Iran Sampaikan Enam Syarat untuk Akhiri Perang dengan AS melalui Qatar
Teheran menyampaikan sejumlah syarat baru untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS). Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan tuntutan tersebut telah disampaikan kepada Washington melalui Qatar yang berperan sebagai mediator. Pernyataan itu disampaikan Rezaei dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada Sabtu (19/9).
Di tengah upaya diplomatik tersebut, Rezaei menegaskan bahwa Iran tetap siap menghadapi AS apabila perang berlanjut. Ia bahkan memperingatkan bahwa Iran akan memberikan perlawanan dengan kekuatan yang lebih besar serta serangan yang dinilai lebih menyakitkan.
Enam Syarat Iran untuk Mengakhiri Perang
Berdasarkan pernyataan Rezaei, Iran mengajukan enam persyaratan utama kepada AS. Tuntutan tersebut mencakup aspek militer, ekonomi, politik, serta hubungan luar negeri kedua negara.
- Mengakhiri perang di seluruh lini, terutama di Lebanon.
- Mencairkan dana Iran yang nilainya mencapai miliaran dolar AS.
- Mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Menghentikan campur tangan AS dalam urusan internal Iran.
- Mengakhiri kerja sama AS dengan pihak yang disebut Iran sebagai “para penentang revolusi”.
- Menghentikan seluruh serangan AS terhadap wilayah Iran.
Rezaei menyatakan bahwa penerimaan terhadap persyaratan tersebut justru berada dalam kepentingan Washington. Ia juga menegaskan Iran tidak takut terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump dan tetap memiliki kesiapan untuk kembali bertempur apabila diperlukan.
“Kita akan menghadapi Amerika dengan kekuatan yang lebih besar, dan dengan serangan yang lebih banyak dan lebih menyakitkan,” kata Rezaei.
Tuntutan Iran Mirip dengan MoU Juni
Syarat terbaru yang disampaikan Iran memiliki sejumlah kesamaan dengan tuntutan yang tercantum dalam nota kesepahaman atau MoU yang diteken pada Juni lalu. Dalam dokumen tersebut, Iran juga meminta penghentian perang di seluruh front, termasuk Lebanon.
MoU itu turut mencantumkan penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara dan penghentian campur tangan dalam urusan domestik. Selain itu, terdapat tuntutan agar blokade laut dihentikan serta dana Iran yang dibekukan dicairkan.
Isi Kesepakatan Juni
Kesepakatan pada Juni juga memuat rencana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS. Dalam kerangka tersebut, Iran disebut berjanji tidak membeli atau mengembangkan senjata nuklir. Teheran juga diwajibkan membuka Selat Hormuz bagi jalur pelayaran yang aman.
Di sisi lain, AS diminta memberikan pengecualian terhadap ekspor minyak mentah Iran dan sejumlah layanan lainnya. Washington juga diharuskan tidak menjatuhkan sanksi baru kepada Iran serta tidak mengerahkan tambahan pasukan AS ke kawasan tersebut.
Namun, dalam wawancara terbarunya, Rezaei tidak menyebut tuntutan ganti rugi perang dari AS yang sebelumnya pernah disampaikan Teheran. Hal ini menjadi salah satu perbedaan antara pernyataan terbaru Iran dan tuntutan yang muncul dalam pembahasan sebelumnya.
Iran dan AS Dinilai Berada dalam Kebuntuan
Peneliti senior bidang Timur Tengah dari Australian Strategic Policy Institute, Adel Abdel Ghafar, menilai penyampaian tuntutan tersebut melalui Qatar memiliki tujuan politik dan diplomatik tertentu. Menurutnya, Iran ingin mengembalikan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada Washington sekaligus menyampaikan sikapnya secara terbuka.
Abdel Ghafar menyebut langkah tersebut dilakukan setelah gagalnya MoU Islamabad. Dengan menyampaikan persyaratan melalui mediator dan ke hadapan publik, Iran dinilai berupaya memperoleh dampak maksimal dari tuntutannya.
Ia juga menilai kedua pihak kini berada dalam kondisi kebuntuan. AS masih mampu mempertahankan blokade laut dan memiliki keunggulan di udara. Namun, Washington belum berhasil membuat Iran menyerah.
Di sisi lain, Iran tidak mampu menembus blokade AS. Meski demikian, Teheran dinilai masih mempunyai pengaruh asimetris yang cukup untuk menyulitkan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.
Menunggu Respons Washington
Menurut Abdel Ghafar, Iran kemungkinan mempertimbangkan ketidakpopuleran perang serta potensi perubahan politik di AS. Ia menilai Teheran mungkin berharap pemilihan paruh waktu AS dapat mengubah situasi agar lebih menguntungkan bagi mereka.
Dengan mengumumkan tuntutan secara terbuka, Iran seolah menyerahkan keputusan berikutnya kepada Presiden Donald Trump. Langkah ini sekaligus menempatkan Washington pada posisi yang harus merespons tuntutan tersebut secara politik maupun diplomatik.
Kesimpulan
Iran telah menyampaikan enam syarat untuk mengakhiri perang dengan AS, mulai dari penghentian konflik di semua lini hingga pencairan dana dan penghapusan blokade laut. Teheran menyatakan persyaratan itu telah disampaikan melalui Qatar sebagai mediator, tetapi tetap memperingatkan bahwa Iran siap meningkatkan serangan jika perang berlanjut.
Tuntutan terbaru tersebut memiliki kemiripan dengan isi MoU pada Juni, meskipun Rezaei tidak kembali menyebut ganti rugi perang. Hingga kini, AS belum memberikan tanggapan resmi terhadap persyaratan Iran. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons Washington dan kemungkinan dibukanya kembali jalur diplomasi antara kedua negara.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment