Indonesia Terpuruk di Kejuaraan Dunia 2026 saat Persaingan Bulu Tangkis Makin Merata
Persaingan bulu tangkis dunia dalam beberapa tahun terakhir semakin kompetitif. Negara-negara yang sebelumnya tidak selalu diperhitungkan kini mampu melahirkan pemain elite dan merebut gelar juara. Jepang kembali menunjukkan kekuatan, India memiliki sejumlah pemain papan atas, sementara Spanyol dan Taiwan juga melahirkan sosok besar seperti Carolina Marin dan Tai Tzu Ying.
Namun, pemerataan kekuatan tersebut justru belum mampu membawa dampak positif bagi Indonesia. Di tengah persaingan yang semakin terbuka, Indonesia masih kesulitan mempertahankan tradisi juara, terutama pada ajang Kejuaraan Dunia. Situasi itu kembali terlihat pada Kejuaraan Dunia 2026 ketika Indonesia gagal mengirimkan wakil ke partai final.
Puasa Gelar Indonesia Terus Berlanjut
Indonesia terakhir kali meraih gelar juara dunia melalui pasangan ganda putra Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan pada 2019. Setelah itu, Indonesia belum mampu kembali menempatkan wakilnya sebagai juara hingga Kejuaraan Dunia 2026.
Jika mengesampingkan edisi 2021 karena Pelatnas PBSI tidak mengirimkan pemain, Indonesia tercatat tidak meraih gelar pada empat edisi Kejuaraan Dunia, yakni 2022, 2023, 2025, dan 2026. Durasi tersebut menjadi salah satu periode terpanjang Indonesia tanpa gelar juara dunia.
Sebelumnya, Indonesia pernah mengalami puasa gelar selama 10 tahun. Setelah Icuk Sugiarto menjadi juara dunia pada 1983, Indonesia baru kembali meraih gelar pada 1993 melalui Joko Suprianto, Susy Susanti, serta pasangan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky. Perbedaannya, ketika itu Kejuaraan Dunia masih digelar dengan format dua tahun sekali.
Indonesia Tidak Gagal di Babak Akhir
Hal yang paling mengkhawatirkan dari kegagalan Indonesia pada Kejuaraan Dunia 2026 bukan semata-mata kekalahan di semifinal atau final. Indonesia justru tidak memiliki cukup banyak pemain unggulan yang dapat diandalkan untuk melangkah jauh hingga perebutan gelar.
Sebelum turnamen dimulai, Indonesia hanya memiliki dua wakil yang masuk jajaran unggulan empat besar, yakni Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Jonatan Christie. Sementara itu, Putri Kusuma Wardani serta Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi berada dalam daftar unggulan 10 besar.
Situasi tersebut membuat peluang Indonesia semakin menipis ketika sejumlah pemain unggulan tersingkir. Harapan kemudian bergantung pada munculnya kejutan dari pemain nonunggulan. Namun, kejutan yang diberikan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah hanya bertahan hingga semifinal.
Lima Wakil ke Perempat Final
Secara keseluruhan, penampilan Indonesia sebenarnya masih cukup menjanjikan hingga babak perempat final. Lima wakil berhasil mencapai fase tersebut, sebuah catatan yang sempat memberikan harapan bagi Indonesia untuk melangkah lebih jauh.
Namun, empat wakil kemudian tersingkir ketika turnamen memasuki fase penentuan menuju zona medali. Selain Fajar/Fikri sebagai salah satu tumpuan utama, Alwi Farhan, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari juga gagal melanjutkan perjalanan.
Kekalahan beruntun itu membuat Indonesia kehilangan banyak amunisi. Bahkan, kegagalan meraih gelar juara dunia sudah dapat dipastikan sebelum pertandingan final berlangsung karena tidak ada satu pun wakil Indonesia yang berhasil menembus partai puncak.
China Tetap Konsisten di Tengah Persaingan
Fenomena pemerataan kekuatan bulu tangkis dunia tidak terlalu memberikan dampak negatif bagi China. Negara tersebut tetap mampu menghasilkan juara dari waktu ke waktu dan tidak pernah mengalami kekosongan gelar di Kejuaraan Dunia maupun Olimpiade.
Pada Kejuaraan Dunia 2026, China memang sempat berada dalam situasi sulit setelah Feng Yanzhe/Huang Dongping dan Liu Shengshu/Tan Ning kalah pada dua nomor awal. Namun, Liang Weikeng/Wang Chang mampu menyelamatkan peluang China sekaligus meneruskan tradisi gelar juara dunia.
Perbedaan utama China dengan Indonesia terlihat dari kedalaman skuad. China biasanya datang dengan banyak pemain andalan. Ketika satu wakil tersingkir, masih ada wakil lain yang memiliki kualitas dan status sebagai kandidat juara.
Korea dan Prancis Tunjukkan Kualitas
Korea Selatan menjadi contoh lain bahwa jumlah wakil bukan satu-satunya faktor penentu. Korea hanya memiliki tiga wakil yang benar-benar berstatus unggulan, yakni An Se Young, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, serta Baek Ha Na/Lee So Hee. Ketiganya mampu melangkah hingga semifinal.
An Se Young dan Baek Ha Na/Lee So Hee kemudian berhasil melaju ke final dan merebut gelar juara. Sementara itu, Prancis juga menunjukkan perkembangan penting melalui Thom Gicquel/Delphine Delrue dan Alex Lanier.
Gicquel/Delrue berhasil menjadi juara dunia sebagai unggulan kelima, sedangkan Lanier berstatus unggulan ketujuh. Hasil tersebut memang tergolong mengejutkan, tetapi bukan kejutan besar karena keduanya sudah berada dalam kelompok unggulan 10 besar.
PBSI dan Regenerasi Tidak Bisa Menunggu
Kegagalan di Kejuaraan Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak kalah pada satu atau dua pertandingan terakhir sebelum juara. Indonesia justru kehilangan kekuatan dua hingga tiga langkah sebelum mencapai partai puncak.
Pengurus PBSI memang mewarisi kondisi ketika Indonesia sedang mengalami krisis pemain andalan. Namun, waktu sekitar 1,5 tahun telah berlalu sehingga kondisi tersebut tidak dapat terus dijadikan alasan. Pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi kualitas pemain, program latihan, maupun kesiapan mental bertanding.
Alwi Farhan, Putri Kusuma Wardani, Rachel/Febi, Febriana/Meilysa, serta Amri/Nita perlu meningkatkan konsistensi dan kualitas permainan. Mereka tidak boleh hanya diposisikan sebagai pembawa kejutan, tetapi harus berkembang menjadi pemain yang benar-benar dapat diandalkan dalam perebutan gelar.
Kesimpulan
Pemerataan kekuatan bulu tangkis dunia memang menjadi kenyataan. Negara-negara baru terus bermunculan dan mampu mengganggu dominasi tradisional. Namun, Indonesia tidak boleh tenggelam dalam situasi tersebut dan menjadikan persaingan yang semakin ketat sebagai alasan atas kegagalan.
Olimpiade tinggal dua tahun lagi. PBSI, pelatih, dan pemain harus segera menghadirkan perubahan besar agar Indonesia memiliki lebih banyak pemain berkualitas serta barisan regenerasi yang kuat. Jika tidak ada peningkatan signifikan, kalimat bahwa kekuatan bulu tangkis dunia semakin merata akan terus terdengar sebagai pembenaran setelah kegagalan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment