Hui Ka Yan Divonis Seumur Hidup, Begini Jejak Kejayaan dan Kejatuhan Guangzhou Evergrande

Hui Ka Yan, pendiri perusahaan properti Evergrande, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan China. Selain hukuman tersebut, seluruh aset pribadi taipan berusia 67 tahun itu juga diperintahkan untuk disita.

Hui Ka Yan bukan hanya dikenal sebagai tokoh penting di industri properti China. Ia juga pernah menjadi sosok di balik kebangkitan klub sepak bola Guangzhou Evergrande, yang sempat menjelma sebagai kekuatan terbesar di sepak bola China dan Asia.

Melalui Evergrande Real Estate Group, Hui Ka Yan membeli klub Guangzhou pada 2010. Saat itu, klub tersebut tengah berada dalam kondisi sulit setelah terseret kasus pengaturan skor. Akuisisi tersebut kemudian menjadi titik awal perubahan besar bagi klub yang sebelumnya bernama Guangzhou Football Club.

Hui Ka Yan Membawa Guangzhou ke Era Kejayaan

Setelah diambil alih Evergrande, Guangzhou Football Club berganti nama menjadi Guangzhou Evergrande Football Club. Kehadiran perusahaan properti tersebut sebagai pemilik mengubah status klub secara drastis, dari tim medioker menjadi penguasa kompetisi domestik China.

Pada dekade 2010-an, Guangzhou Evergrande menjadi sorotan sepak bola China dan dunia. Klub berjuluk South China Tigers itu aktif mendatangkan pemain dan pelatih ternama. Aktivitas transfer yang besar berjalan beriringan dengan prestasi gemilang di lapangan.

Deretan Pemain dan Pelatih Bintang

Guangzhou Evergrande merekrut sejumlah pemain penting dari kawasan Asia Timur. Salah satunya adalah Sun Xiang, pemain China pertama yang tampil di Liga Champions bersama PSV Eindhoven. Klub tersebut juga mendatangkan Zheng Zhi, yang saat itu merupakan kapten tim nasional China.

Ambisi Guangzhou Evergrande tidak berhenti pada perekrutan pemain. Klub itu juga menggaet pelatih-pelatih ternama dari Eropa dan Amerika Selatan. Marcelo Lippi, pelatih asal Italia, pernah menduduki kursi pelatih klub tersebut. Selain Lippi, posisi pelatih juga pernah dipercayakan kepada Fabio Cannavaro dan Luiz Felipe Scolari.

Di sektor pemain, Guangzhou Evergrande pernah diperkuat sejumlah nama besar seperti Paulinho, Robinho, dan Alberto Gilardino. Kehadiran para pemain tersebut memperkuat citra klub sebagai salah satu tim dengan kekuatan finansial terbesar di sepak bola China.

Dominasi di Liga China dan Asia

Investasi besar yang dilakukan Guangzhou Evergrande menghasilkan serangkaian prestasi. Klub itu menjadi juara kompetisi kasta tertinggi Liga China secara beruntun pada 2011 hingga 2017. Guangzhou Evergrande kemudian kembali meraih gelar liga pada 2019.

Di level Asia, Guangzhou Evergrande juga mencatat pencapaian penting. Klub tersebut dua kali menjuarai Liga Champions Asia, masing-masing pada 2013 dan 2015. Pada tahun-tahun tersebut, Guangzhou Evergrande juga tampil di Piala Dunia Antarklub dan menempati peringkat keempat.

Rangkaian prestasi itu membuat Guangzhou Evergrande menjadi simbol kekuatan baru sepak bola China. Klub tersebut tidak hanya dominan di kompetisi domestik, tetapi juga mampu bersaing dengan klub-klub elite dari berbagai negara Asia.

Krisis Finansial Mengakhiri Kejayaan Guangzhou Evergrande

Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung selamanya. Permasalahan finansial yang membelit perusahaan Evergrande, ditambah krisis finansial di China, turut berdampak besar terhadap klub. Kondisi tersebut membuat Guangzhou Evergrande mengalami kemunduran hingga akhirnya kolaps.

Klub yang pernah mendominasi sepak bola China itu bahkan harus mengalami degradasi. Kini, tim tersebut kembali menggunakan nama Guangzhou Football Club, nama yang dipakai sebelum diambil alih oleh Evergrande.

Hui Ka Yan Menghadapi Hukuman Seumur Hidup

Di tengah kemunduran klub yang pernah dipimpinnya, Hui Ka Yan juga menghadapi proses hukum. Sosok yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Asia itu mengaku bersalah atas delapan dakwaan berat dalam persidangan pada April 2026.

Dakwaan tersebut mencakup penyalahgunaan dana, penipuan penggalangan dana, penghimpunan dana publik secara ilegal, penyaluran pinjaman ilegal, penerbitan sekuritas palsu, serta penyuapan.

Pengadilan China kemudian menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Hui Ka Yan. Selain itu, pengadilan memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi miliknya. Putusan tersebut menandai kejatuhan salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di China, yang sebelumnya dikenal melalui ekspansi Evergrande di sektor properti dan sepak bola.

Kesimpulan

Perjalanan Hui Ka Yan dan Guangzhou Evergrande memperlihatkan perubahan yang sangat kontras. Di bawah kepemilikannya, Guangzhou berkembang dari klub yang terlilit masalah menjadi juara China dan Asia dengan dukungan pemain serta pelatih kelas dunia. Namun, krisis finansial Evergrande kemudian membuat klub kehilangan kekuatannya hingga terdegradasi.

Hukuman seumur hidup dan penyitaan aset yang dijatuhkan kepada Hui Ka Yan semakin menegaskan besarnya dampak persoalan finansial yang dihadapi sang taipan. Ke depan, Guangzhou Football Club akan menghadapi tantangan untuk membangun kembali identitas dan prestasinya setelah berakhirnya era Evergrande.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment