Sering Overthinking Bisa Berkaitan dengan Penurunan Fungsi Kognitif, Ini Penjelasannya
Memikirkan kemungkinan buruk yang belum terjadi atau berulang kali mengingat pengalaman tidak menyenangkan kerap dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika pikiran negatif tersebut muncul terus-menerus dan sulit dihentikan, kondisi itu dapat berkaitan dengan perubahan pada fungsi otak.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia menemukan hubungan antara repetitive negative thinking (RNT) atau pola berpikir negatif berulang dengan penurunan fungsi kognitif. Pola tersebut juga dikaitkan dengan keberadaan dua protein yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer, yaitu amyloid dan tau.
Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang sering berpikir negatif atau mengalami overthinking pasti akan mengalami Alzheimer. Penelitian menunjukkan adanya hubungan, tetapi belum membuktikan bahwa RNT secara langsung menyebabkan penurunan kemampuan otak atau penyakit tersebut.
Apa Itu Repetitive Negative Thinking?
Repetitive negative thinking bukan sekadar perasaan pesimis, kecewa, sedih, atau sesekali memikirkan sesuatu yang buruk. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola pikiran negatif yang berulang, menetap, dan sulit dikendalikan.
Pikiran tersebut seolah terus berputar di dalam kepala. Seseorang mungkin terus mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi atau berulang kali mengingat kejadian buruk yang sudah berlalu. Dalam kondisi ini, pikiran negatif tidak mudah dilepaskan meskipun peristiwa yang dipikirkan telah selesai atau belum tentu benar-benar terjadi.
Worry dan Rumination
Dua bentuk RNT yang banyak dibahas adalah worry dan rumination. Worry merupakan kecenderungan untuk terus-menerus mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Fokusnya lebih banyak tertuju pada kemungkinan buruk di masa depan.
Sementara itu, rumination adalah kebiasaan berulang kali memikirkan kejadian negatif yang telah terjadi. Seseorang dapat terus mengingat kesalahan, kekecewaan, atau pengalaman tidak menyenangkan tanpa menemukan cara untuk benar-benar melepaskan pikiran tersebut.
Dengan demikian, persoalan utama dalam RNT bukanlah keberadaan pikiran negatif itu sendiri, melainkan sifatnya yang berulang dan sulit dihentikan.
Kaitan RNT dengan Fungsi Kognitif
Dalam penelitian tersebut, orang yang memiliki tingkat RNT lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan kognitif yang lebih cepat selama masa pengamatan. Kemampuan kognitif mencakup fungsi berpikir dan mengingat.
Perubahan tersebut diamati hingga 48 bulan atau sekitar empat tahun. Artinya, penelitian tidak hanya melihat kondisi peserta dalam satu kali pemeriksaan. Para peneliti mengikuti perubahan kemampuan kognitif peserta dari waktu ke waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang lebih sering terjebak dalam pola pikiran negatif berulang mengalami penurunan kemampuan berpikir dan mengingat secara lebih cepat dibandingkan mereka yang memiliki tingkat RNT lebih rendah.
Hubungan dengan Protein Amyloid dan Tau
Selain berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, tingkat RNT yang lebih tinggi juga berhubungan dengan lebih banyaknya deposit amyloid dan tau di sejumlah bagian otak.
Amyloid dan tau merupakan protein yang dapat menjadi penanda perubahan biologis pada penyakit Alzheimer. Dalam kondisi tersebut, protein amyloid dapat menumpuk dan membentuk plak. Sementara itu, protein tau dapat membentuk kekusutan di dalam sel saraf.
Temuan ini membuat pola berpikir negatif berulang menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan otak. Kendati demikian, hubungan antara RNT, protein amyloid dan tau, serta fungsi kognitif tidak dapat diartikan sebagai bukti bahwa RNT secara langsung menyebabkan Alzheimer.
Studi Lain Menunjukkan Temuan Serupa
Temuan tersebut juga sejalan dengan penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Psychiatry pada 2025. Studi itu menemukan adanya hubungan antara tingkat RNT dan penurunan fungsi kognitif pada orang lanjut usia.
Kesamaan hasil dari sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola berpikir negatif berulang perlu diperhatikan dalam pembahasan mengenai fungsi kognitif. Namun, penelitian-penelitian tersebut lebih banyak menunjukkan hubungan antara beberapa faktor, bukan memastikan hubungan sebab-akibat.
Tidak Semua Pikiran Negatif Menandakan Masalah Otak
Memiliki pikiran negatif sesekali bukan berarti seseorang sedang mengalami masalah pada otaknya. Rasa khawatir, kecewa, sedih, atau mengingat pengalaman buruk merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hal yang menjadi perhatian adalah ketika pikiran negatif berubah menjadi pola yang berulang, menetap, dan sulit dikendalikan. Terus-menerus mengkhawatirkan masa depan atau mengulang kejadian buruk di masa lalu merupakan contoh pola yang termasuk dalam RNT.
Karena itu, sesekali memiliki pikiran buruk merupakan hal yang berbeda dengan terus-menerus terjebak di dalamnya. Penelitian yang ada memang menunjukkan kaitan antara RNT, fungsi kognitif, serta perubahan biologis yang juga ditemukan dalam penelitian mengenai Alzheimer. Namun, hal tersebut tidak berarti setiap orang yang sering mengalami overthinking akan mengalami Alzheimer.
Kesimpulan
Pola berpikir negatif berulang atau RNT berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif yang lebih cepat serta keberadaan deposit amyloid dan tau di sejumlah bagian otak. Hubungan ini terlihat dalam penelitian dengan masa pengamatan hingga sekitar empat tahun dan didukung oleh studi lain pada orang lanjut usia.
Meski demikian, RNT belum terbukti secara langsung menyebabkan penurunan fungsi otak atau penyakit Alzheimer. Penelitian berikutnya masih diperlukan untuk memahami hubungan tersebut secara lebih mendalam. Untuk saat ini, penting membedakan antara pikiran negatif yang muncul sesekali dan pola pikiran yang terus berulang serta sulit dikendalikan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment