SAR Banten Tak Buka Kembali Operasi Pencarian Rombongan Jurnalis Hilang di Selat Sunda
JAKARTA – Kantor SAR Banten memastikan tidak akan membuka kembali operasi pencarian terhadap rombongan jurnalis yang hilang di Perairan Selat Sunda sejak 7 September. Keputusan tersebut diambil setelah proses pencarian dilakukan sesuai ketentuan dan diperpanjang beberapa kali, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban lainnya.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyampaikan, pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal Arupadhatu telah dilakukan selama 10 hari. Dalam proses tersebut, tim SAR menemukan satu jenazah di sekitar Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September. Setelah dilakukan identifikasi, jenazah itu dipastikan merupakan Surakman, kru kapal berusia 60 tahun yang membawa rombongan jurnalis.
Operasi Pencarian Tidak Dibuka Kembali
Al Amrad menjelaskan bahwa operasi pencarian telah berjalan sesuai aturan yang berlaku. Pada tahap awal, pencarian dilakukan selama tujuh hari. Masa operasi kemudian diperpanjang selama tiga hari setelah ditemukan jenazah pada 12 September.
Setelah evaluasi dilakukan hingga 14 September, tim kembali memperpanjang pencarian selama tiga hari. Namun, hingga masa perpanjangan tersebut berakhir, tidak ditemukan tanda-tanda lain yang mengarah pada keberadaan korban.
“Secara aturan pencarian kami itu terlaksana selama tujuh hari. Dalam tujuh hari kita sudah perpanjang tiga hari. Di tujuh hari itu kita menemukan jenazah pada tanggal 12. Nah, sampai tanggal 14 setelah evaluasi kita perpanjang tiga hari. Setelah tiga hari itu tidak ada tanda-tanda korban,” kata Amrad dalam konferensi pers, Rabu (23/9).
Dengan pertimbangan tersebut, operasi SAR besar-besaran terhadap rombongan jurnalis dan awak kapal resmi dihentikan pada Kamis (17/9). Kantor SAR Banten juga menyatakan tidak memiliki rencana untuk membuka kembali operasi pencarian secara khusus terhadap rombongan tersebut.
Pemantauan Dilanjutkan melalui Informasi Pelayaran
Meski operasi resmi telah dihentikan, Kantor SAR Banten tetap melakukan langkah tindak lanjut melalui penyebaran informasi kepada berbagai pihak yang beraktivitas di wilayah perairan. Informasi tersebut disampaikan dalam bentuk e-broadcast dan maklumat pelayaran atau mapel.
Penyebaran informasi melibatkan Vessel Traffic Service (VTS), stasiun radio pantai, nelayan, serta masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Informasi juga ditujukan kepada kapal dan alat transportasi yang melintas di sekitar lokasi kejadian.
Menurut Amrad, langkah tersebut dilakukan agar setiap pihak yang berada di sekitar wilayah pencarian dapat segera menyampaikan informasi apabila menemukan tanda-tanda yang berkaitan dengan rombongan kapal Arupadhatu.
“Jadi e-broadcast yang kita lakukan ini termasuk pemapelan itu, kami libatkan dengan VTS, termasuk stasiun radio pantai, termasuk para nelayan, termasuk para masyarakat yang di sekitar pesisir, warga pesisir di sekitar Lampung, dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda disampaikan di informasi tersebut. Termasuk transportasi yang melintas wilayah sekitar lokasi kejadian,” tutur Amrad.
Kronologi Hilangnya Kapal Arupadhatu
Rombongan yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal menaiki kapal Arupadhatu untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kapal tersebut berangkat dari dermaga di Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9).
Setelah berangkat, kapal Arupadhatu hilang kontak di Perairan Selat Sunda. Tim SAR kemudian melaksanakan pencarian secara besar-besaran di sekitar wilayah Gunung Anak Krakatau dan perairan sekitarnya.
Selama proses pencarian, satu jenazah ditemukan di sekitar Pulau Enggano, Bengkulu, pada hari kelima. Jenazah tersebut kemudian menjalani pemeriksaan dan proses identifikasi karena diduga berkaitan dengan rombongan kapal yang hilang.
Hasil identifikasi memastikan jenazah itu adalah Surakman, pria berusia 60 tahun yang merupakan salah satu kru kapal Arupadhatu. Sementara itu, hingga operasi pencarian ditutup, tidak ada temuan lain yang mengarah kepada keberadaan penumpang kapal tersebut.
Kesimpulan
Kantor SAR Banten menegaskan bahwa operasi pencarian rombongan jurnalis yang hilang di Selat Sunda tidak akan dibuka kembali setelah seluruh tahapan pencarian dan perpanjangan operasi selesai dilakukan. Satu-satunya korban yang ditemukan telah diidentifikasi sebagai Surakman, kru kapal Arupadhatu.
Ke depan, pemantauan tetap dilakukan secara tidak langsung melalui penyebaran e-broadcast dan maklumat pelayaran kepada kapal yang melintas, stasiun radio pantai, nelayan, serta masyarakat pesisir. Langkah ini menjadi tindak lanjut untuk menerima informasi apabila terdapat temuan yang berkaitan dengan rombongan tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment