BMKG Catat Suhu 38,6 Derajat Celsius di Sintang, Karhutla dan Hujan Lebat Mengintai

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum di sejumlah wilayah Indonesia menembus lebih dari 36 derajat Celsius pada awal September 2026. Suhu tertinggi mencapai 38,6 derajat Celsius dan terjadi di Stasiun Meteorologi Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat, pada 1 September.

Angka tersebut menjadi suhu maksimum harian tertinggi yang dicatat BMKG selama periode 1-9 September 2026. Dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan periode 11-17 September 2026, BMKG menyebut suhu maksimum di sejumlah wilayah berada pada kisaran 37,0 hingga 38,6 derajat Celsius.

Sintang Catat Suhu Tertinggi pada Awal September

Berdasarkan data pengamatan suhu maksimum harian dari 1 September pukul 07.00 WIB hingga 2 September pukul 07.00 WIB, Stasiun Meteorologi Tebelian menempati posisi teratas dengan suhu 38,6 derajat Celsius.

Berikut daftar 10 stasiun dengan suhu tertinggi pada periode tersebut:

  1. Stamet Tebelian: 38,6 derajat Celsius
  2. Stamet Nangapinoh: 37,6 derajat Celsius
  3. Stamet Pangsuma: 36,7 derajat Celsius
  4. Stageof Lampung Utara: 36,6 derajat Celsius
  5. Stamet Kalimarau: 36,3 derajat Celsius
  6. Stamet Kasiguncu: 36,2 derajat Celsius
  7. Stamet Mutiara Sis-Al Jufri: 36,1 derajat Celsius
  8. Taman Alat Digital Staklim Sumsel: 36,0 derajat Celsius
  9. Stamet Syamsudin Noor: 35,9 derajat Celsius
  10. Stamet Tjilik Riwut: 35,8 derajat Celsius

Atmosfer Kering Dipengaruhi El Niño

BMKG menjelaskan, suhu tinggi tersebut terjadi ketika kondisi atmosfer Indonesia relatif kering akibat musim kemarau. Situasi ini juga tidak terlepas dari pengaruh El Niño yang masih berada dalam kategori sangat kuat.

Pemantauan suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 menunjukkan anomali sebesar plus 2,74 derajat Celsius pada dasarian III Agustus 2026. Adapun rata-rata anomali sepanjang Agustus tercatat plus 2,83 derajat Celsius, sedangkan rata-rata selama tiga bulan, yakni Juni, Juli, dan Agustus, mencapai plus 2,2 derajat Celsius.

BMKG menyebut nilai tersebut masih berpotensi meningkat. El Niño juga diprediksi bertahan hingga awal 2027 sehingga kondisi atmosfer kering masih perlu diwaspadai.

Potensi Karhutla dan Sebaran Asap Meningkat

Kombinasi udara kering dan suhu tinggi turut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Hasil pemantauan hotspot selama 10 hari terakhir menunjukkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah.

Kalimantan Tengah mencatat akumulasi hotspot tertinggi dengan 2.526 titik. Wilayah berikutnya adalah Kalimantan Barat sebanyak 2.102 titik, Sumatera Selatan 1.180 titik, dan Papua Selatan 570 titik.

BMKG mengingatkan tingginya jumlah titik panas perlu menjadi perhatian karena dapat menunjukkan meningkatnya potensi karhutla. Kebakaran tersebut berisiko memicu meluasnya sebaran asap, terutama ketika kondisi atmosfer relatif kering.

Citra Satelit Himawari-9 pada 10 September pukul 13.00 WIB menunjukkan asap tersebar di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Kebakaran di lahan gambut juga dapat berlangsung lebih lama dan lebih sulit dipadamkan karena api bisa menjalar hingga lapisan bawah permukaan tanah. Karena itu, BMKG mengingatkan bahwa udara kering dan suhu tinggi berpotensi meningkatkan karhutla, menurunkan kualitas udara, serta memperbesar risiko gangguan kesehatan.

Hujan Lebat Tetap Terjadi di Tengah Kemarau

Di tengah dominasi musim kemarau, hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Pada 7-9 September, curah hujan tercatat mencapai 141,6 milimeter per hari di Sumatera Utara, 114 milimeter per hari di Sumatera Barat, 108,5 milimeter per hari di Aceh, 67 milimeter per hari di Sulawesi Tengah, dan 65 milimeter per hari di Kalimantan Utara.

BMKG menyebut hujan tersebut dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer, seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta daerah belokan dan pertemuan angin.

Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat dan faktor lokal, termasuk topografi, pemanasan permukaan, serta interaksi angin darat dan laut, turut mendukung pertumbuhan awan hujan.

Kesimpulan

Catatan suhu maksimum 38,6 derajat Celsius di Sintang menunjukkan masih kuatnya pengaruh kondisi atmosfer kering dan El Niño pada awal September 2026. Situasi tersebut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, penyebaran asap, serta gangguan kualitas udara.

Namun, musim kemarau tidak berarti seluruh wilayah terbebas dari hujan deras. Hujan lebat tetap dapat terjadi dalam durasi singkat dengan intensitas tinggi akibat pengaruh dinamika atmosfer dan faktor lokal. BMKG mengingatkan masyarakat untuk mencermati perkembangan cuaca, terutama karena kondisi panas, kering, dan hujan ekstrem masih dapat muncul dalam periode yang sama.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment