Polisi Identifikasi Kru KM Arupadatu 1 yang Hilang Saat Meliput Gunung Anak Krakatau

Polisi berhasil mengidentifikasi satu kru KM Arupadatu 1, kapal yang membawa lima jurnalis untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 7 September 2026. Kapal tersebut dilaporkan hilang kontak sejak keberangkatan dan telah menjadi bagian dari operasi pencarian selama 10 hari.

Identitas kru kapal terungkap setelah tim menemukan jenazah tanpa identitas di Pulau Enggano, Bengkulu. Setelah melalui proses pemeriksaan dan pencocokan data DNA, jenazah yang sebelumnya diberi kode Mister X itu dipastikan merupakan Surakhman, salah satu anak buah kapal KM Arupadatu 1.

Jenazah Ditemukan di Pulau Enggano

Kapolda Banten Irjen Hengki menjelaskan, proses identifikasi bermula dari penemuan jenazah di perairan Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Jenazah tersebut ditemukan pada 12 September, atau lima hari setelah KM Arupadatu 1 hilang kontak.

Informasi mengenai penemuan jenazah diterima kepolisian pada hari kelima operasi pencarian. Dalam jumpa pers di Polda Banten, Rabu (23/9), Hengki mengatakan pihaknya memperoleh informasi dari Kapolda Bengkulu mengenai temuan seorang jenazah yang belum diketahui identitasnya di Pulau Enggano.

“Hari kelima pencarian, kita mendapat informasi dari Bengkulu, saya mendapat informasi dari Kapolda Bengkulu bahwa di sana di Pulau Enggano, Bengkulu Utara ya, ditemukan seorang jenazah, Mister X,” kata Hengki.

Setelah menerima informasi tersebut, Polda Banten langsung berkoordinasi dengan Polda Bengkulu. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani autopsi dan pemeriksaan identitas melalui analisis DNA.

Proses Identifikasi Melibatkan Data Keluarga

Dalam proses pemeriksaan, Biddokkes Polda Banten mengirimkan data antemortem dan postmortem dari delapan keluarga yang anggota keluarganya hilang atau kehilangan kontak. Data tersebut digunakan untuk membantu pencocokan dengan jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano.

Pemeriksaan dilakukan oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, termasuk unsur laboratorium DNA Pusdokkes Polri. Ketika ditemukan, jenazah diketahui mengenakan celana pendek berwarna hitam. Perkiraan tinggi badannya sekitar 163 sentimeter, sedangkan usianya diperkirakan sekitar 50 tahun.

Tim Disaster Victim Identification atau DVI kemudian melakukan pencocokan data dari keluarga korban kapal yang hilang. Pemeriksaan tersebut mencakup sejumlah data primer, seperti sidik jari, kondisi gigi, dan DNA.

Surakhman Dipastikan sebagai Kru KM Arupadatu 1

Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA, jenazah dengan kode PM/62/P.Enggano/01 dinyatakan memiliki kecocokan genetik dengan Surakhman. Ia merupakan ayah biologis dari Tuan Yayat, yang menjadi salah satu sumber pembanding dalam proses identifikasi.

Hengki menjelaskan bahwa Tuan Yayat merupakan putra kandung Surakhman. Surakhman diketahui bekerja sebagai anak buah kapal atau ABK KM Arupadatu 1, kapal yang membawa rombongan lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 7 September 2026.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mister X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, bahwa secara genetik PM/62/P.Enggano/01 itu kode jenazah Mister X tadi teridentifikasi sebagai Surakhman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat,” ujar Hengki.

Operasi Pencarian Berlangsung Selama 10 Hari

KM Arupadatu 1 dilaporkan hilang kontak setelah membawa lima jurnalis yang bertugas meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kepolisian dan pihak terkait kemudian melakukan operasi pencarian selama 10 hari. Namun, operasi tersebut belum berhasil menemukan kapal maupun seluruh rombongan.

Identifikasi Surakhman baru dapat dilakukan setelah lebih dari tiga pekan sejak kapal kehilangan kontak. Penemuan jenazah di Pulau Enggano menjadi titik awal bagi proses pemeriksaan yang melibatkan kepolisian di Banten dan Bengkulu, serta Tim DVI dan laboratorium DNA Pusdokkes Polri.

Kesimpulan

Polisi telah mengidentifikasi satu kru KM Arupadatu 1 yang hilang setelah membawa lima jurnalis untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jenazah yang ditemukan di perairan Pulau Enggano pada 12 September dipastikan sebagai Surakhman berdasarkan pencocokan DNA dengan data keluarga.

Proses identifikasi tersebut dilakukan melalui pemeriksaan sidik jari, gigi, dan DNA, dengan melibatkan data dari delapan keluarga yang kehilangan kontak dengan anggota keluarganya. Temuan ini menjadi bagian penting dalam penanganan kasus hilangnya KM Arupadatu 1, sementara informasi mengenai kapal dan rombongan jurnalis lainnya masih menjadi bagian dari proses pencarian dan identifikasi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment