CEO Instagram Adam Mosseri Bantah Tuduhan Sembunyikan Data Fitur Remaja
CEO Instagram Adam Mosseri membantah tuduhan jaksa Amerika Serikat yang menyebut perusahaan menyembunyikan informasi mengenai rendahnya penggunaan fitur keamanan untuk remaja. Bantahan tersebut disampaikan dalam persidangan yang berlangsung di pengadilan federal Oakland, California.
Dalam sidang itu, Mosseri menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memerintahkan tim Instagram untuk menutup-nutupi informasi apa pun. Kesaksiannya menjadi bagian penting dari gugatan yang diajukan sejumlah negara bagian AS terhadap Meta, perusahaan induk Instagram.
Adam Mosseri Bantah Ada Perintah Menyembunyikan Informasi
Mosseri mengatakan tidak pernah meminta timnya menyembunyikan data terkait fitur remaja di Instagram. Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia berulang kali ditanya mengenai alasan perusahaan tidak mengungkapkan jumlah pengguna fitur keamanan remaja yang dinilai rendah.
“Saya tidak menyuruh tim saya untuk menyembunyikan apa pun,” kata Mosseri dalam persidangan di California, sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Menurut Mosseri, Instagram memang tidak menerbitkan setiap statistik secara terperinci kepada publik. Namun, ia membantah jika kebijakan tersebut dapat disebut sebagai upaya menyembunyikan informasi.
“Kami tidak menerbitkan setiap angka statistik secara detail,” tegasnya.
Jaksa Soroti Penggunaan Fitur Take a Break
Salah satu hal yang menjadi perhatian jaksa adalah fitur keamanan remaja bernama Take a Break. Fitur ini dirancang untuk mengingatkan pengguna remaja agar berhenti menggunakan Instagram ketika mereka terdeteksi menghabiskan waktu terlalu lama di aplikasi.
Penggunaan Fitur Disebut Hanya 1,8 Persen
Jaksa untuk negara bagian Colorado, Jason Slothouber, menanyakan tingkat penggunaan fitur tersebut kepada Mosseri. Dalam persidangan, Slothouber menyebut hanya sekitar 1,8 persen remaja yang menggunakan fitur Take a Break.
Mosseri membantah bahwa Instagram pernah mengumumkan angka tersebut kepada publik. Ia menyatakan perusahaan sebelumnya telah menyampaikan secara terbuka bahwa tingkat penggunaan fitur itu tergolong rendah, tetapi tidak yakin pernah menyebutkan angka spesifiknya.
“Saya sudah bilang secara terbuka bahwa tingkat penggunaannya rendah. Saya tidak tahu apakah saya pernah menyebutkan angkanya secara spesifik,” jelas Mosseri.
Pernyataan itu menjadi salah satu bagian yang diperdebatkan dalam sidang. Jaksa berupaya menunjukkan bahwa Meta mengetahui rendahnya penggunaan sejumlah fitur keamanan, tetapi tidak menyampaikan seluruh informasi tersebut secara jelas kepada publik.
Meta Dituduh Merugikan Anak-Anak
Gugatan terhadap Meta diajukan oleh sejumlah negara bagian di Amerika Serikat. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu dituduh sengaja merancang platform yang dapat membuat anak-anak kecanduan serta menutupi dampak buruk penggunaan media sosial terhadap mereka.
Selain itu, Meta juga dituduh secara rutin mengumpulkan data anak-anak berusia di bawah 13 tahun tanpa izin orang tua. Para penggugat menilai tindakan tersebut melanggar sejumlah undang-undang federal dan negara bagian di AS.
Meta membantah seluruh tuduhan yang diajukan dalam perkara tersebut. Perusahaan menyatakan bahwa negara-negara bagian yang menggugat hanya mencari pembayaran dengan nilai yang dianggap tidak masuk akal.
Juru bicara Meta juga menyampaikan bahwa tim keamanan perusahaan terus berupaya memberikan perlindungan terbaik bagi para pengguna. Menurutnya, kesaksian Mosseri memperlihatkan bahwa Meta melakukan penelitian untuk menemukan cara meningkatkan pengalaman serta keamanan pengguna.
Kesaksian Mantan Insinyur Meta
Selain Mosseri, persidangan turut menghadirkan sejumlah saksi. Dalam sepekan terakhir, juri mendengarkan kesaksian Arturo Bejar, mantan insinyur keamanan Meta.
Dalam kesaksiannya, Bejar menyebut Meta menerapkan strategi yang membuat perusahaan seolah menutup mata dan mulut terhadap persoalan keamanan anak di berbagai platformnya. Juri juga mendengarkan keterangan dari seorang psikolog, serta sejumlah karyawan dan mantan karyawan Meta.
Sidang Berpotensi Mengubah Desain Media Sosial
Persidangan yang telah berlangsung sejak pekan sebelumnya diperkirakan berlanjut hingga September. Sejumlah tokoh lain, termasuk CEO Meta Mark Zuckerberg, juga diundang untuk memberikan kesaksian.
Apabila Meta dinyatakan bersalah, perusahaan tersebut terancam denda hingga US$200 miliar atau sekitar Rp3.545 triliun. Selain sanksi finansial, Meta juga dapat dipaksa mengubah desain produknya agar lebih ramah dan aman bagi pengguna anak.
Para ahli hukum menilai putusan dalam perkara ini dapat memberikan dampak besar terhadap cara kerja aplikasi media sosial bagi anak-anak. Hasil sidang juga berpotensi memengaruhi kebijakan perusahaan teknologi dalam merancang fitur keamanan, mengelola data pengguna muda, serta menyampaikan informasi mengenai efektivitas fitur perlindungan kepada publik.
Kesimpulan
Adam Mosseri menegaskan bahwa Instagram tidak pernah menyembunyikan informasi secara sengaja terkait rendahnya penggunaan fitur keamanan remaja. Di sisi lain, jaksa AS tetap menyoroti minimnya transparansi Meta, termasuk mengenai penggunaan fitur Take a Break yang disebut hanya mencapai 1,8 persen.
Perkara ini masih berjalan dan belum menghasilkan putusan akhir. Kesaksian para pejabat Meta, mantan karyawan, psikolog, serta kemungkinan hadirnya Mark Zuckerberg akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah kasus. Keputusan pengadilan nantinya tidak hanya berdampak bagi Meta, tetapi juga dapat mendorong perubahan besar pada desain dan kebijakan media sosial yang digunakan anak-anak.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment