China Dorong Indonesia Dukung WAICO di Tengah Persaingan Tata Kelola AI Global

China mendesak Indonesia memberikan dukungan kuat terhadap World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), organisasi kerja sama kecerdasan buatan dunia yang baru saja dibentuk. Seruan tersebut disampaikan di tengah persaingan antara Beijing dan Washington dalam memperebutkan pengaruh terhadap perkembangan teknologi serta tata kelola kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tingkat global.

Imbauan itu disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi menilai kerja sama China dan Indonesia perlu diperluas ke sektor-sektor baru, termasuk teknologi AI.

China Minta Indonesia Perkuat Kerja Sama AI

Wang Yi menyatakan China dan Indonesia perlu mengembangkan kerja sama yang selama ini telah terjalin ke bidang-bidang yang sedang tumbuh. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah kecerdasan buatan, yang kini semakin berkaitan dengan perkembangan teknologi, ekonomi, dan tata kelola internasional.

Selain memperluas kolaborasi bilateral dalam bidang AI, Wang Yi juga mengajak Indonesia untuk bersama-sama menyukseskan WAICO. Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia melakukan kunjungan ke Indonesia bersama Menteri Pertahanan China Laksamana Dong Jun untuk menghadiri sejumlah agenda dialog diplomatik dan keamanan tingkat tinggi.

Seruan China itu menunjukkan pentingnya peran Indonesia dalam kerja sama teknologi global. Indonesia sebelumnya menjadi salah satu dari 29 negara yang menandatangani kesepakatan pembentukan WAICO di Shanghai pada bulan sebelumnya.

WAICO Dibentuk untuk Mendorong Tata Kelola AI Global

WAICO merupakan organisasi antarpemerintah yang dibentuk dengan tujuan mendorong kerja sama internasional di bidang kecerdasan buatan. Organisasi tersebut juga diarahkan untuk membantu merumuskan tata kelola AI di tingkat global.

Pembentukan WAICO berlangsung ketika sejumlah negara berupaya menentukan arah pengembangan dan pengaturan teknologi AI. Karena itu, organisasi tersebut dipandang memiliki arti penting dalam mendorong pembahasan mengenai kerja sama antarnegara serta tata kelola kecerdasan buatan.

Dalam konteks hubungan China dan Indonesia, pembahasan mengenai WAICO turut mengemuka dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi di Jakarta. Wang Yi dan Sugiono menggelar Pertemuan Dialog Strategis Komprehensif China-Indonesia yang pertama pada Jumat, 21 Agustus.

Selain pertemuan tersebut, Wang Yi dan Dong Jun juga bergabung dengan mitra mereka dari Indonesia dalam Pertemuan Dialog Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan atau Format 2+2 yang kedua. Rangkaian dialog itu menjadi wadah pembahasan kerja sama diplomatik, pertahanan, serta isu-isu strategis yang berkaitan dengan kedua negara.

Indonesia Tetap Pegang Prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Di tengah persaingan China dan Amerika Serikat dalam memengaruhi arah tata kelola AI dunia, Indonesia tetap memegang prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Prinsip tersebut tercermin dari upaya Indonesia menjaga serta mempererat hubungan ekonomi dan teknologi dengan China maupun Amerika Serikat tanpa harus memihak salah satu pihak.

Posisi Indonesia itu membuat kerja sama dengan berbagai negara tetap dapat dijalankan berdasarkan kepentingan nasional dan kebutuhan pembangunan. Dalam isu AI, Indonesia juga memiliki ruang untuk membangun hubungan dengan lebih dari satu mitra tanpa terikat pada pilihan blok tertentu.

China Tolak Pemaksaan dalam Kerja Sama AI

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan bahwa setiap negara memiliki hak untuk menentukan mitra kerja sama dan model AI secara mandiri. Menurutnya, keputusan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi nasional serta kebutuhan pembangunan masing-masing negara.

Pernyataan Lin Jian disampaikan sebagai respons terhadap laporan mengenai rencana Pemerintah Amerika Serikat mengirim surat kepada negara-negara yang menandatangani deklarasi peluang AI versi AS, atau US AI Opportunity Statement.

Surat tersebut dikabarkan memuat peringatan agar negara-negara penandatangan tidak bergabung dengan inisiatif global lain, termasuk WAICO, yang dinilai Washington tidak sejalan dengan standar mereka.

China kemudian menyatakan penolakan terhadap segala bentuk pemaksaan yang mengharuskan suatu negara memilih pihak tertentu. Beijing juga menentang upaya membentuk konfrontasi antarkelompok atau blok dalam bidang teknologi AI.

Kesimpulan

Desakan China agar Indonesia mendukung WAICO memperlihatkan semakin pentingnya posisi kerja sama AI dalam hubungan internasional. Di tengah persaingan Beijing dan Washington, Indonesia berupaya mempertahankan politik luar negeri bebas aktif dengan tetap menjalin kerja sama ekonomi dan teknologi bersama kedua negara.

Ke depan, peran Indonesia dalam WAICO dan berbagai kerja sama AI akan bergantung pada kemampuan Jakarta menjaga kepentingan nasional sekaligus mendorong kolaborasi teknologi yang terbuka. Prinsip kemandirian dalam menentukan mitra dan model AI, sebagaimana ditegaskan China, menjadi salah satu isu yang terus berkembang dalam perdebatan tata kelola kecerdasan buatan global.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment