Tim SAR Temukan Liferaft Diduga Milik KM Virgo Transport 8 di Perairan Kuala Pembuang
Tim SAR gabungan menemukan sebuah liferaft atau perahu karet yang diduga milik KM Virgo Transport 8 di perairan Kuala Pembuang, Kamis (17/9). Penemuan tersebut menjadi salah satu perkembangan dalam operasi pencarian kapal yang mengalami insiden terbalik di Laut Jawa.
KM Virgo Transport 8 sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal tersebut membawa 243 orang yang terdiri atas penumpang, awak kapal, dan kru. Hingga Senin (14/9), sebanyak 114 orang telah ditemukan, sedangkan 129 lainnya masih dalam pencarian.
Liferaft Diduga Berasal dari KM Virgo Transport 8
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana, mengatakan tim menemukan liferaft yang diduga berasal dari KM Virgo Transport 8 di kawasan perairan Kuala Pembuang.
“Ditemukan life raft yang diduga berasal dari kapal tersebut di perairan Kuala Pembuang,” ujar Putu dalam keterangannya pada Kamis (17/9).
Temuan ini menjadi bagian penting dari proses pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan. Selain menyisir wilayah perairan, petugas juga melakukan pemantauan terhadap kemungkinan lokasi badan kapal dan keberadaan korban yang masih belum ditemukan.
Posisi Objek Dideteksi Menggunakan Sonar
Berdasarkan pemantauan visual pada Rabu (16/9), badan KM Virgo Transport 8 sudah tidak terlihat di permukaan laut dari jarak sekitar 1,1 nautical mile. Namun, pencarian bawah air tetap dilakukan untuk mengetahui posisi objek yang diduga merupakan kapal tersebut.
Unsur TNI AL menggunakan sonar aktif untuk mendeteksi keberadaan objek di bawah permukaan laut. Dari hasil deteksi tersebut, tim berhasil mengidentifikasi posisi objek pada koordinat 04°31,667′ Lintang Selatan dan 114°00,245′ Bujur Timur.
Objek itu diketahui mengalami pergeseran sekitar 500 yard ke arah tenggara dari posisi sebelumnya. Informasi tersebut menjadi salah satu acuan bagi tim dalam menentukan pola pencarian pada hari kelima operasi SAR.
Pencarian Dibagi Menjadi Sektor Udara dan Laut
Pada Kamis, strategi operasi SAR dibagi menjadi dua sektor utama, yakni pencarian melalui udara dan pencarian melalui laut. Pembagian ini dilakukan untuk memperluas jangkauan penyisiran di wilayah yang menjadi lokasi pencarian.
Helikopter Menyisir Area 1.489 Nautical Mile Persegi
Unsur udara melibatkan helikopter Basarnas, Polri, dan TNI AL. Pesawat-pesawat tersebut difokuskan untuk menyisir area seluas kurang lebih 1.489 nautical mile persegi.
Penyisiran udara diharapkan dapat membantu tim memperoleh gambaran lebih luas mengenai kondisi perairan serta menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun benda yang berkaitan dengan kapal.
Unsur Laut Dibagi Menjadi Empat Sektor
Sementara itu, pencarian melalui laut dilakukan dengan membagi wilayah operasi menjadi empat sektor utama. Total area pencarian laut mencapai sekitar 5.600 nautical mile persegi.
Operasi tersebut melibatkan ratusan personel dari berbagai unsur. Sejumlah alat utama turut dikerahkan, antara lain kapal SAR, kapal perang TNI AL, helikopter, pesawat udara, serta peralatan pendukung untuk pencarian dan evakuasi.
Cuaca Menjadi Salah Satu Kendala Pencarian
Dalam pelaksanaan operasi, tim di lapangan menghadapi kendala berupa perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pencarian dilakukan di wilayah perairan yang luas.
Meski demikian, kondisi cuaca saat operasi berlangsung dilaporkan cerah berawan. Tinggi gelombang berada pada kisaran 1 hingga 1,5 meter. Menurut Putu, kondisi tersebut masih memungkinkan operasi SAR berjalan secara optimal.
Operasi SAR Masih Berlanjut
Penemuan liferaft dan deteksi objek bawah air menjadi perkembangan terbaru dalam pencarian KM Virgo Transport 8. Tim SAR gabungan masih mengandalkan penyisiran udara, pencarian laut, serta deteksi bawah air untuk menelusuri lokasi kapal dan mencari 129 orang yang masih belum ditemukan.
Dengan dukungan ratusan personel dan berbagai alat utama, operasi pencarian terus dilakukan berdasarkan pembagian sektor yang telah ditetapkan. Kondisi cuaca dan hasil pemantauan di lapangan akan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pencarian berikutnya.
Sumber: Cnnindonesia


Post Comment