El Nino Picu Lonjakan Nyamuk dan Risiko Demam Berdarah di Singapura

Fenomena El Nino tidak hanya membawa ancaman bagi satwa liar, tetapi juga dapat memicu peningkatan populasi hewan tertentu yang mampu beradaptasi dengan cepat. Salah satu satwa yang berpotensi mengalami lonjakan populasi adalah nyamuk, terutama di wilayah tropis dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Singapura.

Cuaca ekstrem yang berkaitan dengan El Nino dapat mengganggu kehidupan berbagai spesies. Namun, bagi nyamuk, kondisi panas, perubahan curah hujan, serta keberadaan genangan air justru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan. Situasi ini berpotensi meningkatkan risiko penularan demam berdarah.

El Nino dan Peningkatan Risiko Demam Berdarah

Dikutip dari Channel News Asia, nyamuk berkembang biak dengan baik di iklim tropis dan lingkungan padat penduduk. Kondisi tersebut membuat Singapura menjadi salah satu wilayah yang perlu mewaspadai dampak perubahan cuaca terhadap populasi nyamuk.

Studi yang dilakukan pada 2025 menganalisis kasus demam berdarah di Singapura selama lebih dari dua dekade. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko demam berdarah meningkat ketika terjadi fenomena El Nino yang kuat. Analisis tersebut juga mempertimbangkan faktor suhu dan curah hujan lokal.

Badan Lingkungan Nasional atau NEA Singapura menjelaskan, iklim tropis dan kepadatan penduduk yang tinggi menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk berkembang sepanjang tahun. Ketika suhu meningkat, siklus hidup nyamuk dapat berlangsung lebih cepat sehingga populasinya berpotensi bertambah.

Suhu Panas Mempercepat Siklus Nyamuk dan Virus

Studi internasional lainnya menunjukkan bahwa suhu tinggi, musim dingin yang lebih hangat, serta curah hujan yang tidak normal akibat El Nino dapat memengaruhi perkembangbiakan nyamuk. Perubahan tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko penularan demam berdarah.

Wakil Direktur Jenderal sekaligus juru bicara Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan, Tseng Shu-hui, menjelaskan bahwa peningkatan suhu dapat memperpendek siklus hidup nyamuk pembawa virus. Suhu panas juga dapat mempercepat proses perkembangbiakan nyamuk.

Selain memengaruhi nyamuk, suhu yang lebih tinggi dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan virus demam berdarah untuk menggandakan diri di dalam tubuh nyamuk. Dengan demikian, peningkatan suhu berpotensi memengaruhi dua aspek sekaligus, yakni pertumbuhan populasi nyamuk dan perkembangan virus di dalam tubuhnya.

Genangan Air Menjadi Tempat Perkembangbiakan

Hujan lebat maupun hujan yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan genangan air terbentuk di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar ruangan. Genangan tersebut berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Data pemantauan demam berdarah NEA pada April hingga Juni 2026 menunjukkan sejumlah lokasi utama perkembangbiakan nyamuk di area publik. Beberapa di antaranya adalah saluran air tepi yang tertutup, wadah bekas, serta perangkap selokan.

El Nino tahun ini diperkirakan membawa cuaca yang lebih panas dan kering di Singapura pada Juni hingga Oktober. Periode tersebut bertepatan dengan musim puncak demam berdarah yang biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober. Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap perkembangan nyamuk dan penularan penyakit semakin penting.

Dampak El Nino terhadap Satwa Liar

Di sisi lain, para pakar mengkhawatirkan dampak cuaca ekstrem terhadap siklus hidup berbagai hewan liar, terutama serangga. Eleanor Slade, Associate Professor di Asian School of the Environment, mengatakan bahwa El Nino yang semakin kuat dapat membuat serangga kewalahan dalam beradaptasi.

Menurut Slade, sebagian serangga mungkin gagal menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi lingkungan dan tidak mampu bertahan hidup. Meskipun banyak serangga dikenal tangguh, spesies yang tidak terbiasa hidup berdampingan dengan manusia menjadi lebih rentan ketika sumber makanan tidak lagi tersedia secara pasti.

Cuaca yang berubah-ubah dapat mengganggu ketersediaan makanan serta siklus hidup tumbuhan dan hewan. Gangguan tersebut berpotensi mengacaukan keseimbangan alam dan rantai makanan di Singapura.

Cuaca panas dan kabut juga dinilai dapat memengaruhi siklus hidup serangga. Jika populasi serangga menurun secara drastis, dampaknya dapat merambat kepada burung, kelelawar, mamalia, dan satwa pemakan serangga lainnya.

Kesimpulan

El Nino dapat memberikan dampak yang berbeda bagi setiap spesies. Nyamuk yang mudah beradaptasi berpotensi memperoleh keuntungan dari suhu panas, perubahan curah hujan, dan genangan air. Sebaliknya, banyak satwa liar dapat menghadapi tekanan akibat terganggunya sumber makanan serta perubahan siklus hidup.

Ke depan, perubahan komposisi populasi satwa perlu menjadi perhatian. Seperti dikatakan Slade, selalu ada spesies yang mampu bertahan dan kelompok satwa baru yang terbentuk. Namun, jenis satwa yang bertahan serta manfaat atau dampaknya bagi manusia dan ekosistem masih menjadi hal yang perlu dicermati.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment