7 Tanda Orang Pasif-Agresif yang Perlu Diwaspadai di Lingkungan Kerja
Berhadapan dengan orang yang mengatakan “enggak apa-apa”, tetapi menunjukkan sikap sebaliknya, dapat membuat seseorang merasa bingung. Situasi serupa juga bisa terjadi di lingkungan kerja, misalnya ketika rekan tampak menyetujui permintaan di depan, tetapi diam-diam menunda atau mengabaikan pekerjaan yang sudah dibicarakan.
Perilaku semacam ini dikenal sebagai sikap pasif-agresif. Menurut Verywell Mind, pasif-agresif merupakan tindakan yang terlihat biasa, netral, atau bahkan sopan, tetapi sebenarnya menyimpan agresi secara terselubung. Karena tidak disampaikan secara terbuka, perilaku tersebut sering membuat orang lain lelah, kesal, dan merasa disalahkan tanpa alasan yang jelas.
Mengenali ciri-cirinya dapat membantu seseorang merespons dengan lebih tenang dan menjaga batas dalam hubungan sosial maupun profesional. Namun, perlu diingat bahwa seseorang yang diam atau pernah menunda pekerjaan tidak otomatis dapat disebut pasif-agresif. Hal yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku yang berulang.
Tanda-Tanda Orang Pasif-Agresif
1. Memberikan Pujian yang Disertai Sindiran
Salah satu ciri pasif-agresif terlihat dari cara seseorang memberikan pujian. Ucapannya mungkin terdengar manis, tetapi di dalamnya terdapat nada merendahkan atau menyindir.
Contohnya, seorang rekan kerja memuji potongan rambut dengan mengatakan, “Wah, rambutmu bagus, aku dulu juga pernah potong model itu waktu kuliah.” Kalimat tersebut tampak seperti apresiasi, tetapi dapat dimaknai sebagai sindiran bahwa model rambut tersebut sudah tidak lagi trendi.
Pujian seperti ini kerap membuat penerimanya ragu. Di satu sisi, ucapan tersebut terdengar positif, tetapi di sisi lain terdapat pesan tersirat yang membuat tidak nyaman.
2. Mengawali Kritik dengan Pembelaan Diri
Orang pasif-agresif juga dapat dikenali dari kebiasaan menyampaikan komentar menyakitkan setelah memberikan pembelaan diri. Mereka biasanya mengawali kalimat dengan ungkapan seperti “Aku nggak mau terkesan jahat, tapi…” atau “Aku bukan mau menghakimi, tapi…”.
Setelah kata “tapi”, biasanya muncul komentar yang menusuk atau merendahkan. Pola tersebut membuat agresi seolah-olah terlihat sebagai kejujuran. Dengan cara ini, pembicara dapat menyampaikan kritik sambil berusaha menghindari kesan sebagai pihak yang menyerang.
3. Bersikap Baik di Depan, tetapi Menyabotase di Belakang
Dalam beberapa situasi, orang pasif-agresif tampak baik dan menyetujui sesuatu ketika berhadapan langsung. Namun, sikap tersebut dapat berubah ketika tidak berada di depan orang yang bersangkutan.
Contohnya adalah sengaja tidak mengabarkan teman mengenai tenggat pengumpulan tugas kuliah atau membatalkan janji untuk acara penting. Ketika ditanya, alasan yang diberikan biasanya karena lupa atau terlalu sibuk sehingga tidak sempat memberi tahu sejak awal.
Perilaku ini menyerupai sabotase karena dilakukan secara tidak langsung. Pihak yang dirugikan sering kali baru menyadarinya setelah pekerjaan terganggu atau rencana terpaksa berubah.
4. Sering Menunda Pekerjaan atau Keperluan Orang Lain
Penundaan juga menjadi salah satu perilaku yang perlu diperhatikan, terutama jika terjadi berulang kali dan berkaitan dengan kepentingan orang lain. Seseorang mungkin terlihat menyetujui permintaan, tetapi tidak segera mengerjakannya atau terus mencari alasan untuk menunda.
Menurut Your Tango, penundaan tersebut dapat menjadi cara untuk menunjukkan penolakan tanpa harus menyampaikan keberatan secara langsung. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat merusak kepercayaan serta mengganggu hubungan kerja.
5. Memosisikan Diri sebagai Korban
Alih-alih menyampaikan keinginan atau keberatan dengan terbuka, orang pasif-agresif sering menempatkan diri sebagai korban. Mereka dapat merasa bahwa orang lain terlalu menuntut, terlalu keras, atau tidak memahami dirinya.
Sikap tersebut membuat mereka seolah-olah menjadi pihak yang paling dirugikan. Pada saat yang sama, mereka dapat menghindari tanggung jawab atas kemarahan atau perilaku yang sebenarnya sedang ditunjukkan.
6. Memberikan Jawaban yang Tidak Tegas
Jawaban yang membingungkan juga dapat menjadi tanda pasif-agresif. Beberapa ungkapan yang sering digunakan antara lain “terserah”, “lihat nanti”, atau “iya, mungkin”. Jawaban tersebut tidak memberikan kepastian mengenai niat maupun keputusan yang sebenarnya.
Akibatnya, orang lain harus menebak-nebak dan berpotensi merasa frustrasi. Ketika ditanya kembali, orang pasif-agresif bahkan dapat membalikkan keadaan dengan membuat pihak lain seolah-olah salah memahami maksud pembicaraan.
7. Menghilang atau Mengungkit Jasa di Masa Lalu
Ghosting atau sengaja tidak merespons juga termasuk perilaku yang dapat muncul ketika seseorang sedang tidak suka atau merasa kesal. Mereka memilih diam, menghindar, atau menghilang tanpa memberikan penjelasan.
Selain itu, orang pasif-agresif kerap menyimpan daftar mengenai hal-hal yang pernah dilakukan untuk orang lain. Mereka juga mengingat berbagai peristiwa yang dianggap merugikan dirinya. Pada waktu tertentu, jasa tersebut dapat diungkit kembali, bersamaan dengan kesalahan orang lain, untuk menyudutkan pihak yang bersangkutan.
Kesimpulan
Sikap pasif-agresif ditunjukkan melalui agresi yang disampaikan secara terselubung, bukan secara langsung. Bentuknya dapat berupa pujian bernada sindiran, komentar yang menyakitkan, penundaan pekerjaan, jawaban tidak tegas, sikap seolah-olah menjadi korban, hingga menghilang tanpa penjelasan.
Mengenali pola tersebut penting agar seseorang dapat menjaga batas dan tidak mudah terbawa permainan emosi. Meski demikian, tidak semua orang yang diam, lupa, atau menunda pekerjaan pasti bersikap pasif-agresif. Penilaian sebaiknya dilakukan berdasarkan pola perilaku yang berulang dan dampaknya terhadap hubungan. Dengan kewaspadaan yang tepat, komunikasi di masa mendatang dapat berlangsung lebih tenang dan hubungan kerja pun dapat dijaga dengan lebih baik.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment