Gempa NTT Rusak Ribuan Rumah, BNPB Catat 68 Orang Meninggal dan 213 Luka-Luka
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan bangunan mengalami kerusakan setelah gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kerusakan tersebut tersebar di sejumlah kabupaten, dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah terdampak masih terus memperbarui data kerusakan. Proses pendataan dan verifikasi dilakukan untuk memastikan jumlah serta tingkat kerusakan bangunan akibat gempa.
Kerusakan Rumah Tersebar di Sejumlah Kabupaten
Berdasarkan data yang disampaikan BNPB pada Senin (17/8), Kabupaten Nagekeo mencatat 116 rumah rusak berat, enam rumah rusak sedang, dan 42 rumah rusak ringan. Sementara itu, di Kabupaten Ende terdapat 108 rumah rusak berat, 85 rumah rusak sedang, serta 268 rumah rusak ringan.
Kerusakan di Manggarai dan Wilayah Sekitarnya
Di Kabupaten Manggarai, kerusakan meliputi 761 rumah rusak berat, 76 rumah rusak sedang, dan 147 rumah rusak ringan. Kabupaten Manggarai Timur mencatat 23 rumah rusak berat, 15 rumah rusak sedang, serta 11 rumah rusak ringan.
Adapun di Kabupaten Manggarai Barat, tercatat 481 rumah mengalami rusak berat. Selain itu, sebanyak 202 rumah rusak sedang dan 231 rumah rusak ringan.
Kabupaten Ngada menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kerusakan rumah yang cukup besar. BNPB menyebut total kerusakan di wilayah tersebut mencapai 1.796 unit rumah. Namun, BPBD masih melakukan pendataan serta verifikasi untuk menentukan rincian tingkat kerusakannya.
Di Kabupaten Sikka, jumlah tempat tinggal terdampak terdiri atas 145 rumah rusak berat, 16 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak ringan.
Fasilitas Umum Ikut Terdampak
Guncangan gempa tidak hanya merusak rumah warga. Sejumlah fasilitas umum juga dilaporkan mengalami kerusakan, antara lain tempat ibadah, fasilitas kesehatan, bangunan pendidikan, perkantoran, serta fasilitas umum lainnya. Akses jalan di sejumlah wilayah turut terdampak akibat bencana tersebut.
Kerusakan fasilitas publik menjadi perhatian dalam penanganan pascagempa karena berkaitan dengan kebutuhan dasar serta pelayanan bagi masyarakat terdampak. Hingga kini, proses pendataan terhadap kerusakan masih dilakukan oleh BPBD di masing-masing wilayah.
Tim SAR dan Layanan Medis Tetap Disiagakan
BNPB menyatakan tim SAR gabungan masih disiagakan di lokasi bencana. Meskipun tidak ada lagi warga yang dilaporkan hilang, personel tetap dikerahkan untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan.
Tim tersebut terdiri atas 63 personel Basarnas dan 1.799 orang dari potensi SAR. Basarnas secara khusus tetap mengoptimalkan penempatan personel di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Selain operasi pencarian dan pertolongan, pelayanan medis darurat juga terus diupayakan sejak gempa terjadi. Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak.
Gempa Susulan Masih Berlangsung
Pos Pendamping Nasional mencatat telah terjadi 1.576 gempa susulan setelah gempa utama mengguncang NTT. Gempa susulan dengan magnitudo terbesar tercatat mencapai 6,2.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebanyak 54 gempa susulan dirasakan oleh warga. Aktivitas gempa masih bersifat fluktuatif dan pola peluruhannya belum terlihat secara jelas. Kondisi tersebut diperkirakan mulai stabil dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Korban Gempa dan Status Tanggap Darurat
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 sebelumnya mengguncang NTT pada Sabtu (15/8). Pusat gempa disebut berada di Kabupaten Nagekeo.
Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari. Status tersebut berlaku mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.
Hingga Senin, BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa mencapai 68 orang. Selain itu, sebanyak 213 orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Kesimpulan
Gempa bumi yang mengguncang NTT menimbulkan dampak besar terhadap rumah warga, fasilitas umum, serta kondisi masyarakat di sejumlah kabupaten. BNPB dan BPBD masih memutakhirkan data kerusakan, sementara tim SAR dan layanan medis tetap disiagakan untuk mendukung penanganan darurat.
Dengan aktivitas gempa susulan yang masih fluktuatif, proses pemulihan membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Pemerintah daerah bersama lembaga terkait diharapkan terus memperbarui informasi mengenai kerusakan dan kebutuhan warga selama masa tanggap darurat berlangsung.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment