Gunung Anak Krakatau Erupsi September 2026, Ini Sejarah Pembentukan dan Potensi Bahayanya
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi di perairan Selat Sunda pada Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB hingga Sabtu, 5 September 2026 dini hari. Erupsi tersebut ditandai dengan semburan lava pijar berwarna merah menyala atau lava fountain, serta suara dentuman yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten.
Peralatan CCTV di sekitar kawah juga dilaporkan mengalami gangguan setelah terkena lontaran material erupsi. Meski erupsi menerus kemudian berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan potensi letusan susulan masih tergolong tinggi. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
Sejarah Terbentuknya Gunung Anak Krakatau
Keberadaan Gunung Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari sejarah erupsi besar Gunung Krakatau pada 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau dan membentuk kaldera besar di kawasan Selat Sunda.
Aktivitas vulkanik kembali muncul dari kawasan kaldera pada akhir 1927. Pada masa itu, erupsi masih berlangsung di bawah permukaan laut. Material vulkanik yang terus keluar kemudian menumpuk secara bertahap hingga membentuk daratan baru.
Pada 1929, sebuah gunung baru akhirnya muncul ke permukaan. Gunung tersebut kemudian dikenal dengan nama Gunung Anak Krakatau. Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami proses pembentukan. Lava, abu, dan material vulkanik yang keluar dari kawah menumpuk dan secara perlahan membentuk tubuh gunung.
Gunung Api Aktif yang Terus Mengalami Perubahan
Badan Geologi mengategorikan Gunung Anak Krakatau sebagai gunung api aktif tipe A. Gunung tersebut berada di perairan Selat Sunda dan masih menunjukkan aktivitas magmatik dengan tingkat intensitas yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 2026 telah menunjukkan peningkatan sejak beberapa bulan sebelum erupsi. Badan Geologi mendeteksi emisi gas sulfur dioksida atau SO2 serta anomali panas melalui pemantauan satelit sejak Juni 2026.
Setelah itu, aktivitas kegempaan dan asap kawah juga mengalami peningkatan. Kondisi tersebut mendorong kenaikan status Gunung Anak Krakatau dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026. Dengan demikian, erupsi yang terjadi pada September 2026 didahului oleh sejumlah perubahan aktivitas yang telah terpantau.
Proses Erupsi dan Pertumbuhan Gunung Api
Gunung api pada dasarnya merupakan sistem geologi yang terus bergerak. Magma dari dalam Bumi dapat naik melalui rekahan menuju permukaan. Ketika mencapai permukaan, magma berubah menjadi lava dan mengeluarkan berbagai material vulkanik.
Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar kawah. Jika proses ini berlangsung berulang kali, tubuh gunung dapat bertambah tinggi dan mengalami perubahan bentuk. Namun, aktivitas vulkanik tidak selalu membuat gunung menjadi lebih besar.
Gunung Anak Krakatau menjadi contoh bahwa proses vulkanik juga dapat menyebabkan berkurangnya bagian tubuh gunung. Pada 2018, aktivitas vulkanik menyebabkan sebagian tubuh gunung longsor ke laut. Material dalam jumlah besar yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami pada 22 Desember 2018 yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.
Potensi Bahaya Tidak Hanya Berasal dari Erupsi
Peristiwa 2018 menunjukkan bahwa bahaya Gunung Anak Krakatau tidak hanya berupa lava, abu vulkanik, atau lontaran batu. Perubahan bentuk gunung dan longsoran material ke laut juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
BMKG menyatakan bahwa longsoran material vulkanik ke laut merupakan salah satu bahaya sekunder yang dapat memicu tsunami non-tektonik. Kendati demikian, setiap erupsi tidak secara otomatis menyebabkan tsunami. Dalam kejadian erupsi terbaru, BMKG tidak mendeteksi tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami.
Potensi tsunami menjadi perhatian apabila terdapat mekanisme tertentu, terutama longsoran material gunung api dalam jumlah signifikan ke laut. Karena itu, pemantauan Gunung Anak Krakatau tidak cukup hanya dilakukan dengan mengamati tinggi kolom abu atau aktivitas letusan.
Pemantauan Berkelanjutan Tetap Diperlukan
Para ahli perlu mengamati berbagai indikator, termasuk perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, aktivitas magma, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Pemantauan tersebut penting karena Gunung Anak Krakatau masih tergolong gunung api yang relatif muda dan terus mengalami pertumbuhan.
Setiap erupsi dapat menjadi bagian dari proses pembangunan sekaligus perubahan tubuh gunung. Oleh sebab itu, setiap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi informasi penting bagi ilmuwan untuk memahami proses pertumbuhannya dan memperkirakan potensi bahaya pada masa mendatang.
Kesimpulan
Gunung Anak Krakatau terbentuk dari aktivitas vulkanik yang muncul setelah letusan besar Gunung Krakatau pada 1883. Sejak muncul ke permukaan pada 1929, gunung ini terus membangun tubuhnya melalui penumpukan lava, abu, dan material vulkanik.
Erupsi pada September 2026 memperlihatkan bahwa aktivitas gunung masih berlangsung dan dapat berubah sewaktu-waktu. Meskipun erupsi menerus berhenti pada 6 September 2026, PVMBG tetap mempertahankan status Level III atau Siaga karena potensi letusan susulan masih tinggi. Ke depan, pengamatan terhadap aktivitas magma, perubahan bentuk gunung, kemungkinan longsoran, serta kondisi laut menjadi hal penting untuk mengantisipasi berbagai risiko.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment