Remaja 15 Tahun Selamat Setelah Hampir Tiga Hari Bertahan di Kapal Terbalik di Laut Bering
Tim Penjaga Pantai Amerika Serikat (AS) berhasil menyelamatkan seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun yang bertahan hidup selama hampir tiga hari di atas kapal nelayan yang terbalik di perairan dingin Laut Bering, Alaska. Remaja tersebut menjadi satu-satunya penyintas dalam tragedi yang menewaskan dua anggota keluarganya.
Korban ditemukan dalam kondisi hidup di atas bangkai kapal, tetapi mengalami hipotermia berat. Saat ditemukan, tubuhnya menggigil hebat dan giginya terus gemetaran akibat paparan suhu dingin ekstrem. Ia berada sekitar 6,4 kilometer di sebelah timur Pulau St. Lawrence, kawasan terpencil yang berjarak sekitar 64 kilometer dari Semenanjung Chukchi, Rusia.
Remaja Bertahan di Atas Kapal yang Terbalik
Kapal nelayan yang ditumpangi korban bersama anggota keluarganya dilaporkan berangkat dari Savoonga menuju Pulau St. Lawrence pada Jumat (11/9). Kapal tersebut kemudian dinyatakan hilang setelah tidak kembali sesuai jadwal pada Minggu (13/9) pagi waktu setempat.
Dalam perjalanan tersebut, remaja berusia 15 tahun itu ditemani kakak laki-lakinya yang berusia 16 tahun serta sepupunya yang berusia 39 tahun. Namun, kedua anggota keluarganya ditemukan meninggal dunia setelah kapal mengalami kecelakaan dan terbalik di perairan Laut Bering.
Selama hampir tiga hari, korban bertahan di atas kapal yang terbalik dalam kondisi cuaca dan perairan yang sangat dingin. Situasi tersebut membuat peluang keselamatannya menjadi sangat kecil. Meski demikian, ia berhasil tetap berada di lokasi hingga tim penyelamat menemukan keberadaannya.
Helikopter Menemukan Korban pada Hari Ketiga
Helikopter Penjaga Pantai menemukan remaja tersebut pada Senin (14/9). Setelah lokasinya diketahui, tim penyelamat segera menjatuhkan rakit penyelamat untuk membantu proses evakuasi.
Kapal komersial Northwest Explorer yang berada tidak jauh dari lokasi kemudian dikerahkan untuk mengevakuasi korban dari air. Video dokumentasi memperlihatkan remaja itu mengenakan jaket berwarna kuning cerah dan berlutut di atas perahu kecil yang terbalik.
Pilot Penjaga Pantai, Letnan Komandan Jonathon Resch, mengatakan bahwa kemampuan korban untuk bertahan dalam kondisi tersebut sangat jarang terjadi. Menurutnya, kebanyakan orang tidak mampu bertahan apabila kapal terbalik dan mereka harus melewati malam di tengah perairan es.
“Orang-orang biasanya tidak mampu bertahan dalam skenario ekstrem seperti itu. Sangat jarang ada yang selamat setelah kapal mereka terbalik dan harus melewati malam di perairan es,” ujar Jonathon Resch, seperti dilansir ABC News.
Pencarian Melibatkan Banyak Lembaga
Operasi pencarian korban dilakukan dalam skala besar dan melibatkan sejumlah lembaga. Penjaga Pantai AS bekerja sama dengan Garda Nasional Udara Alaska, Kepolisian Negara Bagian Alaska, serta otoritas lokal.
Dalam operasi tersebut, tim gabungan mengerahkan armada pesawat dan helikopter untuk menyisir wilayah perairan di sekitar Pulau St. Lawrence. Upaya lintas lembaga itu akhirnya membuahkan hasil setelah keberadaan korban berhasil diketahui pada hari ketiga sejak kapal dinyatakan hilang.
Suasana haru sekaligus duka menyelimuti keluarga korban ketika mereka mendengar siaran radio mengenai proses penyelamatan. Salah satu anggota keluarga mengatakan, mereka menangis dan melompat kegirangan saat kapten kapal mengumumkan bahwa seorang anak ditemukan dalam keadaan hidup. Namun, kegembiraan itu segera bercampur kesedihan karena mereka kemudian mempertanyakan keberadaan dua anggota keluarga lainnya.
Dua Korban Tewas Telah Dievakuasi
Komandan Distrik Arktik Penjaga Pantai, Laksamana Muda Bob Little, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dua anggota keluarga korban. Ia juga mengapresiasi kerja sama seluruh tim yang terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan tersebut.
Jasad kakak korban dan sepupunya telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Sementara itu, remaja yang selamat dibawa untuk menjalani perawatan medis intensif. Perawatan tersebut diperlukan untuk membantu pemulihan kondisi fisik dan psikologisnya setelah bertahan dalam situasi ekstrem selama hampir tiga hari.
Kesimpulan
Peristiwa ini menunjukkan betapa beratnya kondisi yang dihadapi korban ketika kapal nelayan mereka terbalik di perairan dingin Laut Bering. Remaja berusia 15 tahun itu berhasil diselamatkan berkat ketahanannya serta koordinasi berbagai lembaga yang terlibat dalam pencarian.
Meski satu korban berhasil ditemukan hidup, tragedi tersebut tetap meninggalkan duka mendalam bagi keluarga karena dua anggota lainnya meninggal dunia. Fokus selanjutnya adalah memastikan penyintas memperoleh perawatan medis dan dukungan psikologis yang dibutuhkan untuk memulihkan diri dari kejadian tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment