Ruben Onsu Unggah Kesaksian Pegawai Kelab Malam Terkait Laporan Dugaan Kekerasan Seksual Betrand Peto

Jakarta – Ruben Onsu membeberkan kesaksian dua pegawai kelab malam yang disebut berada di lokasi kejadian dugaan kekerasan seksual yang menyeret anak asuhnya, Betrand Peto. Kesaksian tersebut disampaikan Ruben melalui serangkaian unggahan di media sosial pada Minggu (13/9).

Dalam unggahan itu, Ruben menampilkan keterangan petugas server bernama Jakaria dan Revi. Keduanya memberikan gambaran mengenai situasi di ruangan karaoke yang ditempati Betrand bersama dua orang temannya serta tiga perempuan.

Kesaksian para pegawai tersebut berbeda dengan keterangan perempuan berinisial ANW yang mengaku sebagai korban. Karena itu, perkara ini masih memuat dua versi informasi yang perlu didalami melalui proses hukum dan bukti-bukti yang tersedia.

Kesaksian Jakaria tentang Keributan di Ruang Karaoke

Jakaria menyebut dirinya merupakan petugas yang mencari tiga perempuan untuk menemani Betrand dan dua temannya di ruangan karaoke. Ia mengatakan, perempuan-perempuan tersebut didatangkan berdasarkan permintaan teman Betrand.

Menurut Jakaria, ia telah memperkenalkan kedua pihak sekaligus menjelaskan permintaan tersebut kepada tiga perempuan yang datang ke ruangan. Namun, tidak lama setelah dirinya meninggalkan ruangan, terjadi keributan.

Salah satu perempuan tiba-tiba menangis tanpa menjelaskan alasan. Temannya, yang dalam kesaksian disebut sebagai perempuan dengan julukan “kuping berdarah”, kemudian marah karena melihat temannya menangis. Upaya untuk menenangkan situasi disebut tidak langsung berhasil.

Jakaria menuturkan, perempuan yang disebut “kuping berdarah” itu bahkan terlibat keributan dengan teman Betrand. Situasi sempat tidak terkendali sebelum akhirnya dilerai oleh petugas. Ia juga menduga perempuan yang menangis sedang dalam kondisi mabuk, tetapi tetap tidak memperoleh penjelasan mengenai penyebab tangisannya.

Selain itu, Jakaria mengatakan perempuan tersebut sempat mengancam akan memviralkan kejadian yang berlangsung di dalam ruangan. Ia membantah adanya dugaan pelecehan seksual atau pemerkosaan yang melibatkan Betrand.

Jakaria beralasan, ruangan tersebut ditempati sekitar lima orang dan terdapat petugas karaoke yang berjaga di dalam. Mengenai luka lebam yang dikeluhkan pelapor, ia menduga cedera tersebut terjadi ketika perempuan itu hendak ditenangkan dan dibawa keluar ruangan. Menurutnya, perempuan itu dalam kondisi mengamuk hingga tubuhnya terantuk meja.

Revi Menguatkan Keterangan Jakaria

Ruben juga mengunggah kesaksian petugas server perempuan bernama Revi. Dalam keterangannya, Revi menyampaikan hal yang serupa dengan Jakaria.

Revi mengatakan tiga perempuan yang berada di ruangan bersama Betrand dan teman-temannya tampak menikmati karaoke. Ia menyebut suasana awalnya berlangsung “enjoy”. Namun, ketika Revi keluar dari ruangan, salah satu perempuan disebut tiba-tiba menangis tanpa memberikan penjelasan.

Keributan kemudian terjadi sebagaimana yang diceritakan Jakaria. Revi juga membantah adanya tindakan kekerasan yang dilakukan Betrand Peto seperti yang dituduhkan dalam laporan.

Laporan Polisi dan Keterangan Pihak Pelapor

Betrand Peto dilaporkan ke kepolisian atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual. Laporan tersebut diterima pada Sabtu (12/9), dengan lokasi kejadian disebut berada di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto membenarkan adanya laporan tersebut. Ia menjelaskan, sosok berinisial BP dalam laporan disebut sebagai ATT, yang merupakan anak angkat dari artis berinisial RSO.

Di sisi lain, ANW yang mengaku sebagai korban menggelar konferensi pers pada Minggu (13/9). Kuasa hukum ANW, Nathaniel Hutagaol, menyebut Betrand diduga melakukan tindak pidana pelecehan seksual. Pasal yang disangkakan adalah Pasal 473 Undang-Undang KUHP dan Pasal 6 Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

Selain laporan terhadap Betrand, pihak ANW juga menyampaikan adanya laporan terhadap pria berinisial WHA, yang disebut sebagai rekan Betrand. Laporan itu berkaitan dengan dugaan penganiayaan terhadap rekan ANW.

Keterangan ANW dan Bukti yang Ditunjukkan Kuasa Hukum

ANW mengaku dirinya datang bersama dua teman setelah ditawari untuk meramaikan ruangan yang disewa Betrand dan teman-temannya. Ia mengatakan petugas saat itu memastikan bahwa mereka akan berada dalam kondisi aman di ruangan tersebut.

ANW menuturkan dirinya duduk di sofa di samping Betrand. Ia kemudian mengaku tangannya ditarik dan sempat mengira dirinya diajak untuk mengecek salah satu temannya yang lama berada di toilet. Namun, menurut pengakuannya, tindakan pelecehan terjadi di depan pintu toilet.

Nathaniel menyatakan pihaknya menemukan dugaan kekerasan dan pemaksaan terhadap ANW. Dalam konferensi pers, ia menunjukkan sejumlah foto dan visum yang disebut berkaitan dengan dugaan tersebut, termasuk cedera pada hidung, luka di leher, serta memar pada tangan.

Sikap Ruben Onsu

Ruben Onsu meminta maaf atas pemberitaan yang muncul dan mengatakan dirinya baru memberikan tanggapan setelah memperoleh penjelasan dari orang yang berada di lokasi kejadian.

Ia menyampaikan bahwa sebelum mengambil kesimpulan, publik perlu menunggu informasi yang lebih lengkap. Ruben juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya dan menyerahkan penilaiannya pada bukti-bukti yang ada.

Kesimpulan

Kasus yang melibatkan Betrand Peto saat ini memuat dua versi keterangan. Jakaria dan Revi membantah adanya kekerasan atau pelecehan seksual di ruang karaoke, sedangkan ANW melalui kuasa hukumnya menyampaikan dugaan pelecehan, pemaksaan, serta kekerasan dengan menunjukkan foto dan visum.

Selanjutnya, kepastian mengenai perkara tersebut bergantung pada pendalaman kepolisian, pemeriksaan saksi, serta penilaian terhadap bukti-bukti yang disampaikan oleh masing-masing pihak. Hingga proses itu berjalan, seluruh dugaan tetap perlu dipandang sebagai bagian dari laporan yang masih dalam penanganan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment