatan yang beragam.
BNPB Catat 111 Korban Meninggal
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan jumlah korban meninggal akibat gempa NTT masih tercatat sebanyak 111 orang per Sabtu (29/8).
“Jumlah yang meninggal tetap sebesar 111 orang,” ujar Berton dalam konferensi pers yang digelar di kantor BNPB, Jakarta.
BNPB juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga, kerabat, dan masyarakat yang kehilangan anggota keluarga maupun orang-orang terdekat akibat bencana tersebut. BNPB berharap keluarga korban diberikan ketabahan dalam menghadapi situasi ini.
Gempa Susulan Mencapai 9.278 Kali
Gempa utama bermagnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus. Setelah peristiwa tersebut, aktivitas seismik masih berlanjut dalam bentuk gempa susulan. Hingga Sabtu (29/8), BMKG mencatat sebanyak 9.278 gempa susulan.
Gempa Terbesar Berkekuatan Magnitudo 6,2
Dari ribuan gempa susulan yang tercatat, gempa dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sementara itu, gempa susulan dengan kekuatan paling kecil tercatat bermagnitudo 1.
BMKG juga mencatat terdapat 153 gempa susulan yang dirasakan oleh masyarakat. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gempa masih menjadi perhatian dalam penanganan bencana di NTT.
Jumlah Pengungsi di Ngada Bertambah Signifikan
BNPB turut melaporkan adanya peningkatan jumlah warga yang mengungsi. Berton menjelaskan, kenaikan tersebut terjadi karena proses pembaruan dan validasi data di lapangan.
Salah satu perubahan terbesar terjadi di Kabupaten Ngada. Sebelumnya, jumlah pengungsi yang tercatat di wilayah tersebut sebanyak 3.259 orang. Setelah dilakukan validasi, jumlah itu diperbarui menjadi 21.552 orang.
Menurut BNPB, data sebelumnya dinilai belum cukup terbaru dan valid. Oleh karena itu, pembaruan dilakukan untuk memastikan angka pengungsi yang disampaikan sesuai dengan kondisi terkini di lapangan.
Distribusi Bantuan Logistik Terus Dilakukan
Di tengah proses penanganan bencana, bantuan logistik juga terus diterima dan dikirimkan ke sejumlah wilayah terdampak. BNPB menyebutkan bahwa pada Sabtu (29/8), pihaknya menerima bantuan sebanyak 5 ton. Sementara itu, bantuan yang telah dikirimkan mencapai 22 ton.
Dalam catatan distribusi selama periode 15 hingga 29 Agustus 2026, jumlah logistik yang terkirim secara keseluruhan disebut mencapai 1.916 ton. Bantuan tersebut disalurkan ke sejumlah wilayah di NTT.
Rincian Logistik di Sejumlah Wilayah
Labuan Bajo menjadi wilayah dengan jumlah logistik terkirim paling besar, yakni 1.200 ton. Berikutnya, Maumere menerima 598 ton bantuan logistik.
Distribusi bantuan ke wilayah lain tercatat dengan rincian sebagai berikut:
- Manggarai Barat: 12 ton
- Manggarai: 25 ton
- Manggarai Timur: 30 ton
- Ngada: 8 ton
- Nagekeo: 16 ton
- Ende: 16 ton
- Sikka: 10 ton
Kesimpulan
Hingga Sabtu (29/8), BNPB mencatat 111 korban meninggal akibat gempa bumi di NTT. Selain itu, BMKG merekam 9.278 gempa susulan sejak gempa bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus, dengan 153 di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Jumlah pengungsi juga mengalami perubahan setelah dilakukan pembaruan data, terutama di Kabupaten Ngada yang kini tercatat mencapai 21.552 orang. Di sisi lain, penyaluran bantuan logistik terus dilakukan ke berbagai wilayah terdampak. Ke depan, pembaruan data dan distribusi bantuan menjadi bagian penting dalam memastikan penanganan bencana berjalan sesuai kondisi di lapangan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment