Iran Siapkan Zona Terlarang di Selat Hormuz, Kapal yang Masuk Terancam Sanksi

Iran berencana menetapkan zona terlarang di sekitar rute pelayaran Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan lainnya. Rencana tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, yang menyebut zona baru itu akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.

Menurut Rezaei, kawasan yang ditetapkan sebagai zona terlarang akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), kemudian meluas ke arah Selat Hormuz dan mencakup wilayah Teluk Persia. Iran juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang memasuki zona tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran.

Iran Akan Menetapkan Zona Terlarang di Selat Hormuz

Rezaei mengatakan rencana tersebut merupakan bagian dari langkah Iran dalam mengatur rute pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Ia menyebut batas zona terlarang akan dimulai dari garis blokade angkatan laut AS, berlanjut menuju Selat Hormuz, lalu mencakup area di sisi yang mengarah ke Teluk Persia.

“Zona ini akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut AS dan mencakup wilayah Teluk Persia,” ujar Rezaei, seperti dikutip Al Jazeera pada Senin (7/9).

Ia menambahkan, kapal mana pun yang memasuki zona baru tersebut akan dikenai konsekuensi berupa pencantuman dalam daftar sanksi Iran. Namun, hingga kini Teheran belum memberikan penjelasan rinci mengenai batas pasti zona itu maupun bentuk sanksi yang akan diterapkan terhadap kapal yang masuk atau terpaksa menerobos kawasan tersebut.

Peta Koridor Pelayaran Baru Disusun Bersama Oman

Selain menetapkan zona terlarang, Iran menyatakan tengah menyelesaikan peta koridor internasional baru untuk jalur pelayaran di Selat Hormuz. Peta tersebut disebut dikerjakan bersama Oman dan akan mengatur rute yang berada di perairan Iran serta Oman.

Rezaei mengatakan peta koridor tersebut telah disepakati dan akan segera ditandatangani. Dalam rancangan itu, Iran disebut akan memiliki kendali atas koridor pelayaran internasional yang berada di wilayah perairan kedua negara.

“Peta koridor internasional baru yang terletak di perairan Iran dan Oman, di mana Iran akan punya kendali, telah disepakati dan akan ditandatangani dalam beberapa hari mendatang,” kata Rezaei.

Ia juga menegaskan bahwa Iran hanya akan berkomitmen untuk membuka Selat Hormuz apabila AS menghentikan apa yang disebut Teheran sebagai sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran.

Pengamat Nilai Iran Akan Kesulitan Menegakkan Zona

Rencana tersebut mendapat perhatian dari Stephen Zunes, Ketua Pendiri Studi Timur Tengah di Universitas San Francisco. Ia menilai Iran akan menghadapi kesulitan untuk menegakkan zona terlarang di dekat Selat Hormuz.

Menurut Zunes, kapal dan pesawat Iran yang berupaya menerapkan aturan tersebut dapat berada dalam posisi rentan terhadap serangan AS. Karena itu, ia meragukan kemampuan Iran untuk benar-benar memberlakukan zona terlarang tersebut secara efektif.

Meski demikian, Zunes menilai pengumuman itu mungkin dimaksudkan sebagai peringatan bagi perusahaan pelayaran. Pelaku industri pelayaran dapat menghadapi risiko apabila tidak bisa memastikan perjalanan melewati Selat Hormuz berlangsung tanpa konsekuensi.

Potensi Dampak Politik dan Keamanan

Zunes juga berpendapat bahwa Iran mungkin berharap langkah tersebut memicu respons militer dari AS. Jika hal itu terjadi, Teheran berpotensi memperoleh keuntungan politik karena dapat menggunakan respons tersebut untuk membenarkan serangan terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya maupun fasilitas militer AS di kawasan tersebut.

Dalam situasi seperti itu, menurut Zunes, pemerintah Iran dapat mendorong masyarakatnya untuk bersatu di bawah bendera negara. Dengan demikian, isu zona terlarang tidak hanya berkaitan dengan pelayaran, tetapi juga dapat berkembang menjadi bagian dari strategi politik dan keamanan Iran.

Kaitan dengan Kesepakatan Iran dan Oman

Zunes mencatat, rencana penetapan zona terlarang kemungkinan berkaitan dengan kesepakatan yang sedang diproses Iran dan Oman mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz.

Apabila kesepakatan tersebut dapat diterapkan dan memperoleh penerimaan dari AS, Iran mungkin akan mengurangi penegakan zona terlarang. Namun, jika kesepakatan itu tidak berjalan atau ditolak, Teheran dinilai telah menyiapkan langkah yang dapat mempersulit Washington dalam menentang perjanjian dengan Oman.

Kesimpulan

Iran berencana mengumumkan zona terlarang di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Zona itu disebut akan dimulai dari garis blokade angkatan laut AS, meluas ke arah selat, dan mencakup wilayah Teluk Persia. Kapal yang memasuki kawasan tersebut berpotensi masuk daftar sanksi Iran.

Di sisi lain, batas wilayah dan mekanisme penegakan zona tersebut masih belum dijelaskan secara terperinci. Rencana ini juga berkaitan dengan penyusunan koridor pelayaran baru bersama Oman. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kesepakatan Iran-Oman serta respons AS terhadap pengaturan baru di jalur pelayaran strategis tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment